kumparan
22 Feb 2019 11:38 WIB

Kemenpar Ungkap Strategi untuk Wujudkan Target 20 Juta Wisman di 2019

Campuhan Ridge Walk menjadi spot favorit bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Foto: Flickr/Jen Pham
Di 2019, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) kembali menargetkan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) untuk datang ke Indonesia. Beragam cara dilakukan untuk mewujudkan target ini, salah satunya adalah dengan menerapkan strategi 'shifting to the front' atau 'geser ke depan'.
ADVERTISEMENT
Deputi Pengembangan Pemasaran II Kemenpar, Nia Niscaya, menuturkan bahwa strategi ini diupayakan mampu mendorong seluruh pelaku usaha pariwisata Indonesia untuk menawarkan paket wisata yang menarik bagi wisman.
Nia Niscaya, Deputi Pengembangan Pemasaran II Kementerian Pariwisata, dalam acara Sosialisasi Promosi Pariwisata pada Media Nasional, di Katamaran Resort, Lombok, Kamis (21/2). Foto: Dok. Kementeria Pariwisata
"Strategi ini untuk mencapai target 10 juta wisman di semester pertama tahun 2019," ujar Nia, ketika ditemui kumparanTRAVEL dalam acara Sosialisasi Promosi Pariwisata pada Media Nasional, di Katamaran Resort, Senggigi, Lombok, Kamis (21/2).
Nantinya, 'shifting to the front' dikemas dalam satu program besar bernama 'super-extra ordinary'. Program ini meliputi Border Tourism, Tourism Hub, dan Low Cost Terminal (LCT) yang disiapkan sebagai senjata pamungkas untuk mewujudkan target 20 juta wisman datang ke Indonesia.
"Target 20 juta wisman memang realistis, tapi tidak mudah. Untuk itulah, kita membuat program ini agar target tersebut tercapai" tutur Nia.
Wisata cross border dengan kapal feri Foto: Salmah muslimah/kumparan
Border Tourism sendiri sengaja masuk dalam program super-extra ordinary, karena merupakan cara efektif untuk mendatangkan wisman dari negara-negara tetangga. Cara ini dianggap efektif, karena wisman dari negara tetangga memiliki kedekatan (proximity) secara geografis, sehingga mereka lebih mudah, cepat, dan murah menjangkau destinasi di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Kemudian, program Tourism Hub juga sengaja dihadirkan oleh Kemenpar sebagai strategi 'menjaring di kolam tetangga yang sudah banyak ikannya'. Maksudnya, wisman yang sudah berada di hub regional, seperti Singapura dan Kuala Lumpur ditarik untuk melanjutkan perjalanan berlibur ke Indonesia.
Ilustrasi pesawat Air Asia. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
"Salah satu persoalan pelik pariwisata kita adalah minimnya 'direct flight' dari originasi. 'Direct flight' kita misalnya dari originasi China mencapai 50 persen, artinya 50 persen lainnya masih transit dari Singapura, Kuala Lumpur, atau Hong Kong," terang Nia.
"Di Singapura jumlah wisman terbesar datang dari China, India, Korea, Jepang, dan Amerika. Kita ingin memanfaatkan ini agar mereka juga bisa berkunjung ke Indonesia, jadi seperti dual destination," lanjutnya.
Sementara itu, program Low Cost Terminal (LCT) akan diterapkan tahun depan. Program ini diharapkan mendorong pertumbuhan wisman untuk datang ke Indonesia.
ADVERTISEMENT
Pada tahun 2017, jumlah wisatawan yang datang ke Indonesia menggunakan Full Service Carrier (FSC) sebanyak 55 persen, dan sisanya 45 persen menggunakan Low Cost Carrier (LCC). Meskipun lebih tinggi, tetapi nyatanya pertumbuhan FSC rata-rata per tahun hanya 12 persen, di bawah LCC yang tumbuh rata-rata 21 persen per tahun.
Maskapai Berbiaya Hemat, Citilink Foto: Humas Citilink
"LCC adalah senjata ampuh untuk mendorong pertumbuhan jumlah wisman, di mana maskapai berbiaya rendah ini menyumbang kontribusi peningkatan kunjungan wisman sebanyak 20 persen," ujar Nia
"Nah, untuk mendorong pertumbuhan LCC, Indonesia harus mempunyai Low Cost Terminal (LCT). Hal ini merupakan salah satu penentu utama keberhasilan target 20 juta wisatawan mancanegara pada 2019," pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan