Pencarian populer

Bentrok Mesuji: Ada yang Tertembak, Ada Juga yang Putus Jari Tangannya

Sembilan korban selamat dalam bentrok warga di Mesuji, Lampung, dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Lampung, Kamis (18/7) | Foto : Obbie Fernando/Lampung Geh
Lampung Geh, Bandar Lampung - Saiful berhasil selamat dalam bentrok warga di Tanah Register 45, Kelompok Mekar Jaya, Mesuji, Lampung, meski mendapat luka bacok. Dia dan delapan warga Kelompok Mekar Jaya lainnya yang terluka kini dirawat di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polda Lampung.
ADVERTISEMENT
"Ada sembilan orang di sini, lainnya ada di mana kurang tahu. Tapi ini belum ada yang pulang," kata Saiful saat ditemui Lampung Geh di Ruang Perawatan RS Bhayangkara, Kamis (18/7).
"Ini kena bacok, sama ada yang kena tembak. Itu teman jari tangannya putus karena kena tembak. Kalau aku jari kiri putus," sambungnya.
Dia mengatakan masyarakat setempat ingin Tanah Register dikelola sendiri untuk dijadikan perkebunan, meski tanah itu milik negara. Namun, banyak preman yang kerap minta 'jatah' hasil perkebunan mereka setiap kali masa panen.
"Ya gimana, itu tanah negara. Kita ini kan hanya mau tanam dan mengolah tanah itu. Tapi di sana premannya banyak yang mau mintain (hasil panen)," ujarnya.
"Ya kami enggak terima, kok tiap kali panen hasil bumi kami diminta. Ya kami belalah. (Pihak) Sana nyerang, kami serang balik," lanjut Saiful.
ADVERTISEMENT
Kesaksian serupa juga diungkapkan Harianto, warga Kelompok Mekar Jaya yang juga dirawat di RS Bhayangkara karena terluka dalam bentrokan. Dia menyebut warga memang dipersenjatai senjata tajam saat bentrok.
"Mereka (warga Mesuji Raya) datang rombongan, ramai, bawa pedang. Datang langsung nyabut pedangnya babatin (membacok) orang. Yang luka parah itu pas tangannya kena pedang," kata Harianto.
Harianto menjelaskan Tanah Register itu sebelumnya hanya dipenuhi rumput liar. Kemudian warga Kelompok Mekar Jaya datang dan memanfaatkan tanah itu menjadi perkebunan. Sejak itulah banyak preman yang minta jatah.
"Di sana (sebelumnya) masih belukar. Waktu kami babat, kami tanam (berkebun--red). Mereka datang mintain hasil, itu premannya. Kami ya enggak mau diginiin terus," pungkasnya. (*)
----
Laporan reporter Lampung Geh Obbie Fernando
ADVERTISEMENT
Editor : M Adita Putra
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86