Untitled Image

3 Perempuan Inspiratif Singapura yang Sukses Bangun Bisnis Sesuai Passion-nya

11 Mei 2021 13:28
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
3 Perempuan Inspiratif Singapura yang Sukses Bangun Bisnis Sesuai Passion-nya (24140)
zoom-in-whitePerbesar
Lebih dari setahun kita hidup berdampingan dengan pandemi tentu bukanlah hal yang mudah. Agar bisa tetap bertahan hingga situasi kembali pulih, kita pun harus bisa cepat beradaptasi, begitu juga dengan para pelaku bisnis.
Kondisi yang tidak jauh berbeda juga dialami oleh tiga entrepreneur perempuan asal Singapura ini. Mereka adalah pebisnis dan make up artist kenamaan Singapura, Fatimah Mohsin; Oniatta Effendi yang lama berbisnis batik; dan pemilik restoran chinese food halal, Denise Deanna.
Meski telah merintis usaha bertahun-tahun lamanya, merebaknya virus corona membuat mereka harus menghadapi kondisi yang penuh tantangan. Apalagi di awal pandemi, hampir seluruh aktivitas dibatasi secara ketat.
Namun bukannya menyerah, berbagai tantangan tersebut justru menjadi titik balik mereka untuk terus berinovasi memberikan produk terbaik kepada pelanggan setianya. Hasilnya, ketiga perempuan inspiratif ini pun bisa tetap bertahan, bahkan makin mengembangkan bisnisnya di tengah berbagai keterbatasan ini.
Di program Muslimah Creative Stream Fest (MCSF) 2021 bertema 'Berdaya dan Berkarya dari Rumah' yang diadakan pada 22-25 April 2021 lalu, mereka pun berkesempatan untuk berbagi cerita perjalanan bisnisnya. Yuk, simak kisahnya di bawah ini.

Fatimah Mohsin, womenpreneur yang selalu gigih mengejar passion

Bagi sebagian besar orang Singapura, nama Fatimah Mohsin mungkin sudah tidak asing lagi. Aktif menekuni bisnis sejak 20 tahun lalu, perempuan berhijab ini dikenal sebagai pemilik beberapa bisnis seperti Fatimah Mohsin The Wedding Gallery, bisnis dekorasi rumah Propupstore, hingga restoran yang khusus menyajikan menu khas Thailand halal bernama 555 Halal Thai.
Dengan latar belakang pendidikan desain dan background sebagai seorang visual merchandiser, ia kemudian memutuskan untuk masuk ke dunia tata rias khusus pengantin. Tidak ada kata malu di kamus Fatimah, karena menurutnya pengetahuan formal tentang bisnis saja tidak cukup. Berinteraksi dengan orang lain sambil memperkenalkan bisnisnya menjadi kunci agar produk atau jasa yang kita jajakan semakin dikenal.
“Saya banyak bersosial, jadi ke mana-mana say hi di setiap acara yang saya datangi. Tidak hanya di Singapura, tapi saat di Malaysia hingga Indonesia. Jadi menurut saya, berbisnis itu harus banyak membangun interaksi. Apalagi saat ini ada media sosial, kita bisa berinteraksi dengan customer,” ungkapnya melalui sesi bincang Muslimah Creative Fest 2021 di Shopee Live, (25/4).
Tak pernah lelah memperluas jaringan demi memperoleh klien baru sekaligus mengasah kemampuan meriasnya, kerja keras Fatimah pun akhirnya membuahkan hasil hingga kini memiliki wedding gallery sendiri bernama Fatimah Mohsin The Wedding Gallery.
Meski telah memiliki wedding gallery, Fatimah tidak lantas cepat puas. Lima belas tahun berselang sejak merintis bisnis perdananya, ia membuka bisnis home decor dengan nama Propupstore yang menyediakan perabot dan dekorasi unik untuk rumah.
Menariknya, ternyata bisnis ini awalnya hanya digelar setiap bulan Ramadhan hingga mendekati Hari Raya. Namun semakin banyaknya permintaan akhirnya membuat Fatimah membuka bisnis keduanya ini sepanjang tahun. Bahkan ia mengaku, meski pandemi melanda, Propupstore tidak mengalami dampak yang berarti.
“Jadi awalnya itu seasonal setiap Ramadhan karena orang suka menghias rumahnya saat akan Lebaran. Dan setelah dua tahun membukanya secara seasonal, ternyata demand-nya banyak dan pelanggan saya meluas, bahkan hingga dari Australia,” terangnya antusias.
Masih belum puas, Fatimah memberanikan diri untuk melebarkan sayapnya ke bisnis kuliner melalui restoran 555 Halal Thai yang kental akan nuansa tropis khas Negeri Gajah Putih. Dalam bahasa Thailand, 555 berarti adalah ‘hahaha’ yang merupakan harapan Fatimah agar seluruh pelanggan yang datang bisa merasa senang di restorannya.
Baru dibuka lima bulan lalu, bisa dibilang ini adalah salah satu keputusan berani Fatimah untuk membuka bisnis di tengah gempuran virus corona. Namun ia tidak khawatir, sebab kegigihan dan pelayanan terbaik menjadi fondasi yang kuat sehingga bisnisnya bisa bertahan hingga kini.
“Setahun lalu selama enam bulan penuh saya tidak ada wedding business, karena tidak diperbolehkan adanya acara besar untuk pernikahan. Tapi sekarang sudah kembali meningkat, kita sudah bisa melayani 100 pesanan. Alhamdulillah juga saat pandemi, bisnis home decor yang justru menjadi penolong saya,” sambungnya.

Oniatta Effendi yang getol memperkenalkan batik

Batik merupakan salah satu warisan kebanggaan Indonesia yang telah mendunia, bahkan tak jarang digunakan oleh tokoh-tokoh dunia, mulai dari Nelson Mandela, Jessica Alba, Barack Obama, dan lain sebagainya. Tidak hanya motifnya yang unik, proses pembuatan dan kisah di balik motif pada sehelai kain batik pun membuat banyak orang terpesona, tak terkecuali desainer asal Singapura, Oniatta Effendi.
Tapi bukan itu saja yang membuat Oni jatuh cinta dengan batik. Ternyata adanya darah Indonesia yang mengalir di tubuhnya membuat pemilik brand Baju by Oniatta dan Galeri Tokokita di Kampong Gelam ini semangat mempelajari kain yang merupakan warisan leluhurnya tersebut.
Berawal dari kesukaannya memakai baju batik, Oni akhirnya memberanikan diri membuat produk batiknya sendiri di tahun 2016 lalu. Diberi nama Celana Utama, produk baju batik yang ia buat ternyata mendapat respons positif.
Ia pun membulatkan tekadnya untuk terbang ke Indonesia demi mempelajari sendiri batik hingga akarnya dari daerah-daerah asalnya. Cirebon pun menjadi pemberhentian pertama Oni saat ‘berburu’ kain batik.
“Baju by Oniatta ini mulainya sudah dari 2016. Saya mulai dengan 12 batik yang saya sebut dengan Celana Utama, because it's the first design. Dalam 7 hari, saya berhasil menjual semuanya. Namun setelah itu saya berpikir apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Akhirnya saya naik pesawat ke Jakarta dan melakukan road trip ke Cirebon. Yang menjadi keistimewaan dalam proses saya karena tidak membeli dari toko batik, tapi langsung dari pengrajin dari desa atau tempat-tempat yang saya jelajahi,” jelasnya.
Berprofesi sebagai seorang dosen, awalnya bisnis batik Oni hanya ia jajakan melalui pop up store di momen-momen tertentu saja. Namun seiring makin banyaknya pelanggan hingga mendapatkan perhatian dari media Singapura, Oni pun mulai mantap menekuni profesi barunya sebagai desainer secara full time.
Oni mengungkapkan, banyak penggemar batik di Singapura yang tidak hanya menyukai motifnya, namun juga tertarik dengan cerita di baliknya. Hal ini pun membuatnya bangga karena batik semakin dikenal luas, terutama di kalangan generasi muda.
“Di Singapura batik mendapat dukungan, baik dari segi penjualan maupun intelektual, jadi ada yang menyukai batik secara akademik. Menurut saya ini penting, saya ingin orang memakai batik dan memahami apa arti motifnya, jadi kita pun semakin terkoneksi dengan pengrajin dan historisnya,” kata Oni.
“Melalui merek ini, saya ingin bisa bercerita tentang motif batik, dan saya rasa penting untuk mengetahui hal-hal ini sebagai penambah ilmu, sehingga memungkinkan batik lebih dihargai karena orang akan jatuh cinta dengan cerita tersebut," tambahnya.
Beberapa batik modern di Baju by Oniatta. Foto: Instagram @bajubyoniatta
zoom-in-whitePerbesar
Beberapa batik modern di Baju by Oniatta. Foto: Instagram @bajubyoniatta
Dalam setiap koleksi bajunya, Oni tak jarang terinspirasi dari pengalaman pribadinya, Salah satunya koleksi Lingkaran sebagai penggambaran dari tren fashion yang selalu berputar. Lalu pada tahun 2020 sebelum pandemi, ia juga meluncurkan koleksi bertajuk Kasih + Sayang menggunakan 10 motif batik Jawa, di antaranya seperti Parang, Kawung, Cuwiri, Sekar Jagad, hingga Truntum sebagai sebuah penggambaran cinta.
When I sell my Baju batik product, saya juga dapat ceritakan simbolisme di balik cerita itu,” pungkasnya.

Denise Deanna, seorang mualaf yang kini fokus memperkenalkan chinese food halal

Bisa dibilang, Singapura merupakan salah satu surganya kuliner lezat di Asia Tenggara. Dari ujung ke ujung kota, kita bisa dengan mudah menemukan restoran dengan berbagai sajian menggugah selera, mulai dari makanan khas Melayu, sajian India, hingga kuliner khas Negeri Tirai Bambu.
Berbicara mengenai makanan khas China, bagi traveler Muslim, terkadang rasa ragu dan dilema dirasakan saat ingin mencicipinya. Bukan tanpa alasan, menemukan restoran chinese food halal di Singapura terbilang masih cukup sulit.
Ini juga yang dirasakan oleh Denise Deanna. Dulu, Denise bisa dengan mudah menyantap hidangan kesukaannya, prawn noodle, di berbagai restoran chinese food yang ada di Singapura.
Namun setelah mantap menjadi mualaf pada 2009, ia pun harus lebih selektif memilih restoran yang menyajikan hidangan khas China yang akan ia kunjungi, termasuk saat akan memesan prawn noodle yang terbuat dari kaldu dan daging babi. Tidak kehilangan akal, Denise pun mencoba membuat prawn noodle versi halal dengan bahan-bahan yang ada di rumahnya.
Ia pun mencoba menjualnya secara online di media sosial dan ternyata mendapat respons baik dari para pengikutnya. Menurutnya, prawn noodle versi halal yang ia buat menjadi alternatif yang unik dan baru bagi penikmat hidangan khas China di Singapura. Inilah yang menjadi latar belakang Denise Deanna untuk membuka restoran bernama Deanna’s Kitchen pada 2017.
“Saya mencoba mengimprovisasi resep saya sendiri, dan membuatnya menjadi halal. Saya mengganti bahan non halal dengan menggunakan daging ayam. Saya butuh waktu kurang lebih 6 tahun hingga menemukan cita rasa yang tepat,” ungkapnya.
Menjadi pilihan restoran chinese food autentik yang halal, sejak awal dibuka, restoran milik Denise pun jadi andalan pecinta kuliner muslim untuk mencicipi prawn noodle, tidak hanya pelanggan dari Singapura, tapi juga luar negeri. Apalagi lokasinya pun berada di kawasan yang memang jadi pusat wisata ramah muslim.
Meski kini bisnis kuliner halal di Singapura makin berkembang, diikuti dengan menjamurnya menu-menu halal di berbagai restoran, hal tersebut tidak lantas membuat Denise patah semangat. Justru ia merasa senang karena warga atau traveler muslim memiliki pilihan restoran halal yang lebih banyak, terutama yang menyediakan menu-menu khas China.
Hingga kini, Deanna’s Kitchen kian berkembang dan memiliki empat cabang yang tersebar di seantero Singapura. Di masa depan, Denise berharap bisa mengembangkan restorannya tak hanya di Singapura, tapi juga luar negeri, termasuk Indonesia.
Itu dia sekilas kisah inspiratif dari tiga womenpreneur muslimah Singapura yang tetap berkarya dan berdaya meski dihantam pandemi di Muslimah Creative Stream Fest 2021 bertema 'Berdaya dan Berkarya dari Rumah' yang juga mendapat dukungan penuh dari Singapore Tourism Board (STB).
Dinobatkannya Singapura sebagai tujuan wisata paling ramah Muslim di antara negara-negara non-Muslim lainnya oleh Mastercard Crescentrating Global Muslim Travel Index pada tahun 2019, membuat STB kembali gencar mempromosikan destinasi ramah muslim, salah satunya melalui acara MSCF 2021.
Lewat kisah Fatimah, Oni, dan Deanna yang pantang menyerah mengembangkan passion-nya, STB juga berharap dapat terinspirasi agar selalu penuh semangat hidupkan kembali impian mereka.
Termasuk impian untuk kembali bebas mengeksplor passion traveling ke Singapura di masa depan. Sebab, Singapura bisa menjadi pilihan wisata yang menyuguhkan destinasi hingga kuliner yang ramah muslim.
Yuk, kembalikan impian liburanmu ke Singapura! #SingapoReimagine #PassionMadePossible