Kisah Tayla Clement, Perempuan Penyandang Disabilitas Jadi Atlet Berprestasi

13 Januari 2022 14:52
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Kisah Tayla Clement, Perempuan Penyandang Disabilitas Jadi Atlet Berprestasi (340110)
zoom-in-whitePerbesar
Atlet Penyandang Disabilitas, Tayla Clement. Foto: Instagram/@taylaclement
Meski memiliki keterbatasan fisik, ada beberapa perempuan yang tetap mampu berprestasi. Angkie Yudistia, misalnya, perempuan penyandang disabilitas yang sejak November 2019 diangkat menjadi Staf Khusus (Stafsus) dan Juru Bicara Presiden di bidang sosial oleh Presiden Joko Widodo.
ADVERTISEMENT
Ada juga tokoh perempuan dunia yang mempunyai kisah yang sama seperti Angkie Yudistia. Salah satunya, yakni Tayla Clement (24). Ia adalah perempuan asal New Zealand yang menderita moebius syndrome, sehingga membuatnya tidak bisa tersenyum.
Keadaan tersebut jarang dialami orang lain. Lebih detail, moebius syndrome merupakan kondisi khusus yang menyebabkan gangguan neurologis tidak biasa, yang mempengaruhi otot-otot yang mengontrol ekspresi wajah dan gerakan mata. Tayla tidak bisa menggerakkan matanya dari kiri dan ke kanan, mengangkat alisnya, atau bahkan menggerakkan bibir atasnya.
Mengutip New York Post, dalam sebuah wawancara dengan Jam Press, Tayla menceritakan tentang dirinya yang sempat sulit menerima kondisinya. “Saya telah menghabiskan bertahun-tahun untuk membenci senyuman saya, berharap saya memiliki senyum 'normal', berharap saya tidak ada karena itu tampak lebih mudah daripada hidup, tetapi dengan keajaiban, saya masih di sini,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT
Pada usia 12 tahun, Tayla pun menjalani "operasi senyum" di mana dokter melakukan transplantasi jaringan lunak dari pahanya ke wajahnya dalam upaya untuk mengembalikan senyumnya. Namun, prosedur itu gagal dan membuat wajahnya bengkak serta memar.

Pernah jadi korban bullying di bangku sekolah

Karena keterbatasannya, Tayla kerap menjadi korban bullying semasa sekolah. “Saya ditertawakan. Anak-anak lain akan berteriak di depan saya dan mengatakan bahwa mereka takut pada saya, tetapi kemudian akan lari sambil tertawa. Saya merasa sangat terisolasi,” ungkap Tayla.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Para guru juga memperlakukannya dengan berbeda. Ia pun menceritakan pengalaman itu lebih detail, "Saya menjadi satu-satunya orang yang mengangkat tangan di kelas dan guru hanya akan melihat saya dan kemudian memalingkan muka, dan tidak memilih saya untuk mengajukan pertanyaan.”
ADVERTISEMENT
Semua itu sangat mempengaruhi kepercayaan diri dan harga diri Tayla. Ia juga sempat ingin mengakhiri hidupnya dan didiagnosis depresi klinis parah, kecemasan dengan PTSD, dan serangan disosiatif pada usia 18 tahun. Di usia tersebut, dia juga memutuskan untuk keluar dari klub renang.

Tayla bangkit, berprestasi, dan menginspirasi orang lain

Selain menderita moebius syndrome,Tayla juga mengalami club foot.Ini merupakan suatu kondisi, yaitu kaki terpelintir dari bentuk atau posisi normal. Tayla yang mengalami kondisi tersebut dihubungi oleh Para Athletics of New Zealand. Tayla tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga tersebut.
Dia memulai kariernya di cabang olahraga atletik. Mengutip Daily Star, ia menjadi atlet tolak peluru nomor 1 di Kejuaraan Negara Bagian Victoria di Melbourne pada tahun 2018. Tahun berikutnya, Tayla berkompetisi di Kejuaraan Nasional Selandia Baru, di mana ia melakukan tolak peluru dengan jarak 8,28m dan memecahkan rekor dunia dalam klasifikasi F43 (klasifikasi atlet paralimpik—ajang olahraga bagi atlet penyandang disabilitas).
ADVERTISEMENT
Kini setelah ia pensiun menjadi atlet paralimpik dan dari dunia olahraga, Tayla lebih banyak berbicara di depan umum untuk menginspirasi orang lain yang menderita kelainan wajah seperti dirinya.
"Menjadi sumber inspirasi, pemberdayaan, dan harapan bagi orang lain sungguh luar biasa,” ungkap mantan atlet tolak peluru, yang mendokumentasikan perjalanan hidupnya di sosial media. Kini, Tayla Clement sudah memiliki lebih dari 18.500 pengikut di Instagram. Ia merasa bahwa meskipun memiliki kelainan bentuk wajah, ia patut bersyukur atas kesuksesannya.
Penulis:Adonia Bernike Anaya
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020