Dia Ingin Melaut ketika Teman-temannya Mengejar Mimpi ke Dunia Perkuliahan

Guru fisika di SMA Al-Fityan School Tangerang. Pernah bercita-cita jadi raja bajak laut. Kadang menulis, kadang mengajar, kadang meneliti meme secara kritis dan sistematis. Menempuh pendidikan di University of Malaya, Malaysia.
Konten dari Pengguna
22 Februari 2022 11:58
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Kurnia Gusti Sawiji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Bagi Pur (bukan nama sebenarnya), laut memiliki daya tarik tersendiri. Remaja berusia 16 tahun itu tumbuh besar dekat dengan Pantai Anyer, dan sudah sedari kecil membantu almarhum ayahnya melaut. Dalam sesi pembelajaran daring, anak itu lebih sering mematikan kamera dan mikrofon ketika saya sedang membawakan rumus-rumus fisika yang memang bisa digunakan untuk menggoreng ikan sampai hangus. Tetapi ketika saya mengarahkan pembelajaran ke arah cerita-cerita pengaplikasian hukum-hukum fisika dalam berbagai aspek kehidupan, ia keluar dengan berbagai cerita pengalamannya. Kadangkala jenaka, kadangkala menakjubkan.
ADVERTISEMENT
Dari tabiatnya yang seperti itu, saya jadi tidak heran ketika mendengar dari seorang rekan guru bahwa ia memutuskan untuk tidak kuliah setelah lulus SMA. Bagaimana tidak, anak itu bahkan sempat hampir putus sekolah pasca pandemi, lantaran minimnya fasilitas untuk melakukan pembelajaran daring dan saking asyiknya ia melaut setelah sekolah memutuskan untuk memulangkan anak-anak asrama ke tempatnya masing-masing. Ia baru kembali mau bersekolah setelah dibujuk oleh rekan guru tadi, dan diberikan fasilitas untuk tinggal di asrama selama sesi sekolah.
Saya pikir anak itu tidak ditakdirkan untuk duduk rapi dan mencatat segala hal yang saya katakan kepadanya seperti sebuah alat rekam. Segala rumus tentang kalor atau torsi yang saya jabarkan kepadanya hanya masuk di telinga kanan dan keluar di telinga kiri. Tetapi ia akan merespon saya dengan pengalamannya membantu tetangganya yang seorang kuli, apa yang ia lihat dan pahami dari gerakan gelombang air laut, atau menelan cairan dalam batere secara tidak sengaja.
ADVERTISEMENT
Belajar Pur bukanlah sesuatu yang sudah ditetapkan negara melalui sistem dan kurikulumnya; ia belajar semata-mata dari apa yang ia lihat, alami, dan rasakan. Ia bersekolah bukan karena ia ingin menuntut ilmu ke kampus-kampus ternama atau mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Baginya bersekolah hanyalah sebuah rutinitas yang mau tidak mau perlu ia jalankan untuk tetap menjadi bagian dari masyarakat yang fungsional.
Laut adalah salah satu sumber ilmu terbesar. Melaut bisa jadi salah satu kegiatan yang sama bermanfaatnya dengan kuliah. (Sumber gambar: Frank Mckenna, Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Laut adalah salah satu sumber ilmu terbesar. Melaut bisa jadi salah satu kegiatan yang sama bermanfaatnya dengan kuliah. (Sumber gambar: Frank Mckenna, Unsplash)
Menuturkan cerita Pur ini mengingatkan saya kepada film-film seperti Laskar Pelangi, atau Negeri Lima Menara, atau bahkan Yuni yang dikirim untuk mewakili Indonesia di ajang Academy Award ke-94. Secara narasi, film-film tersebut menawarkan jalan cerita yang sama: sebuah bagian dari golongan masyarakat yang terbelakang secara sosial maupun finansial memperjuangkan nasibnya agar bisa sejajar dengan golongan lain yang berjalan seiring dengan kemapanan dan tatanan yang sudah ditetapkan oleh sistem. Sebuah pola pikir pun kita ciptakan: bahwa kesuksesan yang patut dirayakan adalah ketika kita mampu berjalan sesuai dengan tatanan yang ada.
ADVERTISEMENT
Saya pikir Pur adalah antitesa dari narasi sebegitu. Kita pernah mendengar bagaimana seorang anak tukang becak berhasil meraih nilai UN tertinggi dan lolos menembus kampus ternama. Seusai kuliah pula, ia berhasil mendapatkan predikat cum laude dan mendapatkan beasiswa ke Inggris. Sebuah prestasi yang menakjubkan! Sebuah perayaan bagi tatanan pendidikan nasional, dan motivasi bagi mereka yang belum menemukan jati diri mereka. Tetapi mungkin saat itu Pur sedang tidak melihat berita. Bisa jadi ia sedang belajar cara membetulkan mesin perahu ayahnya.
