Tekno & Sains
·
10 Juni 2021 21:22
·
waktu baca 2 menit

Studi: Mikrobioma Usus Dapat Memengaruhi Respons Takut Pada Bayi

Konten ini diproduksi oleh Lampu Edison
Studi: Mikrobioma Usus Dapat Memengaruhi Respons Takut Pada Bayi (19716)
Ilustrasi: ketakutan |Gambar oleh Pezibear dari Pixabay
Tubuh manusia penuh dengan bakteri, virus, dan jamur, yang secara kolektif disebut sebagai mikrobioma. Organisme mikroskopis yang tak terlihat ini selalu dikaitkan dengan munculnya berbagai penyakit, namun ada juga yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh, serta berbagai mekanisme biologi lainnya. Studi terbaru mengungkapkan bahwa mikrobioma juga memengaruhi emosi dan perilaku manusia.
ADVERTISEMENT
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Nature Communications tersebut, para ilmuwan menemukan bahwa respons rasa takut pada bayi sebagian dapat ditentukan oleh susunan bakteri yang hidup di dalam usus.
Bayi dengan mikrobioma usus yang kurang seimbang – ada kelebihan jumlah bakteri usus tertentu – cenderung menunjukkan peningkatan perilaku ketakutan dalam percobaan, dibandingkan dengan bayi yang bakteri ususnya lebih seimbang secara keseluruhan.
Dilansir dari Science alert, eksperimen ini melibatkan lebih dari 30 bayi (masing-masing berusia sekitar satu tahun). Respons ketakutan dianalisis ketika partisipan ditakut-takuti oleh seorang peneliti yang menggunakan berbagai topeng gaya Halloween, seperti topeng kuda, topeng monyet, dan topeng alien.
Indikator rasa takut yang dinilai dari setiap anak adalah ekspresi ketakutan pada wajah, tekanan vokal, ketakutan tubuh, respons melarikan diri, dan respons terkejut.
ADVERTISEMENT
Meskipun kedengarannya tidak baik bagi bayi yang terlibat, Rebecca Knickmeyer, peneliti sekaligus dokter anak dan ahli saraf dari Michigan State University, memastikan, pengalaman itu tidak terlalu berbahaya karena peserta didampingi oleh orang tua mereka.
Menariknya, dari analisis sampel tinja bayi, yang diambil pada usia satu bulan dan satu tahun, ditemukan adanya hubungan antara susunan mikrobioma usus dan tingkat ketakutan mereka.
Secara khusus, jumlah Bacteroides yang lebih rendah dan peningkatan jumlah Veillonella, Dialister, Bifidobacterium, Lactobacillus dan genus yang tak dikenal dari Clostridiales dikaitkan dengan peningkatan perilaku ketakutan. Fenomena ini mungkin juga terlihat pada bayi yang menunjukkan ketidakseimbangan mikrobioma pada saat mereka baru lahir.
Knickmeyer menekankan, reaksi ketakutan adalah hal yang normal dalam perkembangan anak – meskipun mengatur rasa takut juga penting bagi kesehatan mental. Anak-anak harus waspada terhadap ancaman di lingkungan sekitar dan siap untuk meresponsnya. Tetapi jika mereka tidak dapat meredam respons itu saat kondisi aman, mereka mungkin berisiko mengalami kecemasan dan depresi di kemudian hari.
ADVERTISEMENT
Para peneliti tidak sepenuhnya yakin bagaimana dan mengapa distribusi mikrobioma usus dapat memengaruhi tingkat respons rasa takut, meskipun sebelumnya telah dibuktikan dalam penelitian pada hewan.
Analisis neuroimaging menggunakan pemindaian MRI memberikan beberapa bukti pendukung yang menunjukkan bahwa volume amigdala (yang memproses rasa takut di otak, di samping respons emosional lainnya) pada usia satu tahun mungkin juga terkait dengan komposisi mikrobioma, meskipun diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengeksplorasi petunjuk tersebut.
Hasil ini menunjukkan bahwa mikrobioma usus bayi dapat berkontribusi pada perkembangan reaktivitas ketakutan dan bahwa hubungan ini mungkin melibatkan amigdala.
Perlu dicatat, ini hanya studi percontohan dengan sampel yang kecil dan tidak terlalu beragam. Penelitian ini juga hanya dirancang untuk melihat apakah perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih menyeluruh terhadap hubungan potensial antara perkembangan perilaku ketakutan manusia dan mikrobioma.
ADVERTISEMENT
Peneliti optimis, dengan penelitian lebih lanjut, mikrobioma usus dapat muncul sebagai modulator utama perkembangan rasa takut dan dengan demikian dapat menjadi sarana untuk mencegah atau memperbaiki gangguan kejiwaan dan masalah perilaku yang ditandai dengan reaktivitas rasa takut yang abnormal.