kumparan
search-gray
Tekno & Sains17 Maret 2020 20:21

Akhir dari Pandemik-pandemik Sebelum Corona

Konten kiriman user
Ilustrasi corona di China
Ilustrasi corona di China. Foto: Shutter Stock
Pandemik berarti wabah epidemik denga
Sebelum corona, ada berbagai pandemik yang melanda dunia seperti smallpox. Pandemik yang paling membuat putus asa dunia adalah black death yang membunuh kurang lebih 200 juta orang di abad ke 14, mengurangi ⅔ populasi benua Eropa.
ADVERTISEMENT
Black death
Black death terjadi pada tahun 1347 pertama kalinya di Eropa di Provinsi Gacony Inggris dibawa oleh tentara Mongol. Pandemik ini kemudian terbawa ke Italy, menyebar ke Prancis, Moscow, dan dengan segera melanda seluruh Eropa dan Rusia. Badan para penderita merespon dengan cara yang berbeda-beda. Beberapa menunjukkan bengkak di ketiak, betis, dan juga leher. Beberapa pasien menunjukkan kaki yang menghitam karena pendarahan di bawah kulit. Beberapa pasien yang lain batuk dan mengeluarkan darah karena sel sel yang mati di bagian kerongkongan. Penyebab black death sendiri dipercayai karena plak yang dihasilkan oleh bakteri Yersinia Pestis yang merupakan transmisi dari hewan pengerat yang ditularkan melalui kutu yang telah terinfeksi.
Bagaimana berakhirnya black death?
ADVERTISEMENT
Di antara sekian banyak teori, salah satu yang paling kuat adalah karantina. Orang-orang yang sehat saat itu hanya akan tinggal di rumah dan hanya akan keluar saat dibutuhkan. Sedangkan orang-orang dengan kondisi ekonomi yang lebih baik akan pergi ke tempat yang jarang penduduk dan mengisolasi diri di sana. Selain itu, setelah diterapkannya kebiasaan higienis yang lebih baik, jumlah orang yang terinfeksi menjadi berkurang. Praktik kremasi bagi pasien yang sudah meninggal yang menggantikan prosesi penguburan juga dipercaya sebagai suatu langkah yang cukup efektif. Butuh 200 tahun untuk Eropa bisa menggantikan populasi yang meninggal karena black death. Namun, bukan berarti black death sepenuhnya hilang di muka bumi. Plak masih dapat dihasilkan oleh bakteri dimana mana. Di kurun waktu 2010-2015 ditemukan sebanyak 3.248 kasus kematian yang disebabkan oleh plak yang dihasilkan bakteri. Kasus ini umumnya terjadi saat ada bakteri, hewan yang mentransmisikan, serta populasi manusia. Umumnya terjadi di Republik Kongo, Madagascar, dan juga Peru.
ADVERTISEMENT
SARS (Severe Acute Respiratory Syndrom)
Salah satu pandemik yang cukup terkini adalah SARS yang terjadi di tahun 2002 dan melanda sebagian besar benua Asia. Fatality rate dari SARS ini mencapai 10%, sedangkan Corona Virus memiliki fatality rate antara 1-3.4%. Namun, hanya dalam waktu beberapa bulan saja SARS dapat ditangani dengan baik. Namun, perbedaan SARS dan COVID 19 adalah detectability atau kemudahannya untuk bisa terdeteksi dini sebelum bisa menginfeksi lebih banyak orang. Ketika baru terinfeksi, pasien SARS biasanya langsung menyadarinya dan segera meminta tindakan medis. “Kasus corona virus ini relatif sulit untuk dideteksi dan diisolasi.” demikian kata Stuart Weston, seorang Post-doktoral di bidang Virologi dari University of Maryland.
ADVERTISEMENT
Bagaimana SARS berakhir?
Sama seperti black death, berakhirnya SARS juga dikarenakan penerapan karantina, isolasi, dan contact tracing atau melacak siapa saja yang telah melakukan kontak jarak dekat dengan pasien.
Ebola
Virus Ebola telah menginfeksi orang-orang di benua Afrika selama kurang lebih 40 tahun sejak tahun 1976 dan dinyatakan bersih di tahun 2015. Virus ini telah membunuh kurang lebih 11.000 orang dan menginfeksi 30.000 orang. Negara yang paling terdampak adalah Congo, South Sudan, Gabon, Ivory Coast, Uganda, Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.
Virus Ebola di bawah mikroskop tampak seperti spaghetti dan dipercaya ditransmisikan dari kelelawar melalui buah yang telah digigit oleh hewan ini. Ada 5 jenis virus, dan 4 diantaranya dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang sangat serius pada manusia. Gejala infeksinya antara lain muntah, batuk, dementia, dan juga pendarahan dari beberapa lubang di tubuh seperti hidung. Karena menyebabkan pendarahan, ebola juga disebut dengan hemorrhagic fever atau demam yang menyebabkan pendarahan.
ADVERTISEMENT
Bagaimana Ebola berakhir?
Sebagaimana pandemik lainnya, untuk menghentikan ebola isolasi, karantina, dan contact tracing juga dilakukan. Namun, dahulu ebola tidak ada obatnya sehingga dipertanyakan adakah manfaatnya untuk pergi berobat ke rumah sakit. Hal yang penting untuk dicatat, virus ebola paling menular justru ketika pasien tersebut sudah meninggal dunia. Jadi cara penguburan konvensional justru semakin mempercepat penyebaran ebola. Untuk mengatasi ini, jenazah kemudian dikuburkan di dalam kantong jenazah. Karena ebola merupakan virus yang telah lama dikenal, beragam vaksin kini telah tersedia, diantaranya adalah rVSV-ZEBOV yang telah terbukti aman dan efektif untuk Zaire strain Ebola virus.
1918FluVictimsStLouis.jpg
Ilustrasi Pandemik. Sumber Gambar : Wikimedia Common
Sumber :
https://www.theweek.co.uk/76088/what-was-black-death-and-how-did-it-end
https://www.washingtonpost.com/health/2020/03/02/how-is-coronavirus-outbreak-going-end-heres-how-similar-epidemics-played-out/
https://www.businessinsider.com.au/ebola-virus-timeline-possible-cure-2019-8?r=US&IR=T
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white