kumparan
22 Feb 2019 9:11 WIB

Berkunjung ke Masjid Dongsi, Masjid Tua yang Ada di Beijing

Masjid Dongsi, Masjid tua di Beijing. Foto: Marcia Audita/kumparan
Beijing memiliki sejumlah masjid tua yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya Masjid Dongsi, yang sudah dibangun sejak era peralihan Dinasti Yuan ke Ming (1368-1684).
ADVERTISEMENT
Oleh China International Publishing Group, saya dan rombongan jurnalis Indonesia-Malaysia diajak untuk menyambangi masjid yang terletak di Distrik Dongcheng tersebut.
Masjid Dongsi, Masjid tua di Beijing. Foto: Marcia Audita/kumparan
Tampak luar, masjid ini terlihat kecil dan lebih seperti kelenteng. Orang asing yang baru kali pertama menginjakkan kaki di sini, pasti tak ada yang menyadari bahwa tempat tersebut adalah masjid yang sudah dibangun sejak 800 tahun lalu. Terlebih, masjid ini terletak di deretan toko makanan dan pakaian.
Cat dinding bagian depan bangunan didominasi oleh warna merah, hijau dan abu-abu. Seluruh arsitektur bangunan, mulai dari corak, gerbang, hingga atap, kental akan ornamen China. Tak ada pula kubah di atasnya, hanya atap khas kelenteng.
Suasana Masjid Dongsi, Masjid tua di Beijing. Foto: Marcia Audita/kumparan
Setelah melewati metal detector, rombongan langsung disambut perwakilan asosiasi Islam di China, Imam Yunus dan Ali Yang Juanjun. Mereka menjadi pemandu kami berkeliling mengitari area masjid.
ADVERTISEMENT
Meski tiba di waktu Ashar, tak ada jemaah ataupun pengunjung lain yang datang. Hanya kami. "Belum waktunya salat, biasanya pasti ramai pengunjung," kata Imam Yunus.
Masjid Dongsi, Masjid tua di Beijing. Foto: Marcia Audita/kumparan
Sesampainya di dalam, kami tak langsung menemukan ruang salat. Ada halaman yang cukup besar untuk membatasi area salat dan pintu masuk. Di lapangan itu, bendera nasional China berkibar di atas tiang.
Meski dari luar tampak sempit, namun rumah ibadah tua ini memiliki beberapa area terpisah yang ternyata cukup luas. Termasuk ruang salat yang bisa menampung hingga 500 orang dan tempat salat khusus perempuan.
Suasana Masjid Dongsi, Masjid tua di Beijing. Foto: Marcia Audita/kumparan
Lokasi ruang salatnya sendiri dapat kamu temui setelah kamu melewati lapangan. Sesampainya di ruang salat, kamu akan mendapati teras beralaskan kayu yang berfungsi untuk meletakan sepatu atau alas kaki pengunjung.
ADVERTISEMENT
Begitu masuk ke aula utama, kami dibuat takjub dengan ornamen mencolok yang menyebar ke seluruh penjuru. Pilar-pilar merah dan langit-langit berbentuk kubah yang dipenuhi ukiran aksara Kufi yang membuat kami berdecak kagum. Sederhana, tapi artistik.
Bagian interior di Masjid Dongsi, Beijing. Foto: Marcia Audita/kumparan
"Lalu di bagian atap tengah ini didesain untuk membesarkan suara. Zaman dulu belum ada pengeras suara, jadi dibuat semacam itu. Seakan membuktikan kehebatan orang-orang di zaman kuno," kata Imam Yunus.
Yunus mengaku masjid Dongsi sudah berkali-kali dipugar sejak 1949, namun tetap mempertahankan struktur bangunan. Renovasi dilakukan pada tahun 1952 dan 1974.
Masjid Dongsi, Beijing Foto: Antara/Irfan Ilmie
Salah satu bangunan kecil di sudut area dibiarkan rapuh. Kata Yunus, hal itu dilakukan agar kesan kuno dan nuansa Ming masih terjaga.
ADVERTISEMENT
Setelah ke ruang salat, kami diajak ke sisi kiri. Terdapat perpustakaan kecil yang menyimpan ratusan manuskrip lama. Perpustakaan ini diberi nama 'Fuad'. Nama itu diberikan saat Kaisar mendapat hadiah buku-buku Islam dari putra Raja Fuad I.
Bagian eksterior Masjid Dongsi, Beijing. Foto: Marcia Audita/kumparan
Di dalamnya, kumpulan buku Islam dari berbagai macam dinasti dijejerkan dalam etalase. Termasuk Al-Quran tulis tangan dan buku tafsir era Dinasti Qing hingga Yuan.
Bagi kamu yang hendak ke masjid ini, kamu cukup menggunakan moda transportasi Subway dan berhenti di Stasiun Dongsi. Setelah itu, berjalan kaki sekitar 15 menit.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan