Pencarian populer
USER STORY
27 Oktober 2018 16:47 WIB
6
0

Cerita di Balik Kastel-kastel Jepang

Kastel Himeji merupakan kastel terbesar dan paling sering dikunjungi oleh wisatawan di Jepang. Kastel ini juga ditetapkan oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Budaya Dunia pada tahun 1993 (Foto: Dok. Pribadi)

Bagi yang pernah menyaksikan acara “Benteng Takeshi” di televisi, pasti tahu bagaimana bentuk dan rupa benteng atau kastel khas Jepang seperti yang dimiliki oleh Takeshi. Saat ini di seluruh Jepang terdapat sekitar 100 kastel, baik itu yang masih utuh, separuh utuh atau telah direkonstruksi ulang maupun yang hanya tinggal reruntuhannya saja.

Dari sekian banyak kastel di Jepang, kastel Himeji yang berlokasi di kota Himeji merupakan kastel yang paling terkenal karena keindahan arsitekturnya dan kondisi bangunan yang terjaga dengan sangat baik sehingga dinobatkan sebagai Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO.

Dahulu terdapat ribuan kastel di Jepang yang dihuni oleh Daimyo atau bangsawan feodal yang menguasai tanah sekitar kastel. Namun seiring dihapuskannya sistem feodalisme sebagai akibat dari restorasi Meiji, kastel-kastel tersebut disita oleh pemerintah Jepang dan banyak yang dihancurkan oleh masyarakat di tengah-tengah sentimen anti Shogun Tokugawa dan feodalisme warisannya.

Saat ini kastel-kastel tersebut telah beralih fungsi menjadi taman, museum sejarah lokal atau tempat wisata. Beberapa kastel bahkan telah dipugar supaya terlihat sama seperti saat kastel tersebut masih digunakan. Kastel di Jepang biasanya terletak di tengah kota atau di atas bukit, sehingga dapat dengan mudah terlihat.

Selama berada di Jepang dalam kurun waktu sekitar tiga tahun, saya selalu berusaha menyempatkan diri untuk mengunjungi kastel yang ada di kota-kota yang saya kunjungi. Pada bagian dalam kastel yang berfungsi sebagai museum, terdapat berbagai barang-barang bersejarah peninggalan masa lalu baik yang original maupun dalam bentuk replika, serta berbagai informasi mengenai sejarah kastel tersebut. Selanjutnya pada tulisan ini, saya akan membahas mengenai fungsi dari kastel-kastel tersebut di masa lalu dan masa kini.

Bagian dalam kastel-kastel di Jepang saat ini banyak dijadikan museum yang memuat informasi mengenai sejarah kastel dan daerah kekuasaan kastel tersebut di masa lalu. Di dalam museum biasanya juga dipamerkan barang-barang peninggalan samurai atau bangsawan penghuni kastel tersebut dulunya, seperti di museum dalam Kastel Matsuyama ini (Foto: Dok. Pribadi)

Desentralisasi pemerintahan dan tatanan sosial

Meskipun kastel-kastel telah dibangun di Jepang sejak lama, namun pembangunan banyak kastel sebagai suatu kebutuhan pemerintahan, baru benar-benar mengemuka saat seluruh Jepang akhirnya bisa dipersatukan oleh Toyotomi Hideyoshi yang mengakhiri zaman perang yang penuh kekacauan di Jepang.

Zaman unifikasi ini disebut pula sebagai Zaman Azuchi-Momoyama (1573-1603) yang mengambil nama dari kastel Azuchi dan kastel Momoyama yang menjadi pusat pemerintahan Jepang. Untuk pertama kalinya seluruh Jepang ada dalam pemerintahan terpusat setelah sebelumnya terdiri atas negeri-negeri kecil yang berperang satu sama lain. Untuk memimpin seluruh Jepang itulah akhirnya dibangun kastel-kastel yang menjadi pusat administrasi dan markas militer dari provinsi-provinsi di Jepang.

Kastel tersebut ditinggali oleh bangsawan yang memimpin provinsi dan menjadi simbol otoritas Shogun (pemimpin tertinggi Jepang) yang dilimpahkan kepada bangsawan tersebut. Karenanya banyak kastel-kastel di Jepang dibangun di tengah kota atau di atas bukit yang memudahkan bangsawan pemimpin provinsi tersebut mengawasi kota dan tanah yang menjadi kekuasaannya.

Dengan posisinya sebagai pusat pemerintahan daerah di zaman feodal dan simbol otoritas Daimyo (bangsawan penguasa provinsi), kastel-kastel Jepang umumnya dibangun di tengah kota atau di atas bukit untuk memudahkan bangsawan pemilik tanah untuk mengawasi kekuasaannya seperti Kastel Marugame ini (Foto: Dok. Pribadi)

Kastel-kastel tersebut pada gilirannya menjadi sumber keteraturan dan tatanan sosial di seluruh Jepang, di mana para petani, pengrajin dan pedagang bekerja di tanah serta kota yang dikuasai oleh sang bangsawan. Mereka kemudian membayar pajak kepada sang bangsawan yang bertanggung jawab kepada Shogun. Hal ini mengakibatkan kota-kota di Jepang pada awalnya tumbuh dan berkembang di sekitar kastel.

