Role Model: Silvia Yohana, GM of Active Cosmetic Division L’Oreal Indonesia

14 Juli 2021 10:55
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Role Model: Silvia Yohana, GM of Active Cosmetic Division L’Oreal Indonesia (2026)
zoom-in-whitePerbesar
Silvia Yohana, GM of Active Cosmetic Division L’Oreal Indonesia. Foto: L'Oreal Indonesia
Tegas dan penuh passion adalah kesan pertama yang kami dapatkan saat melakukan wawancara online bersama General Manager of Active Cosmetic Division L’Oreal Indonesia, Silvia Yohana.
Dalam berkarier, Silvia sudah malang melintang di industri kecantikan Indonesia selama 18 tahun. Meski begitu, ia tak pernah sedikit pun merasa bosan dengan bidang yang ia jalani. Sebab sejak lama, ia mengetahui bahwa passion-nya ini sejalan dengan kegemarannya mengunjungi gerai-gerai ritel di berbagai negara untuk menemukan produk baru atau konsep inovatif yang bisa dijadikan inspirasi dalam bekerja. Baru-baru ini, Silvia sukses membawa produk kecantikan terkenal asal Prancis, La Roche Posay masuk ke Indonesia Brand ini terkenal dengan perawatan kulit yang mampu lawan jerawat.
Ada pepatah yang mengatakan kalau ‘Passion will get you to places’. Kami di L’Oreal selalu percaya bahwa kalau kita punya passion, tenaga, dan energi, kita bisa melakukan sesuatu lebih jauh dan lebih baik yang punya dampak tidak hanya untuk perusahaan dan konsumen, tapi juga untuk diri kita sendiri,” ungkap Silvia Yohana kepada kumparanWOMAN dalam wawancara online beberapa waktu lalu.
Role Model: Silvia Yohana, GM of Active Cosmetic Division L’Oreal Indonesia (2027)
zoom-in-whitePerbesar
Silvia Yohana dalam acara peluncuran La Roche Posay. Foto: La Roche Posay Indonesia
Dalam kesempatan wawancara bersama, ibu satu anak ini menceritakan tentang banyak hal. Termasuk bagaimana caranya menjaga tim tetap solid dan apa yang ia lakukan untuk menjalankan komitmen pemberdayaan perempuan di L’Oreal Indonesia. Ia juga berbagi cerita soal prinsip kepemimpinan dan apa saja yang bisa dilakukan agar perempuan selalu yakin dengan pilihan kariernya sendiri.
Simak perbincangan kumparanWOMAN dengan Silvia Yohana dalam rubrik Role Model kumparanWOMAN berikut ini.

Anda menyebutkan untuk bisa sukses dibutuhkan passion dan kecintaan tinggi terhadap suatu bidang, seberapa penting passion dalam perjalanan karier Anda selama ini?

Saya percaya kalau kita ingin menghasilkan yang terbaik dari apa yang kita lakukan, kita harus bisa menyukai apa yang kita lakukan. Jadi passion itu memang sangat penting dalam perjalanan karier. Bagi saya lebih mudah untuk bisa mendedikasikan waktu dan melakukan hal yang lebih karena apa yang saya jalani ini memang saya sukai.

Meski menjalani karier yang sesuai dengan passion, tentu masih ada saja tantangan yang dihadapi. Apa saja tantangan itu dan bagaimana cara mengatasinya?

Tantangan tentu ada. Masa pandemi ini menjadi tantangan terberat karena kita tidak membayangkan kalau kondisi ini akan berlangsung lama. Bagi saya, mempertahankan kinerja tim dan ketangkasan untuk bisa membuat rencana baru dalam waktu singkat bukanlah hal yang mudah.
Saya dan teman-teman leaders berusaha agar tetap bisa melibatkan tim dan membuat mereka berkembang dalam waktu bersamaan. Tantangan lainnya juga soal menjaga tim supaya tetap semangat dan mau berjuang bersama. Untuk itu saya sendiri berusaha menjaga agar tidak terlalu menekan performa mereka, tapi juga tetap mengingatkan untuk kerja keras supaya bisa mencapai KPI. Saya masih banyak belajar agar ini berjalan dengan baik.
Role Model: Silvia Yohana, GM of Active Cosmetic Division L’Oreal Indonesia (2028)
zoom-in-whitePerbesar
Silvia Yohana bersama tim. Foto: L'Oreal Indonesia

Lalu bagaimana gaya kepemimpinan Anda?

Saya menjalani konsep leading by example. Ini tidak mudah karena ada beberapa orang yang dikasih contoh langsung mengerti, tapi ada juga yang harus disesuaikan dulu agar bisa lebih paham. Dan itu tugas saya untuk bisa memastikan mereka bisa bekerja dan kompeten.
Lewat gaya kepemimpinan ini saya meyakini bahwa aksi itu lebih kuat daripada omongan. Apa yang kita lakukan akan lebih memberi dampak daripada sekadar ucapan. Jadi saya juga percaya kalau kita bisa menunjukkan bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan, tim kita juga akan percaya dan punya keinginan untuk berjuang bersama dengan kita.
Role Model: Silvia Yohana, GM of Active Cosmetic Division L’Oreal Indonesia (2029)
zoom-in-whitePerbesar
Dalam memimpin Silvia Yohana, menerapkan gaya leading by example. Foto: L'Oreal Indonesia

Supaya bisa berjuang bersama, apa yang Anda lakukan agar tim bisa lebih solid?

