Kumparan Logo

Mengenal Dokter Dinda Derdameisya, Ginekolog yang Aktif Bikin Konten Edukasi

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG, FFAG Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG, FFAG Foto: Dok. Pribadi

Ladies, apa yang kalian pikirkan bila bertemu dengan sosok dokter spesialis obstetri dan ginekologi atau obgyn? Gambaran yang ada di benak kalian pastilah sosok yang sibuk memeriksakan kondisi kehamilan dan membantu persalinan perempuan. Namun, pernahkah kalian membayangkan seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang juga content creator?

Ya, dia adalah dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG, FFAG atau yang akrab disapa Dinda. Selain sibuk menjalankan profesi utamanya sebagai dokter spesialis kebidanan dan kandungan di Brawijaya Hospital Antasari, Jakarta Selatan, ia juga aktif berbagi konten edukatif di media sosial.

Bila berkunjung ke akun Instagram pribadi Dinda (@tanyadokdin), kalian pasti akan betah mengeksplorasi konten-konten seputar kesehatan perempuan, seperti vagina, menstruasi, dan lainnya.

Tidak cuma itu, Dinda juga menyentuh isu perempuan secara keseluruhan—seputar menjadi ibu rumah tangga, pernikahan, dan lainnya—dengan rekan-rekan yang lebih kompeten di bidangnya, seperti psikolog.

Kepada kumparanWOMAN, Dinda juga menyampaikan alasan di balik ia menaruh begitu banyak perhatian terhadap isu perempuan. Dinda menyatakan, “Mungkin karena banyak perempuan yang sebenarnya tidak tahu di dalam hidupnya itu sebenarnya ada problem. Sama seperti aku kemarin, aku saja sempat berpikir kalau mengerjakan segala sesuatu itu harus beres. Padahal sebagai ibu yang mengurus anak juga, kita tidak bisa harus sempurna semuanya.”

Untuk tahu lebih lengkap mengenai perjalanan Dinda sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang juga terjun di dunia content creator, simak kisahnya berikut ini.

Apa kesibukan Anda sekarang?

Sejak pandemi, aku memang praktik di satu rumah sakit yang dekat rumah, Brawijaya Hospital Antasari. Kalau dulu ada praktik yang mulai malam, sekarang dari rumah sakit menutup poli malam. Jadi, semua selesai sebelum magrib dan ada waktu buat keluarga saat malam.

Sebenarnya jam praktik aku tergantung dari jadwal sekolah anak. Anak aku ada dua, yang satu umurnya sembilan tahun, yang satu lagi umurnya tiga tahun. Yang besar sudah masuk sekolah, dia special need dan harus dengan guru pendamping. Dia juga cuma sendiri di sekolah dan teman-temannya online. Kalau kira-kira anak bisa ditinggal, sekolah sendiri, aku praktik jam sembilan pagi. Tapi namanya obgyn bisa ada panggilan emergency kapan saja.

embed from external kumparan

Sejak kapan Anda berkarier sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi?

Saya lulus obgyn 2014. Kemudian tahun 2015, saya sempat mau lanjut sekolah subspesialis kanker dan syaratnya harus di rumah sakit pemerintah. Jadi, aku pernah bergabung di Rumah Sakit Dharmais sekitar dua setengah tahun.

Tapi aku hamil dan memutuskan mundur. Jadi, aku sekarang praktiknya di swasta. Akhirnya aku membanting setir peminatan ke aesthetic gynecology, fellowship untuk aesthetic gynecology waktu itu belum ada di Indonesia. Jadi, aku ambil di Filipina.

Kenapa Anda memilih berkarier sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi?

Jadi sejak bapak meninggal, aku selalu mau menjadi anak yang bisa membuat ibu bahagia. Ibu sangat terpukul dengan kepergian bapak yang cukup mendadak. Aku tahu ibu bahagia banget kalau salah satu anaknya ada yang bisa menggantikan bapak yang juga dokter spesialis kandungan.

Jadi, sepanjang aku kecil sampai kuliah, aku selalu berusaha untuk membuat ibu bahagia. Tapi semua itu tanpa paksaan. Aku kepingin juga sehingga melakukannya juga enteng. Karena kalau menjadi spesialis dipaksa, itu sudah tidak mungkin. Stres pasti.

Kenapa Anda juga aktif berbagi konten edukatif seputar kesehatan perempuan di media sosial?

Pada dasarnya, aku senang bertemu orang dan ada rasa ingin tahu. Tadinya, aku ingin mengembangkan YouTube TanyaDokDin by dindaderda. Aku juga punya banyak ide, ingin bikin sesuatu yang kreatif, dan fokus di female reproduction health. Kemudian, aku memilih untuk membahas tentang perempuan secara lebih luas.

Bukan cuma organ reproduksi perempuan, tapi juga di luar dari spesialisasi aku. Aku mengajak orang yang lebih kompeten juga di bidangnya. Misalnya, topik mental health, aku mengajak psikolog. Masalah pada kehamilan, setelah bayi lahir ada baby blues yang perempuan mungkin tidak sadar karena terlalu fokus di kehamilan, misalnya.

Atau misalnya mungkin salah satu topik yang sempat ramai, seperti child free. Atau para perempuan yang menunda menikah tapi usia sel telurnya makin tua. Aku ingin lebih luas ke masalah itu. Itu sesuatu yang sebenarnya bikin aku penasaran juga. Kemudian, aku juga post ke Instagram.

Mulai kapan fokus bikin konten di YouTube dan Instagram?

Januari 2020, saat sebelum pandemi. Aku bikin YouTube, setelah itu di Instagram.

Bagaimana cara membagi waktu antara praktik sebagai dokter dan bikin konten?

Sebenarnya ini bikin aku agak burnout. Terakhir-terakhir itu karena bikin konten bisa sampai jam 11 malam. Aku kerjakan habis anak-anak tidur. Karena kalau sudah sama anak-anak tidak mungkin mengerjakan apa pun, kecuali kalau kita lagi di luar rumah. Kalau sudah sampai di rumah, anak-anak berharap ibunya pay attention ke mereka.

Aku ada tim untuk desain dan harus atas approval aku. Ide juga dari aku. Jadi aku baru bisa mengerjakan konten di atas jam sembilan dan sepuluh malam. Di jam biasa, aku mengerjakan pekerjaan aku yang sebenarnya sebagai dokter obgyn. Makanya, terakhir-terakhir ini, aku sempat tidak terlalu mengejar banget IG Live. Aku jarang post karena sejak sebulan terakhir mau istirahat dulu.

embed from external kumparan

Kenapa penting mengangkat kesehatan perempuan secara general?

Mungkin karena banyak perempuan yang sebenarnya tidak tahu di dalam hidupnya itu sebenarnya ada problem. Sama seperti aku kemarin, aku sempat berpikir kalau mengerjakan segala sesuatu itu harus selesai. Misalnya kita ada masalah, pokoknya itu harus diselesaikan. Semua harus tertata padahal sebenarnya let it go saja. Karena kalau kita punya pikiran masalah itu harus beres, tertata, dan rapi, kita cenderung menjadi stres menjalani keseharian.

Sebagai ibu yang mengurus anak juga, kita tidak bisa harus sempurna semuanya. Bisa menjadi masalah kalau kita mengharapkan segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginan kita dan sempurna. Padahal segala sesuatu harus lebih fleksibel. Nah, fleksibel dari seorang perempuan itu sepertinya dibutuhkan juga supaya tidak stres.

Karena itu juga mengangkat soal mental health pada perempuan?

Iya. Kunci dari keluarga yang sehat ada pada ibu. Sehat fisik dan mental. Kalau ibu sakit fisik maupun mental, sudah pasti tidak bisa mengurus anaknya dan keluarganya.

Seberapa penting perempuan menjaga kesehatan organ intimnya?

Penting sekali. Mau sudah menikah atau belum menikah. Mau sexual active atau tidak. Apa pun fasenya, organ reproduksi perempuan berisiko menyebabkan penyakit bila tidak dijaga.

Bagaimana dukungan keluarga sampai bisa berkarier seperti sekarang?

Itu sudah pasti kebaikan dan kebesaran hati suami (tertawa). Dia itu tidak bisa melarang saya karena dia tahu saya tidak bisa dilarang. Jadi, dia membiarkan saya ‘tercebur’ karena dengan ‘tercebur’ saya tidak akan melakukan itu lagi.

Tadi saya juga bilang kalau saya di atas jam sembilan mulai menyusun konten. Suami saya mengerti soal itu. Tapi satu bulan terakhir, saya ingin istirahat. Di sinilah waktu saya membayar kesibukan kerja kemarin-kemarin. Sekarang, saya lebih senang masak dan menyiapkan sesuatu buat mereka. Lebih senang menyiapkan sesuatu buat mereka. Akan lebih menyeimbangkan kehidupan kerja dan keluarga.

Masih sempat me time?

Dulu aku anggap me time aku adalah menyetir ke tempat praktik. Sampai sebulan yang lalu, aku benar-benar burnout dan mengambil program meditasi di Bali. Aku mulai paham bahwa aku harus punya me time yang panjang, yang lebih respect sama diri sendiri.

Akhirnya, aku baru tahu kalau me time itu tidak sekadar menyetir sendirian ke rumah sakit untuk praktik. Tapi me time yang benar-benar membuat nyaman. Akhirnya, salah satu me time aku sekarang adalah masak. Aku ingin masak makanan enak dan sehat untuk diri sendiri. Bonusnya, aku masak untuk satu keluarga.

Apa pesan untuk perempuan yang ingin berkarier sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi seperti Anda?

Di dunia kesehatan ada dua pilihan. Jenjang karier akademis atau sampai spesialis saja seperti aku. Kalau akademis akan jadi subspesialis, doktor, atau profesor.

Sebenarnya harus ngotot dan harus punya pikiran bahwa kita bisa. Jadi jangan pernah dipaksa. Kalau ingin menjadi dokter, jangan ada paksaan dari orang tua, pacar, rasa gengsi, atau apa pun. Itu yang aku lakukan. Jadi, aku memang agak ngotot untuk di sini dan jangan takut untuk kehilangan teman bermain, teman bergaul, karena belajar melulu (tertawa).