Kumparan Logo
My Mom My Inspiration 2021- Prof Herawati
My Mom My Inspiration 2021, Prof Herawati.

She Inspires Award Herawati Supolo-Sudoyo: Kontribusi Atasi Pandemi Lewat Sains

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Prof. dr. Herawati Sudoyo, M.S, Ph.D untuk She Inspires Award MMMI 2021. Foto: Illa Schaffer. Fashion Stylist: Anantama Putra. Makeup: Anifa Tamara. Busana: Marks & Spencer. Aksesori: Pedro.
zoom-in-whitePerbesar
Prof. dr. Herawati Sudoyo, M.S, Ph.D untuk She Inspires Award MMMI 2021. Foto: Illa Schaffer. Fashion Stylist: Anantama Putra. Makeup: Anifa Tamara. Busana: Marks & Spencer. Aksesori: Pedro.

Meski usia tidak lagi muda, pembawaan diri dan tutur kata Peneliti Lembaga Eijkman, Prof. dr. Herawati Sudoyo, M.S, Ph.D. (70) tetap memancarkan ketegasan. Hal ini pula yang sepertinya ditanamkan ke dalam etos kerjanya sebagai peneliti, termasuk dalam membantu mengatasi pandemi COVID-19 di Tanah Air.

Kepada kumparanWOMAN, perempuan yang akrab disapa Hera ini bercerita dengan mantap tentang perannya dalam memastikan penelitian yang dilakukan Lembaga Eijkman sejalan dengan penanganan pandemi sejak semula.

“Saya adalah Wakil Kepala Lembaga Eijkman untuk Penelitian Fundamental. Saya memiliki laboratorium sendiri. Pada saat awal pandemi, semua laboratorium berhenti di sini, kecuali laboratorium dengan penyakit dan infeksi baru timbul. Nah merekalah yang bekerja membantu melakukan tes,” ujar Hera saat ditemui kumparanWOMAN di Lembaga Eijkman, November lalu.

Ia berbagi kisah di sela-sela pemotretannya sebagai salah satu sosok penerima She Inspires Award yang menjadi bagian dari rangkaian acara My Mom My Inspiration 2021.

Karena peran dan kontribusinya dalam penanganan COVID-19 di Indonesia khususnya terkait Health & Science, kumparanWOMAN memberikan penghargaan ini kepada Hera. She Inspires Award merupakan penghargaan khusus yang diberikan kepada perempuan Indonesia, terkait peran dan kontribusi dalam membantu masyarakat serta komunitas selama pandemi COVID-19.

Prof. dr. Herawati Sudoyo, M.S, Ph.D untuk She Inspires Award MMMI 2021. Foto: Illa Schaffer. Fashion Stylist: Anantama Putra. Makeup: Anifa Tamara. Busana: Zara. Aksesori: Pedro.

Lebih lanjut, Hera bercerita, “Tentu saja kami yang memiliki tanggung jawab untuk kelangsungan lembaga, tidak work from home (WFH), sebenarnya kita masih ada yang work from office (WFO). Secara fisik, kita selalu ada untuk memberikan dukungan moril terhadap para peneliti yang bekerja di laboratorium.”

Saat berita tentang virus corona muncul di Wuhan, China, Hera mengaku pihaknya sebagai peneliti harus selalu peka terhadap informasi terbaru. Ia juga sudah menduga bahwa akan timbul outbreak atau wabah di sana. Sejak itu pula, laboratorium di tempat ia bekerja sudah siap karena memang sudah terbiasa bekerja dengan virus. Jadi, mengerjakan virus corona yang baru timbul bukan hal sulit.

“Kebetulan saya waktu itu sedang berada di Myanmar bersama peneliti. Kita berbicara, ini ada outbreak di China kelihatannya. Tidak tahu penyebabnya apa, tapi virus. Sambil berbicara itu, saya kira yang namanya wabah itu cepat sekali,” tuturnya.

Hera menegaskan bahwa ketika itu pula, laboratorium tempat ia bekerja memutuskan apa saja yang akan dilakukan terkait penanganan penyebaran virus. Secara lebih detail, Hera juga menyampaikan beberapa hal yang dilakukan saat kasus pertama COVID-19 terjadi di Indonesia. Tepatnya Maret 2020, pihaknya mulai melakukan testing untuk menentukan ada atau tidak virus corona di Indonesia. Kemudian mencari tahu apakah virus tersebut sama dengan yang ada di Wuhan, China.

“Kita lakukan apa yang namanya sequencing. Dari situ kita bisa melihat bagaimananya. Prediksinya adalah apakah dia itu menimbulkan perubahan-perubahan yang bisa jadi itu dia cepat menyebar seperti delta itu kan, jauh cepat menyebar. Berapa banyak perubahan yang terjadi karena virus tersebut. Kemampuan ini adalah kemampuan berbagai macam laboratorium. Jadi total laboratorium di Eijkman ini jadi seperti laboratorium COVID-19. Karena semua peneliti akhirnya bekerja untuk COVID-19 saja,” ungkap perempuan kelahiran Pare, Kediri, Jawa Timur ini.

Tanpa tantangan, tidak akan ada solusi

Prof. dr. Herawati Sudoyo, M.S, Ph.D untuk She Inspires Award MMMI 2021. Foto: Illa Schaffer. Fashion Stylist: Anantama Putra. Makeup: Anifa Tamara. Busana: Zara. Aksesori: Pedro.

Pemerintah sendiri memberikan arahan yang jelas kepada lembaga penelitian, yakni membantu mendeteksi virus, melihat karakteristik virus, serta membuat vaksin dan pengobatan terkait virus yang ada.

Tentu, Hera menghadapi tantangan tersendiri dalam mengemban tugas tersebut. “Tantangannya sebenarnya kita belum mengetahui virus ini. Makanya kita semua masih belajar. Kalau awam mungkin tidak akan mengerti kenapa, kok, tidak bisa memberikan kepastian. Kenapa, kok, scientist-nya enggak tahu. Kita tidak akan bisa memastikan karena mungkin kita masih belajar terus,” tutur Hera.

Bagi Hera, tantangan ini yang justru membuatnya mampu bertahan di masa-masa sulit. Tanpa ini semua, ia justru tidak akan bisa menemukan jalan keluar untuk membantu menangani pandemi COVID-19. “Justru kalau ada hal yang sulit, kita akan berpikir dan mencari solusi,” ujarnya.

Kunci menjadi peneliti besar: jangan pernah berhenti

Prof. dr. Herawati Sudoyo, M.S, Ph.D untuk She Inspires Award MMMI 2021. Foto: Illa Schaffer. Fashion Stylist: Anantama Putra. Makeup: Anifa Tamara. Busana: Marks & Spencer. Aksesori: Pedro.

Sebagai peneliti, Hera telah meraih sederet prestasi dan penghargaan, mulai dari Toray Foundation Research Awards (1991-1992), UNESCO/Third World Academy of Science (TWAS) fellowship on Human Genome Program (1992), Riset Unggulan Terpadu Grant (1993-1996), dan masih banyak lagi.

Ia juga dikenal sebagai sosok yang memberikan terobosan besar dalam mengidentifikasi pelaku bom bunuh diri di depan Kedutaan Besar Australia pada tahun 2004. Ia memperkenalkan kepada masyarakat bahwa penelitian mendasar yang dilakukan di laboratorium dapat langsung digunakan untuk kesejahteraan masyarakat dan kepentingan nasional. Atas kiprahnya itu, Hera mendapat penghargaan Wing Kehormatan POLRI pada tahun 2007.

Baginya, ada satu kunci agar peneliti, khususnya perempuan, bisa menjadi sosok yang besar. “Kunci dari menjadi peneliti besar adalah bahwa kamu tidak pernah berhenti. Sekali kita berhenti, kita akan ketinggalan, dan kita akan sulit untuk mengejar kembali,” ujarnya.

Menurutnya, terus berkarya adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh karena berkiprah di dunia sains membutuhkan komitmen. Tanpa komitmen, sains tidak akan berhasil. Ucapannya ini juga merujuk pada perempuan peneliti yang sudah berkeluarga dan memiliki anak.

“Kalau kita berkomitmen, kita pasti bisa untuk membagi waktu kita seimbang. Karena itu memerlukan sesuatu kekuatan dan komitmen yang besar. Masalahnya, kelihatannya komitmen untuk mengembangkan karier itu yang tertahan. Tetapi bagaimanapun juga tetap membutuhkan dukungan dan dorongan dari keluarga,” ungkapnya.

--------------------------------------

Simak kisah inspiratif dari She Inspires Award dan artikel menarik lainnya dalam rangkaian program My Mom My Inspiration 2021.