kumparan
13 Agustus 2019 14:39

Ladies, Sering Belanja Pakai Uang Elektronik? Perhatikan 4 Hal Ini

Ilustrasi uang elektronik Foto: Shutterstock
“Ada yang mau ikut beli kopi ngga? Beli pakai aplikasi e-money terbaru ini lagi dapat potongan promo, lho.” Sering tergiur oleh ajakan seperti ini?
ADVERTISEMENT
Sejak tren e-money atau uang elektronik mulai naik daun, tawaran tersebut seakan menjadi iming-iming yang hampir sulit untuk ditolak. Bagaimana tidak, promo yang ditawarkan berupa cashback atau diskon itu bisa membuat produk yang dibeli menjadi lebih murah dan kita juga bisa jadi lebih hemat. Eh, tapi tunggu dulu Ladies. Apa benar demikian?
Menurut pakar keuangan Aidil Akbar, membeli produk makanan atau minuman menggunakan e-money atau uang elektronik sebenarnya sah-sah saja. Yang membuatnya tidak baik dan bahkan bisa membuat pengeluaran Anda membengkak adalah pembelian yang tidak sewajarnya.
Pada dasarnya membeli produk di layanan online itu sudah pasti membuat pengeluaran kita menjadi lebih banyak. Produk yang dijual di layanan go-food atau grabfood misalnya, harganya sudah pasti lebih mahal daripada kalau kita datang dan beli langsung ke tempatnya. Karena harga sudah di mark-up atau dinaikkan sekitar 20-25 persen untuk memberikan keuntungan pada penyedia jasa layanan online.
Ilustrasi uang elektronik Foto: Shutterstock
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam melakukan transaksi pembelian dengan uang elektronik adalah adanya tawaran-tawaran cashback dan potongan harga. Biasanya, karena belum banyak yang memahami soal sistem cashback dan diskon, banyak diantara kita yang terjebak. Bukannya hemat, tapi pengeluaran malah membengkak.
ADVERTISEMENT
Begini, cashback itu sebenarnya hanya boleh dipakai untuk belanja produk yang memang sudah menjadi kebutuhan kita sehari-hari. Contoh gampangnya adalah kopi. Misalnya jadwal Anda membeli kopi adalah tiga kali seminggu dengan total nominal Rp 100 ribu. Lalu ketika ada tawaran cashback atau potongan harga, Anda jadi bayar Rp 70 ribu saja untuk tiga kali beli kopi, itu tidak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika ada tawaran cashback Anda jadi beli kopi seminggu empat atau lima kali dan jika ditotal jumlahnya lebih dari Rp 100 ribu. Itu yang berbahaya bagi keuangan Anda,” begitu penjelasan singkat dari Aidil Akbar saat dihubungi kumparanWOMAN melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.
Cover Lipsus Uang Digital. Foto: Nunki Lasmaria Pangaribuan/kumparan
Lalu bagaimana dengan yang beli secara kolektif? Menurut Aidil, pembelian kolektif juga sah-sah saja asal yang dibelanjakan memang benar-benar barang yang dibutuhkan. "Jadi kalau hari ini adalah waktunya untuk beli kopi. Lalu teman menawarkan promo beli tiga dapat lima, itu boleh. Tapi kalau hari ini bukan jadwal kita untuk beli kopi, tapi kita jadi beli karena iming-iming potongan harga ya artinya budget kita bertambah, ini yang tidak boleh," paparnya.
ADVERTISEMENT
Aidil menjelaskan, intinya kalau gara-gara cashback jumlah pengeluaran bulanan Anda jadi membengkak dari biasanya, itu berarti tandanya Anda rugi. Agar Anda tidak terjebak tawaran cashback dan diskon, Aidil Akbar membagikan beberapa poin penting yang harus diperhatikan saat hendak belanja di layanan online. Apa saja?
Perhatikan nominal cashback atau potongan harga
Cashback harus dilihat nominalnya berapa karena kalau wujudnya dalam bentuk persentase itu sudah pasti bohong. Meski iklannya bilang cashback 90 persen tapi kalau maksimal cashback hanya Rp 15 ribu, ya tetap potongannya Rp 15 ribu. Jadi jangan tergiur sama 90% nya."
Gunakan cashback atau diskon untuk pembelian yang kecil
Cashback akan menguntungkan jika digunakan dalam jumlah pembelian sekitar Rp 20-100 ribu. Kalau makan di restoran besar yang biayanya lebih dari Rp 300 ribu itu biasanya persentase cashback-nya akan semakin kecil.”
Ilustrasi uang elektronik Foto: Shutterstock
Jangan sampai frekuensi belanja bertambah
ADVERTISEMENT
Cashback itu diciptakan agar kita menjadi sering belanja. Jadi usahakan jangan sampai tergiur oleh tawaran potongan kalau memang barang yang dibeli tidak perlu. Karena semakin sering Anda berbelanja, semakin banyak uang yang akan dikeluarkan, berapapun nominalnya."
Usahakan mengisi uang elektronik hanya saat akan belanja
“Hal penting yang harus ditanamkan dalam mindset adalah ketika kita transfer uang dari rekening ke e-wallet, uang itu adalah uang kita. Kejadian yang sering saya temui adalah ketika transfer dari rekening ke uang elektronik, dia beranggapan bahwa yang ada di uang elektronik itu harus dihabiskan. Padahal tidak harus dibelanjakan semua, kalau bisa malah dihemat sama seperti kita memperlakukan uang yang ada di rekening tabungan. Jadi usahakan kalau mengisi uang elektronik ya sewaktu mau belanja saja.”
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan