kumparan
31 Maret 2019 23:43

Review Film Spesial Screening Semarak Hari Film Nasional di Lampung

Lampung Geh, Bandar Lampung - Kehadiran komunitas pencinta film indie serupa Klub Nonton merupakan napas baru untuk para penyuka film pendek jebolan festival film, baik nasional maupun internasional yang selama ini merasa tidak tahu harus menonton di mana.
ADVERTISEMENT
Minggu (31/3), dalam rangka menyemarakkan Hari Film Nasional ke-69 yang jatuh pada 30 Maret, Klub Nonton mengadakan screening film Indonesia, berlokasi di Ruang Pemutaran Dewan Kesenian Lampung (DKL) di area PKOR Way Halim.
Berikut merupakan daftar serta ulasan dari 6 film buatan insan kreatif Indonesia yang diputar dalam acara spesial tsrsebut:
Cuplikan film animasi Kita Satu (2017) | foto: ist.
1. Kita Satu (2017)
Film yang disutradarai Aga Arsari merupakan film animasi berdurasi 8 menit karya lima mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) Lampung ini sempat menyabet gelar sebagai Film Animasi Terbaik Gemastik X tahun 2017.
Bercerita tentang Adit, seorang konten kreator yang berusaha mencari solusi untuk keresahan menyangkut perdebatan isu sentimen di Indonesia yaitu SARA yang juga kerap kali kita jumpai di lingkungan.
Cuplikan film Anak Koin (2016) | foto: ist.
2. Anak Koin (2016)
ADVERTISEMENT
"Nama saya Agus, anak koin dari pelabuhan Bakauheni, sudah jadi anak koin dari umur 8 tahun...." ujar salah satu cast di dalam film dokumenter tersebut dengan wajah polos dan penuh harap khas anak-anak.
Merupakan karya Chrisila Wentiasri, dari Dekat Rumah Produksi, film ini cukup unik lantaran dibuat untuk memenuhi tugas skripsi dengan prestasi sebagai Nominasi Dokumenter Pendek Terbaik FFI 2017.
Film ini terasa amat menyentuh hati dan terasa begitu dekat dengan penduduk Lampung, utamanya yang sering bepergian menggunakan moda transportasi kapal fery Bakauheni-Merak namun penikmat akan dibawa lebih dalam lagi menyusuri kehidupan anak koin.
Cuplikan film Fana (2019) | foto: ist.
3. Fana (2019)
Film karya sutradara Arhan Arunika ini sempat meraih gelar Top 100 Indonesian Short Film Festival SCTV 2019, dan merupakan film kolaborasi antara sineas Lampung dan Balik Papan.
ADVERTISEMENT
Film yang hanya berdurasi 4 menit ini membutuhkan kejelian dan daya imajinasi penonton yamg cukup tinggi untuk bisa menemukan benang merah cerita.
Sajian yang cukup unik sehingga film yang bercerita tentang toxic relationship antara Bara dan Fana itu tidak terkesan serupa film picisan biasa.
Cuplikan film Jurig (2016) | foto: ist.
4. Jurig (2016)
Film horor karya sineas Bandung hasil produksi 345! Films dan 3.A.M. Pictures ini disutradarai oleh Aria Gardhadipura dan sempat meraih penghargaan Best Fiction Bandung Independent Film Festival 2016.
Film yang terbagi menjadi beberapa part ini, cukup membuat penonton deja vu dengan cerita-cerita horor yang disajikan, bahkan di part terakhir seolah memainkan jiwa penonton dengan pengulangan adegan yang bikin geregetan.
ADVERTISEMENT
Cerita bermula dari bait-bait pantun dalam buku Sastra Sunda yang dibaca dengan iseng oleh Indra di perpustakaan kampusnya.
Cuplikan film Run Boy Run (2018) | foto: ist.
5. Run Boy Run (2018)
Film yang disutradarai oleh Aji Aditya yang merupakan sineas Lampung sekaligus Founder Klub Nonton ini diperankan langsung oleh aktor Chicko Jericho.
Menyabet penghargaan dalam ajang Official Selection Bali International Film Festival 2018 ini merupakan hasil kolaborasi sineas Lampung, Bandung dan Jakarta. Berkisah tentang ayah beranak Aryo dan Ranu, keluarga penderita HIV yang berjuang dan bertahan dari penyakit mematikan.
Cuplikan film Ballad of Blood and Two White Buckets (2018)| foto: ist.
6. Ballad of Blood and Two White Buckets (2018)
Merupakan karya sutradara Yosep Anggi Noen, dengan prestasi berupa Official Selection Toronto International Film Festival 2018 ini merupakan film spesial dalam acara pemutaran film di acara Semarak Hari Film Nasional pada Minggu (31/3).
ADVERTISEMENT
Diperankan langsung oleh aktris Lampung, Ruth Marini, film ini ber-setting di Yogyakarta. Tentang pasangan Ning dan Mur yang bertahan hidup dengan berjualan saren (darah sapi yang dibekukan) di tengah masyarakat yang menghindari makanan non-halal.
Film ini terbilang amat berani dalam 'menyentil' situasi dan kondisi sosial masyarakat Indonesia yang sedang terjadi saat ini. Terlebih Ruth Marini amat epic memerankan tokoh Ning di dalamnya.
Daftar film di atas merupakan beberapa di antara film pendek karya anak bangsa yang sarat akan makna dan berprestasi di belantara festival film nasional maupun internasional.
Seperti yang diamini oleh Ruth Marini saat diwawancara langsung oleh Lampung Geh seusai acara screening, bahwa dengan aneka latar budaya masyarakat Indonesia, merupakan nilai tambah yang unik dan tidak dimiliki negara manapun untuk sineas tanah air mulai menggarap idenya.
ADVERTISEMENT
"Kita itu, Indonesia secara landscape saja sangat beragam, budayanya, bahkan cerita rakyat sangat banyak. Hal yang otentik itu kalau diangkat dan dikemas sangat baik, dinilai sangat seksi untuk mereka (ajang festival film internasional)," pungkasnya. (*)
---
Laporan reporter Lampung Geh Latifah Desti Lustikasari
Editor : M Adita Putra
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan