Pencarian populer

Kotoran Telinga Sebagai Warisan Nenek Moyang

Ilustrasi membersihkan telinga anak Foto: Shutterstock
Pada hakikatnya, makhluk hidup tumbuh dan berkembang dengan membawa kondisi-kondisi tertentu yang diwariskan dari nenek moyangnya. Mulai dari kondisi fisik, riwayat penyakit, hingga kepribadian.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi, pernahkah membayangkan jika ternyata aroma kotoran telinga juga merupakan salah satu yang diturunkan dari nenek moyang kita?
Pada orang Asia Timur misalnya, aroma kotoran telinga dan ketiaknya kebanyakan akan berbeda dari orang-orang yang bukan keturunan Asia. Dalam salah satu penelitian terhadap orang Kaukasia dan Asia Timur, diketahui kotoran telinga orang Kaukasia yang berwarna kuning memberikan aroma yang lebih kuat dibanding orang Asia yang berwarna putih kering.
Disebutkan pula dalam penelitian, orang Afrika memiliki kotoran telinga yang cenderung basah dan berwarna cokelat kekuningan, sementara orang Amerika asli hampir mirip dengan masyarakat Asia Timur yang umumnya memiliki kotoran telinga kering dan berwarna putih. Dengan demikian, kita dapat memperoleh informasi terkait etnis seseorang hanya melalui telinga mereka.
ADVERTISEMENT
Setidaknya hal tersebut yang diutarakan oleh seorang kimiawan sekaligus salah satu peneliti di Monell Chemical Senses Center di Philadelphia, Katharine Prokop-Prigge. Ia dan timnya terinspirasi untuk mengetahui, apakah kelompok-kelompok etnis tertentu memiliki bau kotoran telinga yang berbeda atau tidak.
Rasa penasaran ini muncul setelah ia mempelajari bahwa gen yang sama mampu mengontrol bau ketiak dan tipe kotoran telinga yang dihasilkan orang-orang. Peneliti juga berharap dapat mengungkap rahasia kesehatan yang tersembunyi melalui telinga.
Ilustrasi telinga. Foto: Shutterstock
Kimiawan lain, George Preti, menyebut kotoran telinga sebagai “sekresi tubuh yang terabaikan. Pada penelitian lain, dijelaskan bahwa seseorang dapat mengetahui jenis kelamin, status kesehatan, dan hal lain hanya dengan memperhatikan bau ketiak mereka. Preti beranggapan, ada kemungkinan kita dapat memperoleh informasi serupa melalui kotoran telinga seseorang.
ADVERTISEMENT
Pendapat tersebut diperkuat berdasarkan temuan kotoran telinga besar paus biru baru-baru ini, yang kemudian mengungkap sejarah hidupnya. Beberapa hal di antaranya terkait testosteron yang hadir seiring pertumbuhannya, hingga kadar stres yang diukur dari tingkat kortisolnya. Selain itu, diperoleh juga besarnya kontaminasi dari air yang diselami.
Perbedaan antara kotoran telinga ini, menurut Preti, disebabkan oleh gen tunggal pada genom. Perubahan yang terjadi pada gen tunggal tersebut kemudian memberikan perbedaan di kotoran telinga dan bau ketiak manusia.
Berdasarkan penelitian yang diterbitkan tahun 2011, disebutkan bahwa mutasi atau perubahan tersebut muncul sekitar 2000 generasi yang lalu, dan seiring waktu menjadi semakin umum terjadi di sepanjang kawasan Asia.
Saat ini, kebanyakan masyarakat Asia Timur dan hampir seluruh penduduk Korea kekurangan zat kimia di ketiak mereka, sehingga untuk menciptakan bau badan, diperlukan bakteri dalam prosesnya karena bakteri-bakteri tersebut mengandung varian dari gen ABCC11.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, kurang lebih 98 persen orang Eropa sudah memiliki gen dengan versi ketiak yang berbau. Bersamaan dengan, itu kotoran telinga mereka juga diketahui lebih lengket dan lebih berbau.
Dalam sebuah studi terbaru disebutkan dari kedua kelompok tersebut (Asia dan Eropa), 12 senyawa odiferous umum ditemukan di kedua kelompok tersebut. Akan tetapi, kotoran telinga orang Kaukasian laki-laki memproduksi 11 dari 12 senyawa lebih banyak.
Beberapa perbedaan yang terbesar adalah pada asam metilbutrit dan asam isovaleri yang berbau seperti kaos kaki berkeringat, serta asam heksanoid yang dideskripsikan berbau seperti kambing.
Walaupun terdengar menjijikan, namun membiarkan kotoran telinga di dalam indra pendengaran kita mampu memberi manfaat lebih dibanding membersihkannya. Selain dapat membuat telinga menjadi infeksi, membersihkan telinga akan membuat kita kehilangan manfaat-manfaat seperti:
ADVERTISEMENT
  • Pelembap alami yang mencegah kulit telinga bagian dalam dari kekeringan.
  • Memerangkap kotoran dan debu sebelum mencapai lubang yang lebih dalam.
  • Menyerap serpihan-serpihan dan sel-sel kulit mati.
  • Mencegah bakteri dan organisme menular lainnya untuk masuk ke bagian telinga yang lebih dalam.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.81