Kerap Diambil Cuma Buat Foto, Kamboja Larang Turis Petik Tanaman Penis

23 Mei 2022 8:08
·
waktu baca 2 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Kerap Diambil Cuma Buat Foto, Kamboja Larang Turis Petik Tanaman Penis (373014)
zoom-in-whitePerbesar
Tanaman penis alias kantong semar yang terlihat seperti alat kelamin pria. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Pemerintah Kamboja baru-baru ini mengeluarkan larangan bagi turis untuk tidak memetik tanaman karnivora langka Nepenthes Bokorensis, atau tanaman yang biasa disebut dengan tanaman penis karena dianggap mirip kelamin pria. Hal ini setelah banyaknya turis yang mencabut tanaman yang juga dikenal dengan kantong semar ini, sebagai alat untuk foto belaka.
ADVERTISEMENT
Dilansir Times of News, Kementerian Lingkungan dan Sumber Daya Alam Kamboja mengeluarkan larangan keras, menyusul sejumlah foto beberapa wanita yang sedang memetik tumbuhan tersebut viral di internet.
Kerap Diambil Cuma Buat Foto, Kamboja Larang Turis Petik Tanaman Penis (373015)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi turis memetik bunga. Foto: yurakrasil/Shutterstock
“Apa yang mereka lakukan itu salah dan jangan lakukan itu lagi di masa depan! Terima kasih telah mencintai sumber daya alam, tetapi jangan dipetik, (atau) mereka akan musnah!” tulis pernyataan resminya.
Larangan tersebut dikeluarkan dalam rangka melindungi tanaman itu dari kepunahan. Sebab, tanaman langka yang menyerupai alat kelamin pria ini merupakan spesies yang lebih langka.

Tanaman Langka yang Terancam Punah

Kerap Diambil Cuma Buat Foto, Kamboja Larang Turis Petik Tanaman Penis (373016)
zoom-in-whitePerbesar
Tanaman penis alias kantong semar yang terlihat seperti alat kelamin pria. Foto: Christopher Mazmanian/Shutterstock
Tanaman penis yang sebelumnya diberitakan sebagai Nepenthes Bokorensis sebenarnya diperkirakan sebagai Nepenthes Holdenii yang dinilai lebih langka.
Jeremy Holden, fotografer satwa liar lepas yang pertama kali menemukan tanaman ini dan Francois Mey, ilustrator botani, mendeskripsikan kedua spesies secara terpisah kepada Live Science.
ADVERTISEMENT
Nepenthes Bokorensis memiliki penampilan yang serupa dengan Nepenthes Holdenii. Keduanya tumbuh di pegunungan terdekat.
Hanya saja, Nepenthes Holdenii adalah spesies yang lebih langka dari kedua spesies tersebut, dan hanya sedikit peneliti yang tahu di mana menemukannya.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
"Tanaman saya (Nepenthes Holdenii) tumbuh di beberapa lokasi rahasia di Pegunungan Cardamom, di barat daya Kamboja," kata Holden.
"Nepenthes Bokorensis tumbuh di Phnom Bokor yang jauh lebih mudah diakses, yang telah mengalami pengembangan ekstensif dalam beberapa tahun terakhir," lanjutnya.

Boleh Foto Asal Jangan Dipetik

Kerap Diambil Cuma Buat Foto, Kamboja Larang Turis Petik Tanaman Penis (373017)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi turis di Kamboja. Foto: Bucha Natallia/Shutterstock
Nepenthes Holdenii merupakan spesies yang lebih langka dari spesies yang lain dan hanya sedikit peneliti yang mampu menemukannya.
Adapun tanaman ini bertahan hidup di tanah bernutrisi rendah, dan melengkapi makanan mereka dengan serangga hidup. Mereka menggunakan nektar dan aroma manis untuk menarik mangsa.
ADVERTISEMENT
Serangga kemudian memakan nektar di sekitar mulut daun tanaman yang dimodifikasi menyerupai kantong. Ketika serangga jatuh ke dalam kantong, mereka tenggelam dalam cairan dan tanaman ini bakal menyerap nutrisi mereka.
Ahli botani, Francois Mey, menjelaskan habitat alami tanaman karnivora di Kamboja telah menurun, karena ekspansi pertanian di lahan pribadi dan pertumbuhan industri pariwisata menjadi kawasan lindung.
"Kalau orang tertarik, meski lucu-lucuan, untuk berpose, berswafoto dengan tanaman, tidak apa-apa," ujar Mey.
"Hanya saja, jangan memetik kantongnya karena itu melemahkan tanaman. Sebab, tanaman membutuhkan kantong ini untuk diberi makan," pungkasnya.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020