Para Samurai yang mengabdi kepada bangsawan umumnya tinggal di bagian kota yang berdekatan dengan kastel, sementara para pedagang, petani, dan pengrajin hidup di area kota yang terletak lebih keluar. Kuil-kuil dan tempat-tempat hiburan biasanya terletak di pinggiran kota atau bahkan di luar.

Kastel Matsue ini dibangun tahun 1607 dan selesai tahun 1611. Kastel ini tidak berubah sedikitpun sejak saat itu, dan merupakan salah satu dari sedikit kastel Jepang yang masih mempertahankan struktur kayunya. Satu hal yang unik dari kastel ini adalah kastel ini dibangun tanpa menggunakan satupun paku dan murni dari batu dan kayu (Foto: Dok. Pribadi)

Restorasi Meiji: Berakhirnya feodalisme Jepang dan era kastel-kastel

Pada tahun 1869 tentara yang loyal kepada Kaisar Meiji mengalahkan tentara yang loyal kepada Shogun Yoshinobu Tokugawa, yang sekaligus mengakhiri era Tokugawa dan era keshogunan di Jepang. Kekuasaan tertinggi di Jepang dikembalikan kepada Kaisar, dan jabatan Shogun (panglima militer) dihapuskan untuk selamanya. Pemulihan kekuasaan kaisar ini disebut sebagai Restorasi Meiji, dan dianggap sebagai awal zaman modern di Jepang.

Selain memulihkan kekuasaan politik Kaisar Jepang, Restorasi Meiji juga merombak total sistem sosial Jepang yang sudah berjalan berabad-abad. Pada tahun 1871, sistem feodal dihapuskan, kastel-kastel dirampas dari para bangsawan oleh pemerintah, dan kelas Samurai dihapuskan. Selain itu hanya polisi dan tentara nasional Jepang yang diperbolehkan membawa pedang katana di muka umum. Pendek kata, semua orang Jepang akhirnya memiliki status sosial yang sama di mata pemerintah.

Kasel-kastel di Jepang kemudian menjadi sasaran kemarahan masyarakat awam yang selama berabad-abad menjadi warga kelas dua di bawah para Samurai yang mengabdi pada para bangsawan. Banyak kastel dibongkar atau dihancurkan sehingga hanya tersisa sekitar 100 kastel saat ini di Jepang.

Beberapa kastel tidak selamat dari kemarahan masyarakat Jepang atas feodalisme kaum Samurai dan bangsawan, seperti Kastel Sendai yang saat ini hanya tinggal reruntuhannya saja (Foto: Dok. Pribadi)

Kastel-kastel Jepang saat ini: dari istana Kaisar, taman kota, museum, sampai situs warisan budaya dunia

Imperial Palace di Tokyo dibangun di atas lahan dimana dulunya Kastel Edo berada. Saat ini merupakan istana Kaisar Jepang (Foto: Dok. Pribadi)

Pemerintah Jepang hingga saat ini terus melestarikan kastel-kastel yang tersisa untuk berbagai peruntukan. Kastel-kastel tersebut banyak yang dibuka untuk umum sebagai destinasi wisata setempat, sekaligus museum sehingga para pengunjung dapat melihat langsung bukan hanya bagian luarnya saja namun bisa masuk ke dalam dan naik sampai ke lantai tertinggi dari kasel-kastel tersebut. Banyak bird view kota-kota di Jepang bisa diambil dari lantai tertinggi kastel yang dulunya memang digunakan untuk pengamatan.

Banyak bird view kota-kota di Jepang bisa diambil apabila kita sudah berada di lantai tertinggi dari kastel yang ada di kota tersebut, seperti bird view kota Aizuwakamatsu yang bisa terlihat jelas dari lantai tertinggi Kastel Tsuruga di kota itu (Foto: Dok. Pribadi)

Pemeliharaan pemerintah yang sungguh-sungguh dalam menjaga keaslian kastel-kastel tersebut dihargai oleh UNESCO yang menobatkan Kastel Himeji sebagai Situs Warisan Budaya Dunia di tahun 1993, dan hingga saat ini Kastel Hikone masih dalam daftar tentatif UNESCO untuk juga menjadi Situs Warisan Budaya Dunia di masa depan.

Bagian luar kastel maupun sisa reruntuhan kastel banyak yang kemudian diubah menjadi taman kota oleh pemerintah setempat, sehingga masyarakat bisa bersantai menikmati udara segar sambil bernostalgia melihat peninggalan sejarah leluhur mereka dulu.

Halaman kastel juga kerap dimanfaatkan masyarakat untuk bersosialisasi, berkumpul atau sekedar berjalan-jalan menikmati bunga sakura atau keindahan musim gugur di Jepang. Salah satu contohnya adalah Kastel Okayama ini (Foto: Dok. Pribadi)

Pergi mengunjungi kastel-kastel di Jepang di antara bangunan-bangunan modern dan laju masyarakat post-industri Jepang selalu mengingatkan saya mengenai apa yang Bangsa Jepang berhasil lakukan dalam membangun identitas kebangsaannya. Mereka tidak pernah melepaskan ikatan dengan sejarah masa lalu tidak peduli sejauh apapun mereka melangkah menuju masa depan.

Mereka tidak pernah melepaskan ikatan dengan sejarah masa lalu tidak peduli sejauh apapun mereka melangkah menuju masa depan.

- -

Sisa Reruntuhan Kastel Takamatsu yang menjadi taman kota, berpadu selaras dengan gedung-gedung tinggi di sekitarnya (foto: Dok. Pribadi)

****

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23