Kumparan Logo
Tradisi perang ketupat di Bangka Belitung
Tradisi perang ketupat di Desa Tempilang, Kabupaten Bangka, Bangka Belitung.

Perang Ketupat, Tradisi Unik Menyambut Ramadhan di Bangka Belitung

kumparanTRAVELverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tradisi perang ketupat warga Desa Tempilang Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam menyambut puasa Ramadhan 1443 Hijriyah di Pantai Kuning, Senin (28/3/2022). Foto: Diskominfo Babel/HO ANTARA
zoom-in-whitePerbesar
Tradisi perang ketupat warga Desa Tempilang Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam menyambut puasa Ramadhan 1443 Hijriyah di Pantai Kuning, Senin (28/3/2022). Foto: Diskominfo Babel/HO ANTARA

Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi unik yang berbeda-beda dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Kalau ketupat biasanya identik dengan Hari Raya Lebaran, di Desa Tempilang, Kabupaten Bangka, Bangka Belitung, ketupat menjadi salah satu bagian tradisi untuk menyambut Ramadhan.

Para penduduk di Desa Tempilang akan menggelar tradisi Perang Ketupat dalam menyambut Ramadhan. Dilansir laman resmi kebudayaan.kemdikbud.go.id, digelarnya tradisi ini bertujuan untuk meminta keselamatan dan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Tradisi perang ketupat di Desa Tempilang, Kabupaten Bangka, Bangka Belitung. Foto: Diskominfo Bangka Belitung/HO ANTARA

Hal itu juga diungkapkan oleh Ketua Adat Tempilang yang bernama Keman.

"Perang ketupat ini bertujuan agar kampung menjadi aman dan terhindar dari hal-hal buruk," katanya seperti dikutip Antara.

Tradisi Perang Ketupat dilaksanakan pada minggu ketiga di bulan Sya’ban. Simbol dan makna dalam tradisi Perang Ketupat adalah ketupat yang mempunyai makna persatuan, kesatuan, kesadaran, dan kegotongroyongan; sesaji yang mempunyai makna satu kekeluargaan dalam kehidupan bermasyarakat sehingga terciptanya kehidupan bersama.

Awal Mula Tradisi Perang Ketupat

Ilustrasi ketupat Foto: Shutter Stock

Asal mula tradisi ini adalah pada zaman dahulu, di Desa Tempilang banyak anak gadis yang diambil dan dimakan siluman buaya. Kondisi Desa Tempilang pada saat itu sangat mencekam dan sebagian masyarakat merasa ketakutan.

Untuk mengatasi masalah tersebut lalu beberapa berinisiatif untuk mengadakan ritual secara bersama-sama untuk mencegah terjadinya musibah yang lebih besar lagi. Dalam perkembangan selanjutnya ritual tersebut oleh masyarakat Desa Tempilang yang dinamakan tradisi Perang Ketupat.

Adapun, ada beberapa prosesi dalam tradisi ini di antaranya yaitu prosesi nganyot perae atau menghanyutkan perahu dengan makna untuk memulangkan tamu-tamu makhluk halus yang datang ke Desa Tempilang terutama yang bermaksud jahat agar tidak mengganggu masyarakat desa.

Kemudian, ada prosesi ngancak yaitu pemberian makanan kepada makhluk halus yang dipercayai bermukim di laut agar mereka tidak mengganggu aktivitas nelayan pada saat pergi melaut. Selain itu, ada prosesi penimbongan yaitu pemberian makanan kepada makhluk halus yang dipercayai bermukim di darat agar mereka tidak mengganggu masyarakat setempat.

Ada prosesi ngancak yaitu pemberian makanan kepada makhluk halus yang dipercayai bermukim di laut agar mereka tidak mengganggu aktivitas nelayan pada saat pergi melaut. Selain itu, ada prosesi penimbongan yaitu pemberian makanan kepada makhluk halus yang dipercayai bermukim di darat agar mereka tidak mengganggu masyarakat setempat.

Upacara Perang Ketupat bisa juga dikategorikan sebagai ritual selamatan. Selamatan berasal dari bahasa Arab yang artinya selamat, sentosa, lepas dari bahaya. Sedangkan fungsi dari tradisi Perang Ketupat secara garis besar adalah sebagai kebersamaan sosial dan aset pariwisata.

Wakil Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Abdul Fatah, mengatakan perang ketupat untuk menyambut bulan suci Ramadhan kembali digelar di Desa Tempilang setelah selama dua tahun berturut-turut tradisi itu tidak bisa dilaksanakan karena pandemi COVID-19.

"Alhamdulillah tahun ini perang ketupat kembali digelar setelah dua tahun tradisi warga daerah ini tertunda karena COVID-19," katanya saat membuka acara perang ketupat di Tempilang, Senin (28/3).

Ia mengemukakan pentingnya peran para generasi muda dalam upaya pelestarian budaya daerah, termasuk tradisi menyambut Ramadhan dengan perang ketupat.

"Penting bagi generasi muda untuk ikut serta melestarikan budaya agar perang ketupat ini dapat dikenal di tingkat global," katanya.

Sementara itu, Bupati Bangka Barat Sukirman menyampaikan terima kasih kepada pemerintah provinsi, perusahaan, dan perorangan yang membantu penyelenggaraan perang ketupat.

"Tanpa adanya dukungan moril dan materiil ini, perang ketupat belum tentu dapat terlaksana," katanya.