Food & Travel
·
14 Februari 2020 16:01

Lantai 9 dan 10 Candi Borobudur Alami Kerusakan, Pengunjung Dilarang Masuk

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Lantai 9 dan 10 Candi Borobudur Alami Kerusakan, Pengunjung Dilarang Masuk (230925)
Suasana di Candi Borobudur. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Terhitung sejak Kamis (13/2), lantai 9 dan 10 Candi Borobudur ditutup untuk umum. Seperti diberitakan Antara, penutupan tersebut dimaksudkan untuk monitoring dan evaluasi terhadap kerusakan yang terjadi.
ADVERTISEMENT
Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB) Tri Hartono, mengatakan bahwa ada kerusakan yang terjadi di lantai 9 dan 10.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, lantai 9 dan 10 Candi Borobudur mengalami kerusakan hingga hampir 30 persen. Sementara itu, tangga naik menuju kawasan tersebut mengalami kerusakan hampir 40 persen.
"Kerusakannya bermacam-macam, keausannya ada yang hanya satu milimeter, ada yang 2 cm, bahkan ada yang 4 cm," katanya ketika ditemui Antara di Magelang, Kamis (13/2).
Lantai 9 dan 10 Candi Borobudur Alami Kerusakan, Pengunjung Dilarang Masuk (230926)
Sejumlah wisatawan berada di lantai delapan Candi Borobudur di Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (13/2). Foto: ANTARA FOTO/Anis Efizudin
Tri juga menjelaskan bahwa monitoring yang dilakukan selama penutupan dilakukan untuk menjaga bagian paling suci, terutama di stupa induk dan Arupadatu bisa lebih terawat. Akibat penutupan ini, kunjungan untuk sunrise dan sunset juga akan ditiadakan hingga waktu yang belum ditentukan.
ADVERTISEMENT
"Kalau kerusakan dibiarkan terus-menerus, kita akan kehilangan satu warisan budaya yang berarti bagi bangsa Indonesia. Kita berharap warisan ini bisa tersambungkan ke generasi yang akan datang," ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa meski lantai 9 dan 10 Candi Borobudur ditutup untuk umum, kawasan itu tetap akan terbuka bagi masyarakat yang ingin melakukan ritual keagamaan. Begitu pula untuk tamu-tamu kenegaraan yang datang berkunjung.
Lantai 9 dan 10 Candi Borobudur Alami Kerusakan, Pengunjung Dilarang Masuk (230927)
Petugas Balai Konservasi Borobudur menunjukkan papan larangan untuk naik ke lantai 9 dan 10 Candi Borobudur. Foto: ANTARA/Heru Suyitno
Berdasarkan penuturan Tri Hartono, penelitian pada tahun 2008-2009 menemukan bahwa tangga batu terkikis setebal 0,2 cm per tahun, apabila Candi Borobudur didatangi 2 juta orang setiap tahunnya.
Mengacu pada data itu, maka bisa diperkirakan akan ada pengikisan sebanyak 2 cm pada tangga batu dalam kurun waktu 10 tahun. Kenyataannya, pengunjung Borobudur kini sudah mencapai angka 4 juta per tahunnya. Yang berarti, keausan tangga akan jadi lebih cepat.
ADVERTISEMENT
Selain kerusakan dan keausan, Candi Borobudur rupanya kerap juga dijahili tangan-tangan pengunjung yang tak bertanggung jawab. Terbukti ada ribuan permen karet yang menempel di stupa teras atau stupa induk yang berada di lantai 7-10.
Noda bekas permen karet itu baru dapat kamu lihat jika memperhatikannya secara seksama. Noda itu berbentuk bulat dan berwarna putih. Hary Setiawan, Koordinator Pokja Pengamanan Balai Konservasi Borobudur mengatakan bahwa ada 3 ribu noda permen karet yang secara berangsur-angsur dihilangkan.
Lantai 9 dan 10 Candi Borobudur Alami Kerusakan, Pengunjung Dilarang Masuk (230928)
Petugas Balai Konservasi Borobudur menunjukkan salah satu noda permen di batuan Candi Borobudur akibat ulah pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Foto: ANTARA/Heru Suyitno
Ulah pengunjung yang menempelkan permen karet secara sembarangan saat bertandang diakui Hary sangat sulit dikendalikan. Sebab, tidak mungkin para petugas yang berjaga memeriksa mulut para pengunjung hanya untuk mengontrol kondisi ini.
Sayangnya, ulah pengunjung yang membiarkan permen karet mereka tertinggal begitu saja di bangunan Borobudur membuat Situs Warisan Dunia UNESCO itu jadi rusak. Noda permen karet tak bisa dibersihkan dengan mudah dan dalam pembersihannya bisa membuat kerusakan baru di tubuh candi.
ADVERTISEMENT
"Secara mekanik itu sangat susah, disikat dengan air susah sekali dan membutuhkan waktu yang lama. Padahal kalau terlalu lama menyikat, malah batunya rusak atau aus. Metode menghilangkannya harus hati-hati sekali, supaya tidak merusak batunya, termasuk jika menggunakan pelarut bahan kimia," pungkas Hary menutup pembicaraan.