Di L’Oreal kami meyakini bahwa team is the new hero. Jadi tidak hanya ada satu orang yang bisa melakukan segalanya. Untuk bisa membuat tim bekerja dengan visi yang sama, penting bagi pemimpin untuk menarik perhatian mereka. Pertama adalah meyakinkan kalau ini adalah tujuan bersama, bukan hanya tujuan saya.
Kita juga harus kasih outlook, apa yang bisa kita lakukan agar bisa mencapai tujuan tersebut dan apa untungnya buat kita. Generasi milenial, gen Y dan Z itu pemikirannya sangat instan. Mereka akan selalu bertanya; kalau mereka melakukan sesuatu, apa untungnya buat mereka. Apakah saya akan naik jabatan? Kurang lebih mereka seperti itu.
Jadi kita tidak bisa menyamakan dengan generasi sebelumnya yang banyak menawarkan proses atau tahapan demi tahapan. Tapi saat ini, untuk generasi muda yang kita pekerjakan ini, kita harus bisa memberikan gambaran yang juga menarik perhatian mereka. Hal yang bisa mereka yakini, dan membuat mereka jadi berkomitmen.
Saya juga selalu berusaha meluangkan waktu untuk bertanya tantangan apa saja yang mereka hadapi. Pikiran mereka itu melaju begitu cepat, jadi kita tidak bisa membuat mereka menunggu feedback. Kita tidak bisa mengatakan mereka harus menunggu dua kesempatan lagi untuk mendapatkan tanggapan soal kinerja mereka. Menurut saya itu sudah tidak berlaku. Jadi kita harus meluangkan waktu supaya ada kesempatan untuk diskusi one on one, memeriksa mereka, memberikan perhatian, karena mereka menuntut akan hal itu.
Role Model: Silvia Yohana, GM of Active Cosmetic Division L’Oreal Indonesia (2030)
zoom-in-whitePerbesar
Silvia Yohana, GM of Active Cosmetic Division L'Oreal Indonesia. Foto: L'Oreal Indonesia

L’Oreal juga dikenal sebagai perusahaan yang peduli dengan pemberdayaan perempuan. Sebagai leader, bagaimana cara Anda memberdayakan perempuan di sekeliling Anda?

Menurut saya, saat ini ada standar ganda untuk perempuan karier. Kalau kita terlalu agresif atau demanding, nanti jadi tidak disukai. Tapi kalau kita keibuan dan lembut, atau friendly, kita bisa dianggap kurang kompeten. Selain itu, ada juga banyak ekspektasi terhadap perempuan bekerja. Kita dituntut untuk bisa sukses dalam karier dan keluarga. Dan ini kadang bisa jadi hal yang membingungkan bagi beberapa teman-teman perempuan di L’Oreal.
Oleh karena itu saya selalu mendorong semua orang, terutama perempuan, agar mereka lebih percaya diri untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran mereka.
L’Oreal itu memang perusahaan yang sangat mendukung pemberdayaan perempuan, tapi jangan berharap perusahaan akan tahu keinginan atau pemikiran kalian begitu saja. Semua harus diungkapkan dan dikomunikasikan.
Role Model: Silvia Yohana, GM of Active Cosmetic Division L’Oreal Indonesia (2031)
zoom-in-whitePerbesar
Silvia Yohana dalam salah satu acara L'Oreal Paris Indonesia. Foto: L'Oreal Indonesia
Kalau ada teman yang merasa down setelah berdiskusi dengan atasan, saya selalu bertanya apakah mereka sudah mengatakan dengan tepat soal apa yang diinginkan. Sebab memang tidak mudah bagi seseorang untuk mengungkapkan perasaan atau pikiran. Kadang apa yang diucapkan tidak sesuai dengan yang ada di pikiran. Untuk itu teman-teman perempuan harus bisa speak up. Saya yakin kita bisa mengatakan apa saja tanpa terkesan kurang sopan. Di L’Oreal ada banyak pelatihan supaya kita bisa lebih berkembang dalam karier. Kita bisa memanfaatkan fasilitas tersebut.

Terakhir, Anda begitu yakin dengan karier Anda, adakah tips untuk perempuan muda agar bisa yakin dan percaya diri dengan pilihan kariernya sendiri?

Prinsip saya adalah selalu belajar dari kesalahan. Jadikan kesalahan sebagai batu loncatan untuk belajar. Bagaimana cara kita supaya bisa jadi lebih baik setelah melakukan kesalahan. Kita harus bisa move on secara positif, ambil pelajaran terbaiknya dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Saya juga yakin kalau kita mau melakukan sesuatu yang baik, kita harus bisa menikmatinya. Paling tidak kalau passion tidak sesuai dengan hal yang disukai, kita harus bisa menyukai apa yang kita lakukan setiap hari. Kita harus bisa menemukan sesuatu yang sejalan dengan tujuan kita sebagai manusia.
Cari nilai-nilai yang sesuai antara pekerjaan dan perusahaannya. Bisa dari apa yang dihasilkan, apa yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi, atau bahkan apa yang bisa dipelajari. Temukan tujuan dalam pekerjaan yang dijalani supaya bisa lebih kuat, yakin, dan bisa berkomitmen. Supaya kita juga punya alasan tentang mengapa kita melakukan pekerjaan ini setiap hari.