Kumparan Logo

Perempuan Afghanistan Ramai Beli Burqa, Harga Naik hingga 10 Kali Lipat

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

Wanita Afghanistan berpakaian burqa berdiri dengan barang-barang bantuan yang diterima dari sebuah badan amal di Herat. Foto: AFP
zoom-in-whitePerbesar
Wanita Afghanistan berpakaian burqa berdiri dengan barang-barang bantuan yang diterima dari sebuah badan amal di Herat. Foto: AFP

Kembali berkuasa, Taliban diperkirakan akan membatasi pergerakan masyarakat Afghanistan, terutama perempuan. Meski dalam konferensi pers terbaru pada Selasa (17/8), juru bicara Taliban menyatakan akan mempedulikan nasib perempuan, namun pengalaman pahit selama 20 tahun ketika Taliban menguasai Afghanistan pada 1996 sampai 2001 membuat para perempuan merasa ketakutan dan tak aman ketika Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan.

Kondisi ini tak hanya membuat mereka mengurangi aktivitas dan berdiam diri di rumah, tapi juga berjaga-jaga demi keselamatan. Salah satunya adalah dengan membeli burqa. Hal ini pun sontak membuat penjualan burqa di Afghanistan menjadi meningkat dan busana yang menutupi tubuh perempuan dari kepala hingga kaki berwarna biru ini mengalami kenaikan harga.

Wanita berjalan melalui jalan di Ghazni. Foto: Wakil Kohsar / AFP

Sebelumnya Burqa telah menjadi salah satu barang yang jadi incaran karena di masa pemerintahan Taliban dulu, perempuan diwajibkan mengenakan busana tersebut. Jika melanggar, mereka akan dihukum. Ini menjadi penyebab mengapa perempuan berbondong-bondong membeli burqa.

Mengutip The Guardian, Aref, seorang pedagang burqa di Kabul mengatakan bahwa tokonya jadi ramai pembeli setelah Taliban kembali berkuasa. Ia mengaku sebelumya yang banyak membeli hanya perempuan dari provinsi atau daerah, namun sekarang perempuan kota juga turut membeli burqa.

Farzana, yang melarikan diri dari desanya di provinsi Helmand ketika diambil alih oleh Taliban. Foto: Blanchard / AFP

Sebagian besar pembeli kami sebelumnya berasal dari provinsi-provinsi. Tapi sekarang perempuan kota juga ikut membeli burqa," ungkap Aref seperti dikutip dari The Guardian.

CNN melaporkan bahwa harga burqa bahkan meningkat hingga 10 kali lipat. Salah satu sumber mengatakan bahwa para perempuan berusaha menyerbu pasar pada Minggu (15/8) untuk membeli burqa sebelum toko ditutup paksa.

Tak sedikit pula perempuan yang takut karena tidak sempat mempersiapkan diri, termasuk membeli burqa. Seorang perempuan yang tak mau disebutkan namanya demi alasan keselamatan mengatakan pada CNN bahwa ia dan keluarganya berencana membuat burqa dari sprei atau kain penutup kasur.

Kalau keadaan semakin memburuk dan kami tidak memiliki burqa, kami harus memanfaatkan sprei atau sesuatu untuk membuat hijab berukuran besar," ungkap sumber tersebut.

Ia menambahkan juga kalau saat ini di rumahnya hanya ada satu atau dua burqa yang dipakai bergantian dengan ibu dan adiknya.

embed from external kumparan

Kondisi ini membuat sejumlah aktivis perempuan merasa khawatir. Aisha Khurram, seorang siswa dan mantan Perwakilan Pemuda Afghanistan untuk PBB pada 2019 mengungkapkan bahwa ia tak tahu bagaimana nasib perempuan muda seperti dirinya di masa mencekam seperti sekarang ini.

"Aku melihat ada banyak perempuan yang sebelumnya tidak mengalami pemerintahan Taliban. Mereka mengatakan tak mau mengenakan burqa. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada perempuan muda di Afghanistan. Mereka sangat cemerlang. Sekarang mereka hanya diam di rumah dan menebak-nebak apa yang akan terjadi berikutnya," ungkap Aisha Khurram, seperti dikutip dari Bloomberg.

embed from external kumparan

Diketahui, selama menguasai Afghanistan selama 20 tahun, Taliban membuat perempuan tidak diperbolehkan bekerja, anak perempuan tak boleh bersekolah, dipaksa menikah, mereka diwajibkan memakai burqa untuk menutup wajah, hingga tak boleh bepergian sendiri tanpa ditemani laki-laki. Semua perempuan yang melanggar akan dipermalukan dan mendapat hukuman cambuk dari polisi syariah.