Food & Travel
·
16 April 2021 18:16

Kisah Pilot yang Bertahan Hidup 36 Hari di Hutan Amazon Usai Pesawat Jatuh

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kisah Pilot yang Bertahan Hidup 36 Hari di Hutan Amazon Usai Pesawat Jatuh (23206)
searchPerbesar
Antonio Sena, Pilot yang tersesat 36 hari di Huta Amazon Foto: Antinio Sena/ Instagram
Selamat dalam kecelakaan pesawat adalah suatu keajaiban. Seperti yang dialami oleh seorang pilot pesawat Cessna, Antonio Sena, yang selamat setelah pesawat yang diterbangkannya jatuh di hutan Amazon.
ADVERTISEMENT
Namun, ia harus bertahan hidup seorang diri di hutan Amazon selama lebih 36 hari. Antonio mengalami kecelakaan pesawat seorang diri pada 28 Januari 2021 ketika mengirimkan bahan pokok ke kawasan tambang yang terpencil. Beruntung, ia selamat dalam insiden itu.
Dilansir Mirorr, Antonio dinyatakan hilang pada 28 Januari lalu setelah lepas landas dari Alenquer, Negara Bagian Para, di tepi utara Sungai Amazon. Sena menerbangkan pesawatnya menuju kota terdekat, Almeirim.
Namun, saat penerbangan, pesawat Cessna 210 yang ia piloti mendadak mengalami kerusakan mesin. Dia pun mendarat darurat di tempat terbuka di hutan belantara. Bagian dalam pesawatnya terbakar, namun dia selamat dan berhasil mengambil ransel, roti serta barang-barang lainnya.
Kisah Pilot yang Bertahan Hidup 36 Hari di Hutan Amazon Usai Pesawat Jatuh (23207)
searchPerbesar
Antonio Sena, Pilot yang tersesat 36 hari di Huta Amazon Foto: Antonio Sena/ Instagram
Selama terperangkap di hutan Amazon, Antonio mampu bertahan hidup dengan roti yang ia ambil di dalam pesawat. 36 hari di hutan membuat bobot tubuhnya menurun drastis dan rambutnya tumbuh lebat.
ADVERTISEMENT
Antonio menceritakan bagaimana ia menghabiskan waktu selama berada di hutan belantara bersama pesawatnya yang hancur terbakar. Tim SAR telah berupaya mencari Antonio, namun tak berhasil menemukan keberadaan pilot dan pesawat Cessna 210 yang ia tunggangi.
Setelah satu minggu terkapar di lokasi kejadian, Antonio memutuskan untuk pergi mencari bantuan. Antonio mengatakan, yang ada di pikirannya saat itu adalah mati dilahap hewan buas.
Bukan hanya khawatir menjadi santapan hewan buas, ia juga selalu memikirkan cara untuk menemukan air, makanan, dan tempat berlindung diri. Awalnya, Antonio berpikir bahwa ia akan melewati keadaan tersebut hanya beberapa hari. Namun tak disangka, ia mampu melewati peristiwa itu selama lebih satu bulan.
"Saya menyadari bahwa mereka belum menemukan saya dan bahwa saya perlu mencari cara untuk meninggalkan tempat itu dan menemukan keluarga saya lagi," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Berangkat di pagi hari, dia menggunakan cahaya fajar pertama untuk membimbingnya dalam deraan putus asa guna menemukan daerah terdekat yang ada penduduknya.
"Saya memutuskan untuk berjalan ke timur, menuju Matahari, dan saya berjalan setiap pagi sekitar dua hingga empat jam."
Meskipun Amazon adalah tempat yang berbahaya bagi siapa pun yang tiba-tiba sendirian, tanpa transportasi, atau komunikasi apa pun, Antonio telah mempelajari beberapa keterampilan yang akan memberinya kesempatan bertahan hidup.
"Saya menyelesaikan kursus pelatihan bertahan hidup di hutan karena latar belakang pilot saya," ujarnya.
Hal pertama yang dibutuhkan Antonio yang membantunya agar terampil bertahan hidup adalah makanan. Dia bertumpu pada bantuan satwa liar setempat.
"Ada buah yang belum pernah saya lihat seumur hidup saya, tetapi saya mengamati bahwa dulu kawanan monyet memakannya," katanya.
ADVERTISEMENT
Untuk memastikan buah yang akan dikonsumsi itu aman, ia mengamati apakah monyet yang memakan buah yang dimaksud itu aman atau tidak. Setelah monyet yang makan buah asing itu aman, maka Sena akhirnya mantap memakan buah asing itu.
Selain buah-buahan, Antonio pun mengkonsumsi telur. Telur biru raksasa yang ia temukan adalah telur nandu yang berasal dari burung yang tak bisa terbang di hutan Amazon. Untuk telur asing, Antonio berkeyakinan telur aman, sebab dalam pikirannya telur tetaplah telur, sumber protein.
"Jadi saya pikir jika monyet bisa memakannya, saya bisa mengkonsumsinya juga."
Setelah mengamati hewan-hewan yang ia temui, Antonio menemukan telur biru. Meskipun dia berhasil menemukan cukup makanan untuk membuat dirinya bertahan hidup dalam perjalanannya, tantangan yang dihadapinya adalah ancaman dari predator hutan Amazon yaitu jaguar, buaya atau anaconda.
ADVERTISEMENT
''Setiap kali saya berhenti dan membangun tempat berlindung, saya melakukannya di atas bukit," jelasnya.
''Itu lantaran jaguar, buaya, dan anaconda sangat erat hubungannya dengan air, jadi saya tidak pernah berkemah di samping sumber air."
Dia tahu bahwa pada siang hari kemungkinan besar dia akan diserang oleh hewan yang terkejut, bukan yang mendengarnya datang dari kejauhan. Meskipun keterampilan bertahan hidup Antonio sudah berjalan baik, dia banyak kehilangan berat badan.
Berminggu-minggu telah berlalu sejak dia meninggalkan rongsokan pesawatnya. Ia pun berhasil menemukan sekelompok kecil orang. Ia akhirnya bergabung dengan sekelompok pengumpul kacang Brasil. Karena awalnya tidak dapat melihat wujud fisik orang-orang itu, dia melacaknya dengan mengikuti jejak suaranya.
Akhirnya cobaan panjang yang menimpanya akan segera berakhir. Antonio mengungkapkan bahwa satu-satunya hal yang memotivasi dirinya bertahan hidup adalah keluarganya.
ADVERTISEMENT
"Satu-satunya hal yang memotivasi saya dan memberi saya kekuatan untuk melanjutkan, bahkan dengan rasa sakit dan kelaparan, hal itu adalah keinginan untuk melihat keluarga saya lagi," ungkapnya.
"Ketika saya akhirnya meninggalkan hutan, dan saya bertemu mereka di bandara, itu bagi saya adalah momen terbaik dalam hidup saya."
Beberapa pesawat dan helikopter telah dikirim untuk mencarinya, tetapi mereka sempat menghentikan proses pencarian beberapa minggu sebelumnya. Jika Antonio tidak berhasil keluar dari hutan hujan sendirian, dia tak akan pernah bertemu keluarganya lagi.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona).
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020