Woman
·
11 Juni 2021 16:18
·
waktu baca 2 menit

Kisah Liza Yuvita Sikku, Jadi Satgas COVID-19 untuk Desa Damai di Jawa Tengah

Konten ini diproduksi oleh kumparan
Kisah Liza Yuvita Sikku, Jadi Satgas COVID-19 untuk Desa Damai di Jawa Tengah (432585)
Liza Yuvita Sikku. Foto: Facebook/UN Women Asia and the Pacific
Pandemi menimbulkan dampak tidak proporsional bagi perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia. Perempuan kehilangan mata pencahariannya karena banyak dari mereka bekerja di sektor dan pekerjaan yang terdampak oleh COVID-19.
Lebih dari itu, beban perempuan semakin berat karena bertambahnya pekerjaan rumah tangga selama pandemi akibat penutupan sekolah, perubahan pekerjaan, dan pembatasan sosial. Terlebih lagi, pandemi ini juga memicu meningkatnya berbagai bentuk kekerasan berbasis gender, termasuk kekerasan online dan kekerasan dalam rumah tangga.
Di balik berbagai tantangan yang ada, perempuan berada di garis depan dalam upaya penanggulangan COVID-19, baik sebagai tenaga kesehatan, penyedia layanan, manajer dalam keluarga, pemimpin komunitas, dan lainnya. Dalam komunitas, perempuan juga memiliki peran penting dengan turut berpartisipasi menyebarkan berbagai informasi tentang COVID-19, serta mengambil peran dalam pencegahan penyebaran COVID-19.
Kisah Liza Yuvita Sikku, Jadi Satgas COVID-19 untuk Desa Damai di Jawa Tengah (432586)
Liza Yuvita Sikku. Foto: Facebook/UN Women Asia and the Pacific
Liza Yuvita Sikku (31) adalah satu dari sekian banyak perempuan yang memegang peran penting tersebut. Sehari-hari, perempuan yang akrab disapa Yuvita ini berprofesi sebagai manajer perpustakaan sekaligus admin situs dan media sosial di Desa Damai.
Desa Damai merupakan inisiatif dari Wahid Foundation yang didukung oleh UN Women untuk mendukung kepemimpinan perempuan dalam menjaga dan mendorong perdamaian, salah satunya di Nglinggi, Klaten, Jawa Tengah. Dan Yuvita merupakan satu dari 100 perempuan di Desa Damai yang mendapatkan pelatihan kepemimpinan dan penguatan kapasitas perempuan sebagai pengambil keputusan dalam menghadapi dampak sosial ekonomi akibat pandemi COVID-19, dari UN Women bekerja sama dengan Wahid Foundation dan dengan dukungan dari Pemerintah Jepang.

Menjadi Satgas COVID-19

Di masa pandemi, ibu dua anak ini tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 di desanya. “Sebagai Satgas, salah satu peran saya adalah memastikan bahwa komunitas menerima informasi terbaru dan valid mengenai virus dan langkah-langkah kesehatan, serta keamanan," ungkap Yuvita seperti dikutip dari laman Facebook UN Women Asia & Pacific.
Kisah Liza Yuvita Sikku, Jadi Satgas COVID-19 untuk Desa Damai di Jawa Tengah (432587)
Liza Yuvita Sikku. Foto: Facebook/UN Women Asia and the Pacific
Perempuan lainnya yang menjadi Satgas juga punya tugas masing-masing, termasuk memantau penerapan protokol kesehatan, pengelolaan sampah lokal, dan logistik pasokan makanan, serta memastikan pengiriman makanan kepada mereka yang membutuhkan. Menurut Yuvita, para perempuan desa terus berupaya untuk melindungi komunitas mereka dari virus.
"Mewakili perempuan Desa Nglinggi, saya yakin mereka bangga berada di garis depan untuk pencegahan dan penanggulangan COVID-19,” jelasnya. Upaya mereka juga diapresiasi kepala desa.
Kisah Liza Yuvita Sikku, Jadi Satgas COVID-19 untuk Desa Damai di Jawa Tengah (432588)
Liza Yuvita Sikku. Foto: Facebook/UN Women Asia and the Pacific
“Saya sangat bangga dengan perempuan desa kami, termasuk Yuvita. Tanpa kontribusi mereka, Nglinggi tidak akan pernah bisa seperti sekarang ini,” ungkap Sugeng, Kepala Desa Nglinggi.

Pelatihan kepemimpinan perempuan di Desa Nglinggi

Di Desa Nglinggi sendiri, perempuan yang memimpin dalam pengembangan masyarakat merupakan sebuah prestasi yang cukup besar.
“Meskipun banyak hal telah membaik selama beberapa tahun terakhir, kepemimpinan patriarki masih menjadi kepemimpinan yang paling umum di banyak daerah di Indonesia. Gaya kepemimpinan ini sering mengabaikan peran perempuan dalam pembangunan berkelanjutan,” ungkap Yuvita.
Kisah Liza Yuvita Sikku, Jadi Satgas COVID-19 untuk Desa Damai di Jawa Tengah (432589)
Liza Yuvita Sikku. Foto: Facebook/UN Women Asia and the Pacific
Namun, Yuvita percaya perempuan harus diberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.
"Perempuan ketika diberikan kesempatan, mereka bisa memimpin secara natural. Menurut saya, perempuan bisa melakukan apa saja jika diberi kesempatan. Mereka adalah kontributor dan akselerator pembangunan berkelanjutan desa," pungkasnya.
Dengan adanya pelatihan kepemimpinan perempuan dan upaya para perempuan desa, Nglinggi diakui sebagai desa percontohan untuk Kampung Siaga Candi, program dari Satgas Polda Jawa Tengah. Mereka juga mendapatkan penghargaan karena sudah memenuhi standar peraturan terkait pandemi.
Kesuksesan yang dicapai oleh Desa Nglinggi ini tentu saja tidak lepas dari para perempuan seperti Yuvita yang berada di garda depan.