Woman
·
15 September 2021 12:15
·
waktu baca 9 menit

Bincang Karier dengan Sivera Dian Getrida, VP Laboratorium di Pupuk Kaltim

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Bincang Karier dengan Sivera Dian Getrida, VP Laboratorium di Pupuk Kaltim (71549)
searchPerbesar
Sivera Dian Getrida, Vice President Laboratorium di PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) Foto: Dok. Pribadi
Sudah menjadi rahasia umum bahwa industri energi dan petrokimia lebih dikenal sebagai industri yang lekat dengan imej laki-laki. Kendati demikian, bukan tidak mungkin kalau perempuan juga bisa masuk dan memiliki peran besar dalam industri tersebut.
Sosok Sivera Dian Getrida atau yang akrab disapa Dian adalah salah satunya. Perempuan asal Surabaya ini berhasil mematahkan stereotip tersebut dan membuktikan peran serta keterlibatan perempuan dalam industri energi dan petrokimia.
Dian merupakan perempuan tangguh yang kini mengemban posisi sebagai Vice President (VP) Laboratorium di salah satu perusahaan BUMN, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT). Dian yang telah memulai kariernya sejak 30 tahun silam, bertanggung jawab untuk memastikan semua peralatan dan fasilitas penunjang di laboratorium berjalan dengan baik.
Sebelum bekerja di Pupuk Kaltim, Dian rupanya sempat bekerja di perusahaan pertambangan emas milik Australia, Gold Mining. Di perusahaan itu, Dian bertahan selama tiga bulan.
Kecintaan Dian terhadap industri energi dan petrokimia telah muncul sejak SMA. Kala itu, Dian mengaku sangat menyukai mata pelajaran kimia. Selain mata pelajaran kimia, Dian juga mengaku sangat tertarik dengan bidang teknik. Karena kecintaannya terhadap dua bidang itu, setelah lulus SMA, Dian pun mengambil bidang studi Teknik Kimia di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS).
“Saya suka sekali teknik, karena bidang itu tidak terlalu pakai perasaan. Selain itu, bidang tersebut juga sifatnya exact (akurat). Jadi, tidak perlu dikira-kira, dan tidak perlu diinterpretasikan,” kata Dian saat diwawancarai kumparanWOMAN pada awal Agustus lalu.
Namun, perjalanan Dian dalam berkarier di industri tersebut tidak selalu berjalan mulus. Ia juga kerap menghadapi berbagai rintangan saat bekerja di industri yang didominasi pria ini. Lalu, seperti apa pengalaman dan suka duka yang dihadapi Dian saat bekerja di industri energi dan petrokimia?
Untuk mengetahui hal itu, kumparanWOMAN pun berkesempatan berbincang dengan ibu dari dua anak ini. Simak cerita pengalaman hingga tantangan yang dihadapi Sivera Dian Getrida saat bekerja di industri energi dan petrokimia dalam sesi Bincang Karier kumparanWOMAN berikut ini.

Apa saja kesibukan Anda saat ini? Adakah perbedaan sebelum dan setelah pandemi?

Sivera Dian (SD): Sebetulnya tidak terlalu berbeda, karena saya itu work from office (WFO) sekarang. Jadi perbedaannya tidak terlalu banyak. Cuma lingkungan saya saja yang terasa berbeda, karena banyak teman-teman di sini (Bontang, Kalimantan Timur) yang WFH. Lalu, suami juga WFH, dan anak-anak di rumah juga harus kuliah online. Jadi suasananya agak berbeda. Kendati demikian, saya merasakan banyak sekali dampak positif dari PPKM ini. Salah satunya saya jadi lebih sering kumpul dengan keluarga.

Bagaimana Anda menggambarkan perjalanan karier dari awal hingga sekarang menjabat sebagai Vice President (VP) Laboratorium di PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT)?

SD: Saya masuk PT Pupuk Kalimantan Timur itu pada 1992, sebagai staff process engineer. Karena saat itu, ada banyak sekali lowongan yang tersedia untuk posisi engineer. Menariknya, cuma ada dua perempuan di angkatan saya yang masuk ke area pabrik saat itu.
Pekerjaan saya waktu itu adalah memonitor proses pabrik. Tujuannya, agar semua proses produksinya berjalan dengan lancar. Kemudian pada tahun 2000, saya mendapat tugas di Joint Venture Company atau perusahaan yang bekerja sama dengan Jepang. Saat itu, saya ditugaskan ke Jepang dan posisinya tetap sama yaitu sebagai staff process engineer.
Pada 2009, saya kembali lagi ke Indonesia dan ke Pupuk Kaltim. Posisi saya juga masih sebagai engineer. Namun, pada 2016, saya diangkat menjadi manager di bagian process engineering. Dulu kan istilahnya manager, kalau sekarang itu Vice President. Lalu, pada 2021, saya ditugaskan sebagai Vice President (VP) Laboratorium di PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT).
Bincang Karier dengan Sivera Dian Getrida, VP Laboratorium di Pupuk Kaltim (71550)
searchPerbesar
Sivera Dian Getrida, Vice President Laboratorium di PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) Foto: Dok. Pribadi

Apa saja tugas dan tanggung jawab terkait dengan posisi yang sedang Anda jabat sekarang?

SD: Sebagai VP Laboratorium, tugas saya adalah memastikan semua pekerjaan yang menyangkut proses bisnis di laboratorium berjalan dengan baik untuk mendukung kelancaran operasi. Lalu, kalau proses bisnisnya sudah berjalan baik, saya juga harus memastikan SDM saya kompeten dan mengerti semua prosedur yang ada, sehingga mereka bisa melakukan pekerjaan sesuai prosedur keselamatan dan kesehatan kerja. Selain itu, saya juga harus memastikan kalau mereka mengerti kebijakan-kebijakan perusahaan supaya tidak ada yang melanggar aturan.
Selain dari sisi bisnis dan SDM, saya juga bertanggung jawab dalam urusan peralatan. Karena, kalau di laboratorium itu peralatannya sangat sensitif ya, jadi saya harus memastikan semua peralatan yang ada di sini bisa berfungsi dengan baik. Terakhir, saya juga harus berkoordinasi dengan unit kerja lain yang meminta pelayanan dari kami, lalu juga berkoordinasi dengan beberapa perusahaan yang meminta layanan untuk analisa.

Apa yang menarik dari pekerjaan yang sedang Anda tekuni sekarang?

SD: Karena saya orang engineering di bidang pupuk industri ya, jadi saya bisa melihat suatu benda yang tidak terlihat, gas misalnya, lalu benda itu diproses menjadi barang lain atau barang yang berbeda sama sekali. Menurut saya itu sangat menarik sekali. Selain itu, kita juga lebih banyak bertemu dengan benda mati. Fokus kita itu sama benda mati, dan mencari cara bagaimana si benda mati itu berfungsi menjadi lebih baik.

Saat bekerja di dalam tim yang didominasi laki-laki, apa saja tantangan yang kerap Anda hadapi? Pernahkah Anda mendapat pengalaman kurang menyenangkan atau diskriminasi?

SD: Saya tidak pernah mengalami diskriminasi selama bekerja di sini. Karena dari awal, Pupuk Kaltim itu sudah di-setting oleh founder kami bahwa perempuan itu sangat diterima bekerja di sini, baik itu di area perkantoran atau area pabrik. Jadi dengan demikian, tidak ada yang namanya diskriminasi terhadap perempuan.
Kalau boleh cerita, dulu itu perempuan yang bekerja di sini mendapat shift malam. Namun, sekarang perempuan sudah tidak boleh ikut shift. Tujuannya agar menjaga teman-teman perempuan tidak mengalami masalah di tempat kerja.
Bincang Karier dengan Sivera Dian Getrida, VP Laboratorium di Pupuk Kaltim (71551)
searchPerbesar
Sivera Dian Getrida dan tim Foto: Dok. Pribadi

Bagaimana perusahaan Anda mendukung kesetaraan gender di lingkungan kerja?

SD: Kami itu, baik perempuan atau laki-laki, dites bersamaan. Artinya, untuk satu posisi struktural misalnya, kami diberi kesempatan yang sama. Untuk sekarang ini, saya melihat sudah banyak perempuan yang menjadi VP atau manager. Misalnya di area produksi ada tiga orang, terus di kantor pusat juga ada beberapa perempuan yang menjadi manager. Jadi intinya, PKT itu selalu adil dan benar-benar menempatkan sesuai kebutuhan, keahlian, dan kompetensi.

Menurut sebuah penelitian disebutkan bahwa perempuan yang bekerja di tempat yang didominasi pria rentan mengalami stres. Bagaimana dengan Anda, apakah Anda juga kerap merasa stres?

SD: Kalau stres di tempat kerja, menurut saya sih sepertinya semua orang (baik laki-laki maupun perempuan) pasti pernah mengalami ya. Tapi, tergantung tingkat stresnya seperti apa.
Kalau saya sendiri, biasanya stres itu karena deadline. Misalnya, saya punya lima pekerjaan, tapi tiga dari lima pekerjaan itu deadline-nya mepet atau berbarengan. Itu biasanya membuat saya stres. Tapi kalau saya sedang stres atau bingung dengan pekerjaan, biasanya saya akan tanya ke orang yang lebih ahli atau lebih senior dari saya. Jadi, saya bisa tanya-tanya ke dia. Intinya, stres itu tergantung bagaimana kita menghadapi dan mencari jalan keluarnya.

Saya tertarik dengan gaya kepemimpinan “ibu-ibu banget” yang Anda adopsi saat memimpin tim. Boleh dijelaskan seperti apa gaya kepemimpinan tersebut?

SD: Jadi, gaya kepemimpinan ‘ibu-ibu banget’ itu maksudnya saya akan men-treat tim saya seperti seperti anak sendiri. Bagaimana saya seorang ibu di kantor dan mengurusi anak-anak (tim) saya.
Karena ibu itu kan sifatnya caring ya, jadi saya sebisa mungkin untuk memberikan perhatian yang penuh kepada tim. Saya juga selalu memperhatikan, apakah jasmani mereka tercukupi, apakah selama bekerja mereka tidak memiliki masalah, apakah mereka bisa bekerja lebih baik. Lalu, apakah mereka punya masalah pribadi, kalau iya saya siap untuk mendengarkan. Jadi, menurut saya itu maksudnya gaya kepemimpinan ibu-ibu banget.
Tapi, seperti ibu-ibu pada umumnya, meski kita sayang pada mereka, kita tetap akan tegur kalau mereka melakukan kesalahan. Selain itu, sebagai ibu-ibu, kita juga biasa bercanda dengan mereka, seperti dengan anak kita sendiri. Kita juga perlu tahu apa sih yang sedang menjadi tren, supaya kalau ngomong sama mereka bisa nyambung.
Bincang Karier dengan Sivera Dian Getrida, VP Laboratorium di Pupuk Kaltim (71552)
searchPerbesar
Sivera Dian Getrida dan tim Foto: Dok. Pribadi

Menurut Anda, apa pentingnya memiliki pemimpin perempuan dalam sebuah organisasi atau perusahaan? Dan karakter seperti apa yang harus dimiliki oleh setiap perempuan jika ingin menjadi seorang leader?

SD: Perempuan itu penting dalam perusahaan, karena perempuan itu bisa memberi warna lain dalam sebuah perusahaan. Selain itu, perempuan juga bisa memberikan perspektif yang berbeda dalam setiap pengambilan keputusan atau kebijakan. Kalau bisanya terkesan lebih kaku, tapi dengan kehadiran pemimpin perempuan itu jadi lebih luwes. Makanya, kehadiran perempuan itu bisa memberi warna lain.

Untuk bisa sukses menekuni dalam berkarier, biasanya seseorang akan membutuhkan mentor atau sosok yang menginspirasi. Lalu, siapakah sosok orang yang sangat menginspirasi Anda dalam berkarier?

SD: Role model saya itu Margaret Thatcher, karena dia itu adalah Perdana Menteri perempuan pertama di Inggris yang sangat menginspirasi. Dia itu kalau punya prinsip, maka berani mempertahankan prinsipnya. Tapi, kalau dari dalam negeri, saya kagum sekali dengan Ibu Sri Mulyani. Saking kagumnya, saya sampai mengikuti Instagram-nya beliau.
Bincang Karier dengan Sivera Dian Getrida, VP Laboratorium di Pupuk Kaltim (71553)
searchPerbesar
Sivera Dian Getrida dan keluarga Foto: Dok. Pribadi

Dukungan dari keluarga menjadi salah satu kunci penting bagi seorang perempuan yang terjun di dunia karier. Seperti apa dukungan yang selalu diberikan keluarga terhadap karier Anda?

SD: Saya datang dari keluarga di mana perempuan bekerja itu sangat didukung. Jadi, dari sisi itu saya punya nilai lebih. Ayah saya mendukung, ibu saya juga.
Saya punya sedikit cerita, jadi dulu ketika saya hamil anak kedua dan anak pertama saya masih berusia tiga tahun, tiba-tiba asisten saya berhenti bekerja. Kondisi ini membuat saya berpikir untuk resign. Tapi, ibu saya justru mendorong saya untuk tidak boleh berhenti dari pekerjaan. Beliau bahkan sempat menawarkan bantuan untuk mengurus anak-anak saya. Dari sanalah, saya melihat bahwa keluarga saya terutama ibu sangat mendukung karier saya.
Selain ayah dan ibu, suami saya juga sangat mendukung pekerjaan saya. Jadi, kalau misalnya saya harus pulang malam, dia akan bantu menjaga anak-anak dan mengurus pekerjaan rumah. Suami saya itu benar-benar pendukung setia saya.

Seperti apa kesempatan perempuan untuk berkarier di industri energi dan petrokimia? Adakah pesan-pesan yang ingin disampaikan untuk perempuan yang ingin berkarier di bidang tersebut?

SD: Saya pikir bidang teknik dan engineering ini sangat terbuka lebar untuk perempuan. Apalagi, kalau mereka punya passion di bidang itu, maka mereka bisa berkarier dengan baik dan tidak ada kendala. Namun, yang perlu dilakukan supaya kita bisa survive di sini adalah kita harus berusaha agar kompetensi kita dan kemampuan kerja kita setara dengan laki-laki.
Selain itu, perempuan juga harus berani mengemukakan pendapatnya. Dengan kita berani mengemukakan pendapat, apalagi dengan dasar dan alasan yang kuat, kita tidak akan diremehkan oleh orang lain. Kemudian, kita juga harus memiliki jejaring yang kuat. Jejaring ini sangat penting, karena ketika kita memiliki masalah atau persoalan kerja, kita bisa bertanya kepada jejaring kita, kita bisa meminta bantuan kepada mereka.
Yang terpenting, kita juga harus menghormati orang lain, baik itu kepada yang lebih muda atau tua. Sopan santun itu penting sekali, dengan begitu kita akan mendapat dukungan dari mereka.