kumparan
18 Januari 2020 11:35

Beda Mencerahkan dan Memutihkan Kulit yang Perlu Diketahui

Kecantikan kulit
Ilustrasi merawat kecantikan kulit. Foto: Shutterstock
Selama ini, kita mungkin sering mendengar bahwa kulit putih adalah kulit yang cantik dan seharusnya dimiliki perempuan. Disadari atau tidak, ini mungkin membuat sebagian dari kita cenderung untuk mencari produk kecantikan yang berlabel mencerahkan atau memutihkan kulit, demi bisa memenuhi standar kecantikan tersebut.
ADVERTISEMENT
Sekilas, kedua istilah itu--mencerahkan dan memutihkan kulit--mungkin terdengar sama saja. Padahal, tidak demikian. Ada perbedaan mendasar antara proses mencerahkan dan memutihkan kulit.
Dr. Indah Widyasari, SpKK, dokter kulit yang membuka praktik di klinik kecantikan, Bamed Skin Care Menteng, menjelaskan bahwa hal ini berhubungan dengan apa yang dilakukan terhadap pigmen atau zat warna tubuh manusia.
Kulit sehat, perempuan
Ilustrasi kulit sehat Foto: Shutterstock
"Kita terkadang agak rancu (dalam menyebut) putih dan cerah. Jika memutihkan kulit, kita secara total merusak sel penghasil pigmen, sampai tidak menghasilkan pigmen sama sekali. Ini yang lebih bahaya," tuturnya dalam acara konferensi pers brand ambassador terbaru Wardah di Hotel Gran Mahakam, Jakarta Selatan, Kamis (16/1).
Menurut Dr. Indah, saat ini BPOM selaku pengawas produk makanan dan obat-obatan di Indonesia, sudah mulai mengatur mengenai bahan-bahan berbahaya yang bisa memutihkan kulit. Beberapa bahan, termasuk hydroquinon, sudah mulai diatur dan tidak bisa dibeli bebas tanpa resep dokter.
ADVERTISEMENT
Namun, kita perlu memahami bahwa ada perbedaan antara produk yang bersifat lightening (memutihkan) dengan produk brightening (mencerahkan). Ia mengatakan, zat seperti vitamin C atau beberapa jenis golongan acid termasuk kepada produk brightening. Produk ini bertujuan menyehatkan, merestorasi kulit kusam, dan memperbaiki distribusi sel pigmen. Sementara, produk lightening dapat merusak kulit karena menyerang melanin.

Skala cerah kulit Indonesia

Secara lebih lengkap, Dr. Indah juga menjelaskan mengenai skala warna kulit orang Indonesia. Menurut skala warna kulit yang bernama Fitzpatrick Scale, ada enam jenis warna kulit, dimulai dari tipe pertama yang sangat putih dan tak bisa terbakar matahari, hingga tipe enam yang secara alami berwarna gelap.
Fitzpatrick
Skala Fitzpatrick Foto: Shutterstock
Menurut Dr. Indah, biasanya, orang Indonesia akan berada pada tipe kulit tiga hingga lima, tergantung derajat pigmen melanin (zat pewarna kulit) yang dimiliki. Sehingga, 'seputih-putih'-nya orang Indonesia, mereka akan mengikuti spektrum warna asli mereka pada skala tersebut.
ADVERTISEMENT
"(Patokan) cerahnya itu sesuai dengan area lengan dalam bagian atas, karena bagian itu tidak pernah terpapar matahari," ujarnya.

Scrubbing tidak membantu memutihkan kulit

Terakhir, sang dokter juga membahas mengenai proses scrubbing atau eksfoliasi. Selama ini, ada orang yang beranggapan bahwa eksfoliasi dapat membantu memutihkan kulit. Namun, hal ini ditepis oleh Dr. Indah.
Dr. Indah menjelaskan, lapisan kulit teratas manusia, yaitu epidermis, melakukan regenerasi tiap 28 hari sekali. Pada akhir proses tersebut, kulit mati akan berganti dengan lapisan kulit yang lebih baru.
Sementara, eksfoliasi sendiri bisa membantu proses regenerasi tersebut. Akan tetapi, ini tidak lantas menjadikan eksfoliasi membuat kulit menjadi putih.
"Adanya eksfoliasi akan mempercepat pergantian sel mati tersebut. Sehingga, kulit yang tadinya kusam dan kasar, kalau kita eksfoliasi, lapisan kulit mati tersebut akan terangkat dan mengekspos lapisan kulit baru," tuturnya.
ADVERTISEMENT
"Ini enggak ada hubungannya dengan pigmen. Eksfoliasi hanya membantu mencerahkan kulit, bukan memutihkan," tegasnya.
Bagaimana menurut Anda, Ladies?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan