Food & Travel
·
7 Desember 2020 9:09

Libur Akhir Tahun Dipangkas, PHRI: Okupansi Hotel di Jogja Diprediksi Tembus 90%

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Libur Akhir Tahun Dipangkas, PHRI: Okupansi Hotel di Jogja Diprediksi Tembus 90% (30415)
Ilustrasi kamar hotel. Foto: Pixabay
Meski pemerintah memangkas libur akhir tahun, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) optimistis okupansi hotel pada libur akhir tahun akan meningkat.
ADVERTISEMENT
Ketua DPD PHRI DIY Deddy Pranawa Eryana, memprediksi okupansi hotel di Jogja pada libur akhir tahun bisa mencapai 90 persen.
Libur Akhir Tahun Dipangkas, PHRI: Okupansi Hotel di Jogja Diprediksi Tembus 90% (30416)
Ilustrasi tamu hotel bersantai di sofa Foto: Shutter Stock
“Perlu dicatat bahwa angka 90 persen ini bukan dari total kamar yang ada di sebuah hotel, tetapi dari total kamar yang diizinkan untuk dioperasionalkan pada masa pandemi yaitu 70 persen dari total kamar,” kata Deddy, seperti dikutip dari Antara, Senin (7/12).
Deddy menambahkan, puncak kenaikan okupansi tersebut diperkirakan terjadi pada 28 Desember hingga 2 Januari 2020. Adapun, grafik kenaikan tamu untuk libur panjang akhir tahun sudah akan terjadi sejak 20 Desember.
Deddy mengatakan optimisme yang cukup tinggi tersebut disebabkan berbagai faktor, di antaranya masyarakat juga tetap membutuhkan waktu untuk berlibur pada masa pandemi COVID-19.
ADVERTISEMENT
“Banyak wisatawan yang menyampaikan bahwa berlibur tetap diperlukan. Sehat tidak hanya sehat jasmani tetapi sehat rohani dengan cara berlibur melepaskan penat,” katanya.
Libur Akhir Tahun Dipangkas, PHRI: Okupansi Hotel di Jogja Diprediksi Tembus 90% (30417)
Ilustrasi kamar hotel mewah Foto: Shutter Stock
Lebih lanjut, Deddy mengatakan tamu yang menginap di hotel di DIY masih didominasi wisatawan yang berasal dari Pulau Jawa. Paling banyak berasal dari Jawa Tengah, baru kemudian Jawa Barat, Jawa Timur, dan DKI Jakarta.
“Tetapi ada juga tamu dari luar Pulau Jawa seperti dari Lampung juga cukup banyak, Sumatera Selatan, dan Sumatera Barat serta dari Kalimantan Timur,” ungkap Deddy.
Ia pun memastikan bahwa seluruh pelaku usaha hotel dan jasa akomodasi pariwisata akan menerapkan protokol kesehatan secara ketat saat melayani tamu, guna mencegah potensi penularan COVID-19, baik ke tamu maupun ke karyawan hotel dan restoran.
ADVERTISEMENT
“Kami belajar banyak dari pengalaman menerima tamu sejak Agustus hingga Oktober. Pada saat itu masih banyak tamu yang merasa sudah nonreaktif dari hasil rapid test lalu tidak menjalankan protokol kesehatan yaitu tidak pakai masker,” lanjutnya.
Untuk itu, sesuai protokol yang berlaku, jika tamu tidak memakai masker, maka akan diingatkan untuk memakainya dan mematuhi protokol kesehatan lainnya.
“Jika masih tidak patuh, maka kami tidak akan menerimanya sebagai tamu,” pungkasnya.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)