Pencarian populer

Kanker Tertua Ditemukan pada Jenis Kura-kura

Tanggal 4 Februari lalu dunia, terlebih dunia kesehatan memperingatinya sebagai Hari Kanker Sedunia. Bukan hanya sekedar perayaan, namun tujuan dicetuskannya Hari Kanker Sedunia diharapkan dapat memunculkan kesadaran pada masyarakat umum tentang faktor-faktor risiko penyebab kanker.

Lebih jauh, gerakan ini merupakan wadah dalam mensosialisasikan langkah-langkah yang berfungsi sebagai pencegahan atau pendeteksian dini terhadap jenis-jenis kanker.

Hal ini mengingat kanker merupakan penyebab kematian kedua terbesar di dunia, di mana diperkirakan 9,6 juta kematian terjadi di tahun 2018.

Secara umum, sekitar 1 sampai 6 kasus kematian disebabkan oleh kanker. Hari Kanker Sedunia yang diprakarsai oleh Union for International Cancer Control juga hadir untuk menghilangkan stereotipe atau mitos-mitos sosial mengenai kanker.

Penyakit yang menyerang jaringan dalam tubuh ini bahkan tidak hanya tumbuh di dalam sel-sel manusia, tapi juga dapat menjangkiti hewan peliharaan bahkan hewan liar sekalipun.

Kemunculan kanker sebagai penyebab kematian pada hewan diketahui sudah ada sejak ratusan juta tahun yang lalu, ketika era dinosaur masih mendominasi bumi. Kasus kanker tertua yang dialami hewan terjadi pada kura-kurang tanpa cangkang, dimana didapati adanya penyakit yang berkembang pada tulangnya.

Setelah 240 juta tahun berlalu, baru diketahui bahwa penyakit yang dialami kura-kura periode Triassic tersebut adalah kanker tulang.

Seperti yang tercatat dalam Jurnal JAMA Oncology, para peneliti menyebut ini mungkin menjadi kasus kanker tulang tertua yang pernah terungkap dan terekam ditemukan pada reptil, burung, dan mamalia.

Berdasarkan penuturan Dr. Bruce Rothschild, peneliti dari Carnegie Museum of Natural History di Pittsburgh-Pennsylvania, temuan kanker pada tulang kuno menjadi fenomena yang cukup langka.

Bukan karena tidak terjadinya fenomena kanker pada masa itu yang faktanya memang kanker juga dialami hewan-hewan purba, namun menemukan kanker pada fosil tanpa menggunakan sinar X (rontgen) merupakan pekerjaan yang menantang.

Dengan menggunakan mikroskopi dan tomografi terkomputerisasi (tipe sinar X), para peneliti Museum of Natural History, Institute Leibniz di Berlin-Jerman yang bergerak di bidang Penelitian Terkait Evolusi dan Keanekaragaman Hayati berkolaborasi dengan Rothschild menggambarkan fosil tulang paha fosil dari kura-kura tanpa cangkang yang dinamai Pappochelys rosinae.

Tulang tersebut ditemukan di barat daya Jerman di tahun 2013. Pappochelys rosinae sendiri merupakan nenek moyang dari kura-kura yang hidup di masa kini.

Fosil yang dari penemuan juga pernah ditemukan menyebut reptil ini hanya memiliki panjang 8 inch atau sekitar 20 sentimeter. Ciri yang melekat terletak pada tulang rusuknya yang lebar dan tidak adanya cangkang.

Berdasarkan temuan ini juga diketahui bahwa kura-kura bercangkak penuh baru muncul sekitar 205-210 juta tahun yang lalu. Gambaran tersebut mengungkap adanya tumor dari lapisan tulang yang disebut periosteum.

Rothschild menyadari bahwa terkadang sulit membedakan kanker dengan infeksi pada tulang kuno, namun tanda-tanda khusus yang biasanya ada pada infeksi, seperti pori-pori yang menonjol keluar, tidak ditemukan pada tulang paha tersebut.

Sebaliknya, yang tampak pada penampang tulang yakni osteosarkoma periostal ganas, yang menurut penuturan Rothschild merupakan jenis kanker tulang.

Tipe kanker ini sebelumnya dilaporkan terjadi pada amfibi Triassic (amfibi dari zaman Mesozoikum), namun kemungkinan menjadi yang tertua ditemukan pada hewan-hewan amniota (hewan-hewan yang embrionya berlapis membran), seperti reptil, burung, dan mamalia.

Lebih jauh, Rothschild menyatakan kanker tulang yang ditemukan pada makhluk ini sama dengan apa yang ditemukan pada manusia saat ini.

commons.wikimedia.org

Osteosarkoma seperti yang diketahui adalah jenis kanker tulang yang sering dijumpai pada remaja berusia di bawah 20 tahun dan pada anak-anak.

Kanker jenis ini akan memunculkan tulang yang tidak berkembang dengan baik dan biasanya ditemukan di ujung tulang berukuran panjang, seperti misalnya pada lutut.

Lebih spesifik, pria atau anak laki-laki akan cenderung akan lebih rentan terhadap osteosarkoma dibanding anak perempuan.

Fakta ini bukan menandakan bahwa osteosarkoma telah berpindah menjadi jenis kanker pada manusia, karena sesungguhnya jenis hewan tertentu dilaporkan teridentifikasi mengalaminya.

Hewan yang dimaksud berasal dari kelompok canine, dimana diketahui angka yang lebih besar ditemukan pada anjing dibandingkan pada manusia.

Kasus ini terutama dialami oleh anjing dari jenis yang besar dan tergolong memiliki umur yang cukup tua (6-12 tahun). Hal ini menjadi kenyataan yang bertolak belakang dengan karakteristik yang muncul pada manusia.

Terlebih jenis tulang yang diserang oleh penyakit ini pada anjing merupakan jenis tulang tua atau tulang yang sudah matang.

Selain anjing, osteosarkoma juga dapat terjadi pada kucing, namun dengan kasus yang terbilang jarang terjadi.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: