Food & Travel
·
3 November 2020 7:03

Studi Harvard: Naik Pesawat Lebih Aman Daripada Belanja dan Makan di Restoran

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Studi Harvard: Naik Pesawat Lebih Aman Daripada Belanja dan Makan di Restoran (260773)
Ilustrasi penumpang mengecek jadwal keberangkatan pesawat Foto: Shutter Stock
Sebuah studi baru yang dirilis Universitas Harvard pada Selasa, 27 Oktober lalu menyebut sistem ventilasi khusus di pesawat bisa menyaring 99 persen virus di udara. Studi yang dilakukan para peneliti dari Harvard T. H. Chan School of Public Health tersebut menyimpulkan bahwa risiko paparan virus corona baru selama penerbangan sangat rendah.
ADVERTISEMENT
Dilansir CNN, para peneliti mengungkapkan bahwa meskipun udara disirkulasikan kembali ke kabin, tapi udara yang masuk sudah melalui filter berkualitas tinggi. Dan droplet atau tetesan virus dari satu penumpang tidak mungkin menginfeksi penumpang lain karena aliran udaranya "ke bawah".
"Ventilasi ini secara efektif menjadi solusi para penumpang yang memikirkan harus menjaga jarak," tulis laporan mereka, sebagaimana dikutip dari CNN.
Studi Harvard: Naik Pesawat Lebih Aman Daripada Belanja dan Makan di Restoran (260774)
Stiker berbentuk segitiga yang ada di pesawat. Foto: Shutter Stock
Dalam penelitian tersebut, peneliti Harvard menggunakan model komputer untuk memeriksa aliran udara di kabin pesawat, dan mereka akhirnya menyimpulkan bahwa sistem ventilasi khusus di dalam pesawat mampu menyaring 99 persen virus di udara.
Namun, sistem ventilasi yang aman saja tidak cukup untuk mencegah penyebaran droplet. Peneliti Harvard menekankan pentingnya masker untuk menjaga kesehatan para penumpang.
ADVERTISEMENT
Selain itu, peran disinfeksi pesawat secara berkala dan prosedur pengetesan gejala COVID-19 sebelum boleh memasuki pesawat juga tak boleh luput.
"Pendekatan berlapis dengan ventilasi gerbang ke gerbang, mengurangi risiko penularan SARS-CoV-2 di dalam pesawat. Tingkat risikonya lebih rendah di bawah aktivitas rutin lain selama pandemi seperti berbelanja bahan makanan atau makan di restoran," tulis studi tersebut.
Studi Harvard: Naik Pesawat Lebih Aman Daripada Belanja dan Makan di Restoran (260775)
Ilustrasi awak kabin memeriksa penumpang pesawat Foto: Shutter Stock
Pemodelan komputer pada studi yang digelar Harvard itu sejalan dengan studi terbaru lain. Studi dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) misalnya, mereka menggunakan boneka rancangan yang dilengkapi dengan masker bedah dan peralatan deteksi partikel pada jet Boeing 767 dan 777. Hasilnya, tidak banyak ditemukan risiko penularan berkat masker dan ventilasi udara yang efisien.
Mayoritas pesawat memiliki nilai tukar udara kira-kira setiap tiga menit dan 75 persen berasal dari luar pesawat, yang berarti hanya 25 persen udara kabin yang disirkulasi ulang. Hanya perlu enam menit untuk menyaring 99,99 persen partikel dari kabin.
Studi Harvard: Naik Pesawat Lebih Aman Daripada Belanja dan Makan di Restoran (260776)
Ilustrasi bangku pesawat Foto: Unsplash/Clique Images
Dalam kasus lain, 328 penumpang dan awak pesawat dites virus corona setelah terungkap bahwa penerbangan 31 Maret dari Amerika Serikat ke Taiwan telah membawa dua belas penumpang yang menunjukkan gejala virus corona. Tetapi ketika hasil tes keluar, semua penumpang dan awak lainnya dinyatakan negatif.
ADVERTISEMENT
Peluang tertular
Di sisi lain, sebuah studi yang dirilis oleh para peneliti Irlandia menunjukkan apa yang betul-betul bisa menularkan virus COVID-19. Bahkan ketika protokol kesehatan secara ketat telah dilakukan.
Melalui penelusuran kasus, pejabat kesehatan masyarakat di Dublin dan kota-kota lain menemukan 13 kasus yang berasal dari satu penumpang dalam penerbangan internasional pada musim panas ini. Padahal tak satu pun dari para pelancong yang satu pesawat dengan dia, tak memakai masker. Lantas, dari mana penyebarannya?
Studi Harvard: Naik Pesawat Lebih Aman Daripada Belanja dan Makan di Restoran (260777)
Ilustrasi pesawat terbang. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
"Kemungkinan paparan kasus tersebut terjadi selama transfer penumpang semalam atau malah sebelum penerbangan yang tidak diketahui sebelum penerbangan dimulai," kata para peneliti.
Dalam penelitian tersebut menyebut satu orang yang terinfeksi COVID-19 itu kemungkinan besar tertular dari anggota keluarganya. Sementara ada yang tertular saat menghabiskan waktu transit selama beberapa jam di area bandara.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, para peneliti Irlandia merekomendasikan pihak berwenang untuk meningkatkan pelacakan kontak fisik. Sementara ilmuwan Harvard mendorong orang-orang sebisa mungkin tidak melepas masker ketika sedang berada dalam penerbangan.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona).