Kisah Pria yang Berhasil Selamat Setelah Numpang di Roda Pesawat Selama 11 Jam

5 Januari 2021 15:54 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi bandara  Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bandara Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Seorang pria bernama Themba Cabeka menceritakan pengalaman hidup dan matinya saat menjadi penumpang gelap di pesawat British Airways. Pria asal Afrika Selatan tersebut berhasil selamat setelah bergelantungan di roda pesawat berjam-jam.
ADVERTISEMENT
Dilansir dari News Hub, Cabeka mengungkapkan semua hal yang ia alami saat menempuh perjalanan nekat dan berbahayanya tersebut. Dia secara ilegal menaiki pesawat Boeing 747-400 milik maskapai British Airways dari Johannesburg di Afrika Selatan pada 18 Juli 2015 silam.
Ilustrasi landasan pacu bandara. Foto: Shutter Stock
Tak sendiri, perjalanan sejauh 9.000 kilometer (km) tersebut ia jalani bersama seorang teman yang bernama Carlito Vale.
Dia bersama kenalannya menumpang pesawat itu dengan mengikatkan diri di bagian roda. Sayangnya, Vale jatuh dan meninggal dunia satu menit sebelum pesawat mendarat. Saat itu, pesawat ada di ketinggian 1,5 kilometer (km) dari permukaan tanah.
Tubuhnya ditemukan di unit pendingin udara blok kantor, 6 mil atau 9,6 km dari Bandara Heathrow .
Cabeka juga tidak baik-baik saja setelah pesawat itu berhasil mendarat di Inggris. Ia pingsan karena suhu udara yang sangat dingin, mencapai minus 60 derajat celsius dan kekurangan oksigen.
ADVERTISEMENT
Akibat tindakannya tersebut, Cabeka harus menghabiskan waktu berbulan-bulan dalam keadaan koma hingga kemudian bangun. Saat itulah dia mengetahui kematian temannya yang menyedihkan.
Bandara Heathrow di London, Inggris Foto: Pixabay
Identitas Themba, sebagai penumpang gelap pesawat, terungkap untuk pertama kalinya dalam film dokumenter Channel 4 berjudul 'The Man Who Fell From The Sky'. Film itu mengisahkan bagaimana mereka bersembunyi di roda pendaratan pesawat dalam keputusasaan untuk mencapai Inggris.
"Ketika pesawat itu terbang, saya dapat melihat tanah, saya dapat melihat mobil-mobil, saya dapat melihat orang-orang yang tampak begitu kecil," kata Themba, seperti dikutip dari Mirror.
"Setelah beberapa lama, saya pingsan karena kekurangan oksigen. Hal terakhir yang saya ingat setelah pesawat lepas landas adalah Carlito berkata kepada saya: 'Ya, kita berhasil'," lanjutnya.
ADVERTISEMENT

Awal Perjalanan Ilegal Mereka

Sebelum memulai perjalanan tersebut, Themba bertemu Carlito di klub malam Johannesburg. Mereka kemudian merencanakan perjalanan ilegal ke Inggris dan tinggal di sebuah perkemahan dekat Bandara Johannesburg.
"Bandara dijaga ketat, jadi kami melompati pagar ketika hari sudah gelap. Kami berpakaian hitam agar tidak ada yang melihat kami," katanya.
Ilustrasi roda pesawat. Foto: Shutter Stock
Mereka kemudian bersembunyi selama 15 menit menunggu pesawat siap lepas landas. Themba dan Carlito sengaja menghindari pesawat yang menuju AS, karena tidak ingin terbang di atas lautan luas.
"Kami harus memaksakan diri untuk masuk ke dalam. Saya bisa mendengar mesin menyala. Hati saya telah berdebar-debar sebelumnya, tetapi hari itu sama sekali tidak ada dalam pikiran saya, karena saya baru saja mengambil keputusan untuk melakukannya," ujar Themba.
Themba Cabeka, pria yang berhasil selamat setelah bergelantungan di roda pesawat. Foto: Postcards Production
"Saya tahu betapa berbahayanya, tetapi saya mengambil risiko sendiri. Saya tidak peduli apakah saya hidup atau mati. Saya harus meninggalkan Afrika untuk bertahan hidup," sambungnya.
ADVERTISEMENT
Dia mengikat dirinya ke pesawat dengan kabel listrik melilit lengannya. Para ahli penerbangan mengatakan penumpang gelap pesawat bisa bertahan hidup pada situasi itu jarang terjadi.
Ada seratusan upaya penumpang gelap di seluruh dunia, tetapi hanya dua penumpang gelap yang melakukan perjalanan berbahaya ke Inggris.
Selain Themba, satu penumpang gelap lain yang selamat adalah Pardeep Saini, mekanik mobil dari Punjab, India. Dia menjadi penumpang gelap selama sepuluh jam dari Delhi ke London pada tahun 1996 silam.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)