Food & Travel15 September 2020 13:02

Survei: Masyarakat Indonesia Anggap Naik Pesawat Saat Pandemi Masih Berbahaya

Konten Redaksi kumparan
Survei: Masyarakat Indonesia Anggap Naik Pesawat Saat Pandemi Masih Berbahaya (205859)
ilustrasi penumpang pesawat Foto: shutterstock
Ancaman pandemi virus corona membuat kekhawatiran masyarakat akan bepergian menggunakan transportasi umum, termasuk pesawat terbang. Hal ini lantaran masyarakat Indonesia menganggap melakukan penerbangan di masa pandemi rentan terpapar virus COVID-19.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menunjukkan sebagian masyarakat masih menganggap cukup berbahaya melakukan penerbangan saat pandemi COVID-19.
"Sebagian besar mereka mengatakan naik pesawat masih berbahaya," kata Ketua MTI Wilayah Sumatera Barat Purnawan, seperti dikutip dari Antara.
Survei: Masyarakat Indonesia Anggap Naik Pesawat Saat Pandemi Masih Berbahaya (205860)
Calon penumpang berjalan di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (9/7/2020) Foto: ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO
Purnawan menjelaskan survei tersebut diikuti oleh 193 responden usia aktif dan terdapat 55 responden yang menggunakan pesawat selama masa pandemi. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar responden yang menggunakan pesawat saat pandemi COVID-19 untuk tujuan tugas kantor sebanyak 47,3 persen dan urusan keluarga sebanyak 41,8 persen.
"Sebagian besar responden yang menggunakan pesawat karena tidak ada pilihan lain, misalnya karena tugas jadi harus cepat," katanya.
Survei: Masyarakat Indonesia Anggap Naik Pesawat Saat Pandemi Masih Berbahaya (205861)
Sejumlah penumpang menggunakan masker saat beada di dalam kabin pesawat Lion Air. Foto: Lion Air
Selain itu, sebanyak 70,9 persen responden menganggap persyaratan dokumen kesehatan seperti tes cepat (rapid test) dan swab/PCR dapat mempersulit mereka ketika bepergian.
ADVERTISEMENT
"Apa yang membebani mereka, dari berbagai pertanyaan itu adanya surat keterangan bebas COVID-19 meskipun tidak mayoritas, tapi itu ada beban di situ. Biaya dan sebagainya tidak jadi masalah," katanya.
Lebih lanjut, Purnawan menambahkan bahwa penumpang juga masih merasa tidak yakin tidak akan tertular COVID-19 di bandara dan di atas kabin. Di sisi lain, menurut data yang disebutkan Purnawan, penumpang pesawat yang membawa surat bebas terkena COVID-19 sebesar 63,6 persen.
"Mereka masih tidak yakin mereka merasa aman naik pesawat meskipun membawa surat bebas COVID-19," katanya.
Survei: Masyarakat Indonesia Anggap Naik Pesawat Saat Pandemi Masih Berbahaya (205862)
Ilustrasi pramugari layani penumpang pesawat Foto: Shutter stock
Selain itu, responden yang terlibat dalam penelitian ini juga menilai bagian yang berpotensi terkena virus COVID-19 saat melakukan penerbangan. Dari penelitian tersebut, 38,1 persen penumpang menganggap risiko tertinggi tertularnya COVID-19 berada di dalam pesawat.
ADVERTISEMENT
Kemudian diikuti saat antrean masuk bandara sebesar 14,4 persen, ruang tunggu sebelum naik pesawat sebesar 12,9 persen, antrean naik turun pesawat sebesar 12,9 persen, dan sisanya di antrean saat lapor diri atau check in tiket.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional (Inaca) Denon Prawiraatmadja, menuturkan pemerintah sudah mengeluarkan aturan protokol kesehatan, termasuk di sektor penerbangan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
"Saya pikir ini penting sekali bukan hanya sekadar untuk disampaikan pada pelaku industri, tapi pemahaman ini yang menjadi paling penting untuk masyarakat itu sendiri," ujar Denon Prawiraatmadja.
Survei: Masyarakat Indonesia Anggap Naik Pesawat Saat Pandemi Masih Berbahaya (205863)
Calon penumpang pesawat duduk menanti jadwal pesawat di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, Kamis (9/7/2020). Foto: ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA FOTO
Menurut dia, di dalam kabin pesawat sirkulasi udara cukup sehat dengan adanya HEPA filter, di mana apabila dibandingkan dengan ruang gawat darurat di rumah sakit, pergantian udaranya cukup cepat yakni hanya dua hingga tiga menit.
ADVERTISEMENT
"Kalau di RS ICU mungkin HEPA-nya lima sampai enam menit pergantian udaranya sementara di pesawat itu dua hingga tiga menit. Ini yang kami kampanyekan di dalam industri melalui masyarakat, sehingga masyarakat percaya bahwa menggunakan transportasi udara ini cukup aman dari sisi penghentian penularan COVID-19" kata Denon.
Denon menyebutkan hanya ada tiga kasus di seluruh dunia di mana penularan diduga terjadi di dalam pesawat.
"Tapi itu pun belum terbukti bahkan di studi MIT pada Januari ada satu penumpang yang teridentifikasi COVID-19 positif terbang dari Wuhan ke Toronto, Kanada, tanpa ada satu penumpang lain pun yang tertular di dalam pesawat," pungkasnya.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona).
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white