Sehingga kita pun berpikir: Pur kurang motivasi, ia perlu diselamatkan. Sudah menjadi tugas seorang guru untuk membangkitkan semangat Pur supaya ia menuntut ilmu sesuai dengan tatanan dan kemapanan yang berlaku. Lalu ketika anak itu tidak menghiraukan segala motivasi yang kita berikan, kita pun meletakkan label “anak bermasalah” di atas kepalanya. Lebih parah lagi, kita mulai bergunjing bahwa ia tidak akan memiliki masa depan yang baik. Ini tidak berlaku untuk Pur saja, tetapi semua anak berandal yang berpikir bahwa setelah lulus SMA, mereka bisa melakukan apa pun yang mereka mau.
ADVERTISEMENT
Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin menyampaikan sedikit pledoi untuk Pur dan anak-anak lain yang sepola pikir dengannya. Pledoi akan saya sampaikan dengan mengutip kalimat pembuka dari buku paling berbahaya bagi seisi dunia pendidikan nasional, berjudul Sekolah Itu Candu oleh Roem Topatimasang, begini bunyinya:
“Sebelum penjajah tiba, nenek moyang kita tak kenal ijazah, sekolah juga tak ada. Tapi mereka belajar! Belajar segala soal. Bertani, berladang... mengenal alat-alat penting. Semua orang adalah guru! Semua tempat sekolah!”
Kalimat di atas menjadi sangat berbahaya jika kita membacanya secara subversif di bagian awal, di mana kita akan mendapatkan konotasi bahwa ijazah dan sekolah adalah produk yang datang sebagai implikasi dari kedatangan penjajah. Tetapi kita tidak ingin berpikir sejahat itu; mari kita lihat penjabaran belajar pada kalimat-kalimat selanjutnya, dan memahami bahwa Topatimasang mengharapkan kita dapat melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi terhadap makna belajar dalam kehidupan kita.
ADVERTISEMENT
Saya pikir inti kalimat pembuka itu adalah keberadaan pendidikan akar rumput, yang kini berdiri bersama kaum marginal di pinggiran gelanggang pendidikan nasional. Tidak seperti target-target global yang dipaparkan oleh Kemendikbud dalam berbagai seminar keilmuan, hala tuju pendidikan akar rumput tidak menjadi sarana pemasaran badan-badan komersil bidang pendidikan seperti penyedia jasa motivasi, bimbingan belajar, atau konsultasi. Pemasaran bisnis pendidikan akan jauh lebih seksi jika diberi embel-embel “masuk PTN favorit” atau “menembus beasiswa luar negeri”.
Tentu, ini sama sekali tidak berarti masuk PTN favorit atau menembus beasiswa luar negeri adalah tujuan yang buruk. Kebalikannya malah: ini adalah tujuan yang sangat mulia. Siapa guru atau orang tua yang tidak bangga jika anak-anaknya berhasil mencapai dua prestasi yang disebutkan tadi?
ADVERTISEMENT
Namun ayo kita bertanya kembali kepada diri kita: di saat kita memasang baliho bertuliskan “Selamat dan Sukses kepada Peserta-peserta Didik yang Lolos Menembus PTN” di depan sekolah, akankah kita rela memasang baliho lain yang tulisannya: “Selamat dan Sukses kepada Peserta-peserta Didik yang Sukses Membuka Lapak Martabaknya Sendiri di Perempatan Jalan Kompleks”? Atau dalam kasus Pur: “Selamat dan Sukses untuk Ananda Pur yang Berhasil Menjaring 5 Ton Tangkapan”.
Ini hiperbola, tentu. Sedikit jenaka yang tidak jenaka dari saya. Tetapi setidaknya intinya bukan sebuah jenaka: sebagaimana kata almarhum Pak Pram, bersikap adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. Sejarah pendidikan adalah sejarah perjuangan, menjaga kesadaran; harkat, hakikat, dan martabat sebagai seorang manusia yang berdikari dan mandiri. Bergantung hanya dengan Tuhan dan alam, bukan dengan kekuasaan-kekuasaan administratif yang memainkan birokrasi sebagai alat penindas.
ADVERTISEMENT
Lagipula, mau tidak mau kita harus mengakui adanya indikasi-indikasi kecil bahwa mereka yang mapan dalam ukuran sistem (baca: para mahasiswa) seolah berada jauh dari kaum marginal akar rumput. Seolah mereka memiliki ruang gerak tersendiri yang terpisah dari perjuangan melawan penindasan. Ada yang sadar, tetapi dengan sigap dibungkam oleh kekuasaan yang otoriter. Ada juga yang tidak sadar, menganggap bahwa sebagai bagian dari kaum terpelajar, mereka memiliki kesibukan tersendiri dan oleh karenanya memiliki privilese untuk abai dengan apa yang terjadi di akar rumput.
Dalam keadaan sebegitu, tidakkah anak-anak seperti Pur, yang memilih untuk meninggalkan tatanan dan kemapanan sistem sehingga menjadi marginal, memiliki potensi paling mumpuni untuk bisa sadar terhadap pendidikan akar rumput? Saya pikir untuk menggali dan meningkatkan kesadaran itulah, peran seorang guru yang merdeka.
ADVERTISEMENT
Ketika mereka berhasil menemukan kesadaran itu, maka kita tidak punya alasan untuk tidak bangga dengan mereka, bukan?
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·