kumparan
22 Januari 2020 10:22

Cerita Burhan, WNI yang Sukses Buka Restoran Indonesia di Wellington

Restoran Indonesia di Selandia Baru
Para tamu menghadiri pembukaan restoran Indonesia di Selandia Baru, Garuda Truck & Eatery . Foto: KBRI Selandia Baru
Akhir 2018 menjadi titik baru dalam hidup Burhan (47). Kala itu dia ditantang Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya, untuk membuka restoran pertama Indonesia di negara tersebut.
ADVERTISEMENT
Tantangan itu memantik semangat dalam diri Burhan. Wajar, Burhan adalah lulusan Culinary Hospitality Art di Wellington Institute of Technology. Memasak kadung menjadi hobinya sedari dulu.
Namun, Burhan tak langsung mengiyakan tantangan tersebut. Singkatnya Burhan belum terlalu siap.
“Saya selalu bicara, iya pak tunggu ada tempat yang cocok dan waktu yang tepat,” kenang Burhan saat berbincang dengan kumparan.
Restoran Indonesia di Selandia Baru
Dubes RI untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya, bersama Burhan, saat pembukaan Garuda Truck & Eatery. Foto: KBRI Selandia Baru
Saat itu Burhan sendiri sudah punya usaha kuliner kecil-kecilan bernama Garuda Food Truck. Usaha tersebut dia rintis sejak 2013.
Sesuai namanya, tempat makan itu dirancang Burhan dengan menjadikan truk sebagai medium pelayanan. Dia menyajikan masakan Indonesia dalam jumlah terbatas, seperti nasi goreng dan mie goreng.
Garuda Food Truck pun hanya buka pada hari-hari tertentu, yakni Jumat, Sabtu, dan Minggu. Sebab, Burhan saat itu masih terikat pekerjaan di tempat lain.
ADVERTISEMENT
Kendati terbatas dari segi menu dan waktu, Garuda Food Truck mendapat sambutan hangat dari masyarakat Selandia Baru.
“Ternyata karena peminatnya banyak terutama, mie goreng. Saya masukin nasi goreng ternyata banyak juga peminatnya,” ujar Burhan.
Restoran Indonesia di Selandia Baru
Restoran Indonesia "Garuda Truck & Eatery " di Wellington, Selandia Baru. Foto: KBRI Selandia Baru
Dengan respons yang semakin positif, Burhan, memutuskan keluar dari pekerjaannya dan fokus mengembangkan Garuda Food Truck pada 2016. Dia lantas gemar mengikuti festival kuliner di banyak tempat.
Pada akhirnya, hal itu membuatnya semakin cinta dan mengenal masakan Indonesia. Semisal, bila dulu varian mie dan nasi goreng miliknya hanya satu rasa, setelah berjumpa festival tersebut, dia mulai mengenal mie goreng dengan rasa rendang, ayam, tempe atau tahu, serta nasi goreng ayam bumbu bali dan vegetarian.
ADVERTISEMENT
Baginya saat itu tidak ada pilihan lain selain mulai mengenalkan menu-menu baru tersebut di Garuda Food Truck-nya. Nama Burhan pun melambung setelah itu hingga kemudian bersua dengan Tantowi Yahya.
“Itu yang jadi semangat saya untuk membangun restoran di sini. Akhir 2019 saya menemukan tempatnya dan 2020 resmi dibuka,” jelas Burhan.
Restoran Indonesia di Selandia Baru
Peresmian restoran Indonesia "Garuda Truck & Eatery" di Wellington, Selandia Baru. Foto: KBRI Selandia Baru
Burhan mengaku, dia mendapat bantuan cukup banyak dari KBRI, mulai konsep dan interior restoran. Hal itu kemudian membuatnya merangkai sebuah misi menjadikan restorannya sebagai etalase Indonesia di sektor pariwisata dengan membuat pojok destinasi menarik di Tanah Air. Dia juga bekerja sama dengan Badan Ekonomi Indonesia di Wellington untuk menciptakan pojok pernak-pernik Indonesia.
“Jadi orang yang makan di sini bisa membaca informasi menarik wisata Indonesia. Jadi siapa tahu bisa menarik wisatawan berkunjung ke Indonesia,” harap Burhan.
ADVERTISEMENT
Burhan membuka restorannya ‘Garuda Truck & Eatery’ di 12 Majoribanks streetW, Mt Victoria, Wellington. Dia menyajikan beragam menu masakan Indonesia, seperti pastel, lumpia, soto ayam, lontong sayur, gado-gado, sate ayam, sate maranggi, ayam penyet, ayam bakar, rendang, tempe dan tahu balado bakar.
Nasi bali menjadi menu favorit, karena banyak warga Selandia Baru yang berlibur ke Pulau Dewata. Menu makanan tersebut dijual dari harga 14 dolar AS sampai 16 dolar AS atau setara Rp 191 ribu hingga Rp 218 ribu.
Restoran Indonesia di Selandia Baru
Para tamu menghadiri pembukaan restoran Indonesia di Selandia Baru, Garuda Truck & Eatery . Foto: KBRI Selandia Baru
Untuk menyajikan semua menu tersebut, Burhan dibantu oleh beberapa pekerja dari Indonesia. Sebagian adalah mahasiswa Indonesia yang mengambil kerja paruh waktu. Sementara, bahan makanan dia dapatkan dari supplier bahan masakan Indonesia di Wellington.
ADVERTISEMENT
Saat ini, Burhan, mengaku restorannya mendapat respons dari masyarakat Indonesia di Selandia Baru. Bagi mereka, restoran Burhan adalah obat penawar rindu dari segala masakan Indonesia yang tak jamak ditemukan di Selandia Baru.
Tak hanya para WNI yang gemar menyantap masakan Burhan, warga lokal Selandia Baru pun silih berganti datang ke restorannya.
“Masyarakat sini sangat suka tempe, tahu, dan gado-gado. Insyaallah makanan kita tak kalah enak dari negara lain,” kata Burhan.
“Memang kita juga kadang merasa kalah sama negara lain. Apalagi masakan Asia di sini banyak. Kalau orang mau makan masakan Indonesia biasanya ke restoran Malaysia,” lanjutnya.
Kini, setelah restorannya Garuda Truck & Eatery berjalan satu bulan, Burhan mulai bereksperimen dengan menyajikan bakso. Rencananya setiap Rabu malam siapa pun dapat menyantap bakso di tempatnya.
ADVERTISEMENT
Terkait hal itu, Burhan, memang tak menjamin akan langsung sukses dan digemari. Namun, baginya tak salah bila mulai dicoba.
“Membuat restoran di sini sebenarnya risikonya besar. Tapi karena kita pengusaha, harus mengambil risiko, kan,” tutup Burhan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan