kumparan
Woman4 Desember 2019 10:50

Rambut Rontok Lebih Banyak dari Biasanya? Bisa Jadi Anda Stres

Konten Redaksi kumparan
rambut rontok
ilustrasi rambut rontok Foto: Shutterstock
Kadang-kadang, kita tidak sadar sedang mengalami stres, sampai tubuh mulai menunjukkan beberapa perubahan dan muncul rasa tidak nyaman. Kita mungkin baru menyadarinya saat mulai mengalami gangguan pencernaan, gangguan siklus menstruasi, maupun terjadinya rontok pada rambut.
ADVERTISEMENT
Sekilas, hal ini mungkin tidak disadari, atau justru terasa membingungkan. Apalagi, bila rambut kita rontok lebih banyak dari biasanya, meski kita tidak merasa melakukan perubahan treatment yang berarti pada rambut. Di saat seperti ini, kita boleh merasa curiga bahwa ini bukan rontok biasa, melainkan rontok karena stres.
Menurut laporan Huffpost, fenomena ini bernama telogen effluvium--sebuah kondisi saat stres tinggi mengurangi jumlah rambut yang ada pada fase pertumbuhan dan membuatnya masuk ke fase istirahat. Akibatnya, rambut kita akan rontok dan terlihat menipis di beberapa bagian kepala.
WOMEN ON TOP - Life Balance
Ilustrasi perempuan sedang mengalami stres. Foto: Shutterstock
Dr. Julia Tzu, dermatolog sekaligus pendiri dan medical director Wall Street Dermatology di New York, AS menjelaskan, pada dasarnya, folikel rambut kita memiliki serangkaian fase kehidupan. Setelah fase pertumbuhan awal, folikel rambut akan masuk ke fase transisi, fase istirahat, baru masuk ke fase rontok.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, tak ada yang tahu pasti mengenai rentang siklus pertumbuhan rambut seseorang. Namun, stres benar-benar dapat mengubah siklus tersebut.
"Tidak ada yang benar-benar memahami proses biologis kompleks yang menentukan siklus pertumbuhan rambut. Namun, yang diketahui adalah, stresor memang mengubah jadwal tersebut dan membuat rambut masuk ke dalam fase telogen," ungkapnya, seperti dikutip Huffpost.
Akan tetapi, ini tidak berarti kita perlu selalu merasa khawatir bila rambut mengalami kerontokan. Pertama, kita harus memahami bahwa rambut memang akan rontok sekitar 50-100 helai per hari. Hal ini merupakan bagian dari siklus normal dan umumnya akan disusul dengan tumbuhnya rambut baru.
Selain itu, kita juga perlu memahami bahwa kerontokan rambut akibat stres tidaklah permanen--lain halnya bila kita mengidap kelainan imun bernama alopecia areata atau mengidap trichotillomania, kelainan yang membuat kita selalu ingin mencabut rambut dari tubuh.
ADVERTISEMENT
Umumnya, kita baru disarankan untuk pergi ke dokter atau dermatolog saat kerontokan sudah terasa tidak lazim. Misal, ketika ada begitu banyak rambut yang rontok saat mencuci atau menyisir rambut, atau ketika terjadi penipisan rambut di beberapa bagian kepala.
Ilustrasi merawat rambut agar kuat
Ilustrasi merawat rambut agar kuat Foto: Shutterstock
Di luar itu, kita disarankan tidak perlu merasa panik. Kita juga bisa mengingat penjelasan Dr. Lauren Ploch, dermatolog dari Georgia Dermatology and Skin Cancer Center, Amerika Serikat, yang mengatakan bahwa kerontokan rambut adalah salah satu mekanisme pertahanan alami tubuh.
"Saat mengalami stres, badan kita akan masuk ke mode pertahanan darurat dan akan mengurangi sumber daya dari fungsi tubuh yang dianggap kurang penting bagi kehidupan, termasuk seperti pertumbuhan kuku dan rambut," ungkap Dr. Ploch.
ADVERTISEMENT
Sehingga, kita tidak perlu merasa panik maupun pusing mencari cara kembali menumbuhkan rambut. Alih-alih memusingkannya, kita justru disarankan untuk mengubah gaya hidup dan berusaha mengurangi stres--hal utama yang menyebabkan terjadinya telogen effluvium. Selain itu, menurut Healthline, kita juga bisa mengonsumsi vitamin yang mendukung pertumbuhan rambut, seperti vitamin C, vitamin B, juga vitamin E.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan