News
·
3 Januari 2019 21:21

Yuk Jadi Warga Tanggap Bencana!

Konten ini diproduksi oleh Lampu Edison
Dengan menjadi warga tanggap bencana turunkan risiko kebencanaan di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Seperti marak diberitakan akhir-akhir ini negara kita banyak menghadapi peristiwa kebencanaan, mulai dari peristiwa gempa bumi di Palu, Dongala dan Nusa Tenggara Barat, tsunami di barat Pantai Provinsi Banten dan selatan Lampung, hingga longsor di Sukabumi Jawa Barat. Sepanjang tahun 2018 sendiri berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per tanggal 13 Desember 2018, terdapat 1,245 kejadian bencana yang didominasi oleh bencana alam. Secara keseluruhan 124 korban dinyatakan meninggal/hilang, 511 luka-luka dan lebih dari 777,000 jiwa terdampak bencana dan mengungsi. Data ini belum termasuk korban jiwa yang diakibatkan oleh bencana tsunami pada 22 Desember 2018 lalu. (Sumber: http://www.bnpb.cloud/dibi/, akses 03/01/2019)
Namun sebelum itu, apakah yang dimaksud dengan bencana? Dan bagaimana suatu peristiwa digolongkan sebagai bencana?
ADVERTISEMENT
Berdasarkan Undang-Undang nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana menjelaskan definisi bencana sebagai: Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Undang-undang tersebut juga menjelaskan bahwa peristiwa bencana yang terjadi dapat berupa bencana alam, bencana nonalam serta bencana sosial.
Lebih lanjut UNISDR (United Nations Office for Disaster Risk Reduction) memberikan terminologi untuk bencana apabila satu peristiwa berbahaya (hazardous event) telah secara serius mengganggu kegiatan fungsional suatu komunitas atau kelompok masyarakat. Dimana peristiwa berbahaya ini langsung bersinggungan dengan faktor keterpaparan (exposure), kerentanan (vulnerability) dan kapasistas (capacity) kelompok masyarakat tersebut yang pada akhirnya menyebabkan kerugian secara materil maupun imateril.
ADVERTISEMENT
Hal ini mengindikasikan bahwa suatu peristiwa dapat dikategorikan sebagai bencana apabila ada manusia sebagai aspek yang terpapar peristiwa tersebut dan mengakibatkan kerugian serta mengganggu aktivitas kelompok masyarakat terdampak. Dalam menghadapi risiko kebencanaan, faktor kerentanan dan kapasistas masyarakat (dalam hal ini dapat juga diartikan dengan pemerintah) dalam menghadapi bencana sangat mempengaruhi. Hal ini sayangnya tidak begitu diketahui dan disadari oleh masyarakat luas.
Dengan tingginya potensi kejadian bencana khususnya bencana alam di Indonesia, mengharuskan kita sebagai warga negara yang baik turut andil dalam meminimalkan risiko kebencanaan tersebut dengan ikut menurunkan tingkat kerentanan dan meningkatkan kapasitas kita dalam menghadapi bencana. Bagaimana caranya? Yaitu dengan dengan menjadi warga yang tanggap terhadap bencana. Yuk kita simak 3 tips berikut.
ADVERTISEMENT
1. Kenali potensi dan ancaman bencana di sekitar kita
Langkah pertama untuk menjadi pribadi yang tangguh dan tanggap terhadap bencana adalah mengenali adanya potensi ataupun ancaman bencana di sekitar kita. Seperti misalnya masyarakat yang tinggal di pesisir pantai akan memiliki potensi kebencanaan yang berbeda dengan masyarakat yang berdiam di lereng gunung berapi. Cara untuk mengenali potensi bencana adalah dengan secara teratur memperhatikan lingkungan, menggali informasi yang diberikan oleh instansi terkait seperti pemerintah daerah, badan pemantau aktivitas alam seperti BMKG atau badan penanggulangan bencana (BNPB/BPBD) tentang potensi bencana di daerah sekitar kita.
Selain itu, kita juga dapat menggunakan cerita rakyat atau sejarah yang diceritakan secara turun temurun sebagai pengetahuan tentang kebencanaan. Kita juga berkewajiban untuk meneruskan pengetahuan tersebut diperkaya dengan informasi terkini tentang bencana yang terjadi di sekitar kita kepada anak-cucu agar jembatan informasi ini tidak terputus. Karena bencana alam kebanyakan sifatnya periodik namun ada yang tidak dapat diperkirakan secara pasti kapan terjadinya seperti gempa bumi, walaupun sebagian yang lain memiliki tanda-tanda permulaan yang jelas seperti cuaca ekstrim, banjir, erupsi gunung berapi dsb.
ADVERTISEMENT
2. Siap sebelum terjadinya bencana
Langkah ini mewajibkan kita untuk up to date terhadap situasi terkini kondisi kebencanaan di sekitar kita. Selain itu kita juga harus memiliki perlengkapan darurat yang dapat dijadikan perbekalan ketika terjadi bencana. “Tas siaga bencana” dapat berisi: surat-surat berharga, air minum dan makanan kemasan secukupnya, pakaian ganti, obat-obatan pribadi, selimut, senter, powerbank, baterai cadangan, peralatan P3K dan yang paling penting tas ini harus mudah dibawa/dijangkau pada saat terdesak.
Selain itu kita juga bisa mengikuti simulai kejadian bencana yang banyak dilakukan oleh komunitas, pemerintah daerah, tempat kita bekerja, sekolah dan lain sebagainya sehingga kita telah terbiasa dan tahu lokasi berkumpul atau apa saja yang harus dilakukan ketika terjadi bencana.
ADVERTISEMENT
3. Tenang dan tahu apa yang harus dilakukan ketika dan setelah bencana terjadi
Dengan sering melakukan/mengikuti simulasi kita dapat lebih tenang dan tahu apa yang harus kita lakukan selama terjadinya bencana. Kita juga akan lebih paham apa yang dapat kita lakukan setelah terjadi bencana sperti kemana mencari tempat perlindungan, siapa yang harus dihubungi untuk mengabarkan kondisi dan lainnya. Hal ini tentunya sangat bermanfaat bagi diri kita sendiri dalam situasi gawat darurat dan mungkin dapat membantu orang lain.
Informasi lebih lanjut mengenai hal-hal yang dapat dilakukan selama dan sesudah terjadi pada berbagai jenis bencana dapat dilihat pada publikasi BNPB berikut: https://bnpb.go.id/uploads/migration/pubs/478.pdf
Yuk Jadi Warga Tanggap Bencana! (177759)
sumber gambar: pixabay

sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white