Woman
·
28 Februari 2020 15:44

Bagaimana Pengaruh Fake Orgasm terhadap Kualitas Hubungan?

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Bagaimana Pengaruh Fake Orgasm terhadap Kualitas Hubungan? (119119)
WOMEN ON TOP - Ask The Expert Foto: Argy Pradypta/kumparan
Orgasme merupakan puncak kepuasan seksual yang dirasakan seseorang ketika bercinta. Mengutip buku berjudul The Orgasm Answer Guide (2009), secara kebahasaan, orgasme berasal dari bahasa Yunani, yaitu orgasmos. Hal ini kemudian diartikan dalam Oxford English Dictionary, yang menyebut bahwa orgasme sebagai klimaks kesenangan seksual yang ditandai dengan rasa nikmat pada alat genital, kemudian diiringi dengan ejakulasi.
Namun ternyata tak semua orang bisa merasakan orgasme, dan kondisi ini lebih sering terjadi pada perempuan. Bahkan parahnya lagi tak sedikit perempuan kerap melakukan fake orgasm atau memalsukan orgasmenya saat bercinta dengan pasangannya.
Fakta ini didukung oleh sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Archives of Sexual Behavior pada 2019 lalu, di mana hasilnya menemukan bahwa 58,8 persen perempuan pernah memalsukan orgasmenya, sementara 67,3 persen perempuan yang memalsukan orgasme tersebut tidak lagi melakukannya. Untuk diketahui, penelitian ini melibatkan 1.008 perempuan berusia 18-94 tahun di Amerika Serikat.
Bagaimana Pengaruh Fake Orgasm terhadap Kualitas Hubungan? (119120)
Elizabeth Santosa Foto: Dok. Elizabeth Santosa
Pertanyaannya, mengapa banyak perempuan memalsukan orgasmenya? Kemudian, apakah orgasme palsu itu bisa memengaruhi sebuah hubungan? Untuk mengetahui jawabannya, kumparanWOMAN berbincang dengan Psikolog & Sexpert, Elizabeth Santosa, pada (14/2) lalu.
Simak percakapan kami berikut ini:
Menurut Anda, seberapa penting untuk mencapai orgasme dalam sebuah hubungan seksual?
Saya tidak bisa bilang bahwa orgasme itu penting atau tidak dalam sebuah hubungan. Namun yang pasti, orgasme itu bisa menjadi salah satu indikator bahwa seseorang itu menikmati hubungannya. Namun, itu hanya indikator ya, sehingga tidak harus serta merta orgasme itu dipenuhi. Artinya, jika perempuan bahagia secara psikis dengan pasangannya tanpa harus orgasme (saat berhubungan seksual) ya tidak apa-apa.
Lalu, apakah orgasme bisa memengaruhi psikologi perempuan?
Sebetulnya ini harus kita tanyakan dengan spesialis. Namun, kalau dari general science, ketika perempuan mencapai klimaks maka akan memproduksi sebuah hormon bernama oksitosin. Oksitosin sendiri bisa membuat seseorang lebih rileks, tidur lebih pulas, hingga stress relief.
Ada riset yang menyebut bahwa 58,8 persen perempuan pernah melakukan orgasme palsu. Pertanyaannya, kenapa perempuan cenderung memalsukan orgasme saat bercinta dengan pasangan?
Salah satu alasannya yaitu biar cepat selesai. Kalau di Barat, ada culture di kalangan laki-laki bahwa mereka harus membuat perempuan merasa puas saat bercinta. Sehingga, laki-laki di Barat tidak akan ejakulasi duluan kalau perempuannya belum orgasme. Namun saat bercinta, kadang perempuan merasa lelah karena belum bisa meraih orgasme, sehingga jalan pintas agar hubungan seksualnya cepat selesai ya itu dengan fake orgasm.
Lalu alasan yang kedua, kenapa perempuan melakukan orgasme palsu yaitu agar suami merasa aman dan secure. Karena seperti yang tadi saya sebutkan, kalau laki-laki merasa tidak mampu memberikan kepuasan kepada pasanganya, maka dikhawatirkan ia mencari kepuasan di tempat lain. Sehingga perempuan pun merasa insecure, dan memutuskan untuk memalsukan orgasmenya.
Lalu yang ketiga dikarenakan insecurity dari perempuan sendiri yang merasa susah untuk mendapatkan orgasme. Biasanya hal ini disebabkan rasa takut untuk mengungkapkan kepada pasangannya kalau ia tidak bisa orgasme, sehingga ia pun memutuskan memalsukan orgasmenya. Sedangkan faktor-faktor lain juga bisa disebabkan oleh rasa trauma atau masa lalu yang membuat dia tidak bisa connect dengan hubungan seksualnya, atau juga pasangannya yang mungkin tidak bisa membuat perempuan meraih orgasme.
Bagaimana Pengaruh Fake Orgasm terhadap Kualitas Hubungan? (119121)
Ilustrasi Fake Orgasm Foto: Dok. Shutterstock
Anda tadi menyebut bahwa fake orgasm adalah sebuah bentuk ketidakjujuran. Kalau begitu, bisakah orgasme palsu memengaruhi sebuah hubungan?
Bisa dong, karena ini dimulai dengan ketidakjujuran sehingga pasti akan memengaruhi sebuah hubungan. Kalau pertanyaannya, apakah hal ini berpotensi memengaruhi kualitas hubungan di masa depan, ya tentu pasti. Karena ibaratnya, bohong kecil itu lama-lama akan membesar.
Ketika seseorang tidak puas dalam hubungan seksual, apa yang harus dilakukan? Lalu, bagaimana cara ideal utnuk mengkomunikasinya?
Kalau seseorang tidak bisa mencapai klimaks, ada baiknya dibicarakan atau dikomunikasikan dengan pasangannya. Namun saat melakukan komunikasi ini, jangan pernah disinggung hal-hal lain yang membuat suasana semakin panas atau sedih. Selain itu, pastikan saat membicarakan hal ini waktunya tepat dan disiapkan dengan matang.
Bagaimana Pengaruh Fake Orgasm terhadap Kualitas Hubungan? (119122)
Ilustrasi Fake Orgasm Foto: Dok. Shutterstock
Biasanya saat perempuan melakukan orgasme palsu itu ditandai dengan apa?
Yang pasti suara, suaranya itu lebih intens dari sesungguhnya. Selain itu, perempuan yang melakukan orgasme palsu juga biasanya akan memberikan semacam kode secara verbal bahwa ia akan orgasme atau ejakulasi.
Tadi Anda menyebut bahwa ada perempuan yang melakukan orgasme palsu karena ia kesulitan untuk meraih orgasme. Lalu, menurut Anda apakah ada formula khusus agar perempuan bisa mencapai orgasme?
Ada, jadi formula agar perempuan bisa meraih orgamse itu pertama harus rileks, lalu yang kedua building trust dengan pasangannya. Pertanyaannya, bagaimana cara agar perempuan merasa rileks saat bercinta? Pertama jangan buru-buru, lalu jangan fokus ke area genitalnya saja tapi juga emosi atau hatinya. Kalau emosinya enak, terus perempuannya juga nyaman dan bahagia saat bercinta maka peluang atau probabilitas untuk mencapai orgasmenya juga lebih besar.
Selain itu, apakah ada cara lain agar perempuan mudah meraih orgasme saat berhubungan seksual?
Pasangan harus tahu atau aware bagian tubuh (perempuan) mana yang bisa membuatnya terstimulasi atau terangsang. Kalau sudah tahu, pasangan bisa memberikan sentuhan sehingga perempuan bisa merasakan kenikmatan dan akhirnya mencapai klimaks.