Pencarian populer
USER STORY
7 Oktober 2018 11:54 WIB
..
..

Kamakura: Kampung Halaman Samurai Jepang

Yoritomo no Minamoto, Shogun pertama dalam sejarah Jepang yang juga seorang Samurai. Ia menjadikan Kamakura sebagai pusat Pemerintahan Jepang dan pada zaman pemerintahannya kelas Samurai mulai mendominasi struktur sosial Jepang (Foto: Dok. Koleksi Pribadi)

Buat para penggemar film atau cerita Samurai Jepang, mungkin pernah mendengar nama jagoan pedang seperti Musashi Miyamoto, Ryoma Sakamoto, atau bahkan tokoh fiktif Kenshin Himura di Rurouni Kenshin (Samurai X).

Samurai merupakan sebuah kelas sosial (kelas Ksatria) di masa feodal Jepang. Namun, kelas sosial Samurai tersebut baru muncul menjadi kelas utama dalam tatanan sosial di Jepang pada Zaman Kamakura (1185-1333).

Zaman Kamakura merupakan zaman pertama dalam pembabakan sejarah Jepang, di mana kekuasaan politik Jepang berada di tangan Shogun (Panglima Militer) dan Kaisar hanya menjadi simbol kepala negara. Zaman Kamakura mengambil nama dari Kota Kamakura, tempat di mana pusat pemerintahan Jepang di masa itu berada.

Kota Kamakura saat ini merupakan kota kecil yang bisa dijangkau dari Tokyo kurang dari satu jam dengan menggunakan kereta. Dan di sini kita dapat menyaksikan peninggalan sejarah Jepang pada masa ketika Samurai mulai muncul di tengah-tengah masyarakat Jepang.

Kelas Samurai dan Tatanan Sosial Masyarakat Jepang

Ilustrasi Pedang Samurai (Foto: flickr.com/soomness)

Pada tahun 1185, Yoritomo Minamoto memenangi Perang Genpei dan diangkat menjadi Shogun pertama oleh Kaisar. Posisi Shogun ini menjadikannya penguasa politik sesungguhnya di seantero Jepang, di mana Kaisar hanya menjadi simbol negara. Yoritomo Minamoto memusatkan pemerintahannya di Kamakura, sehingga zaman pemerintahan keluarga Minamoto disebut Zaman Kamakura.

Seiring dengan dimulainya pemerintahan Samurai di Jepang yang dipimpin oleh Shogun atau panglima militer, para Samurai yang notabene adalah ksatria terangkat derajat sosialnya di tengah-tengah masyarakat karena keahliannya di bidang militer dan bela diri.

Pada masa feodal, di bawah pimpinan para Shogun, Jepang terbagi atas banyak provinsi yang dipimpin oleh Daimyo atau bangsawan pemilik tanah. Selanjutnya para Daimyo ini membawahi para Samurai yang menjadi tentara para Daimyo tersebut. Kelas sosial para Samurai ini ada di atas para petani yang menggarap lahan Daimyo maupun para pengrajin dan pedagang.

Pada zaman ini, kelas Samurai sangat ditakuti dan dihormati, sampai-sampai ada aturan yang membolehkan mereka menebas rakyat jelata (petani, pedagang, atau pengrajin) yang menubruk mereka (entah sengaja atau tidak). Aturan itu disebut dengan 'Kirisute-Gomen' (Artinya: 'Maaf anda saya tebas').

Namun Samurai juga terikat oleh kode moral yang disebut dengan 'Bushido' (Jalan Ksatria). Kode moral ini berintikan pada kesetiaan kepada atasan (Daimyo), disiplin dan kehormatan, dan apabila melanggar hal tersebut maka konsekuensinya adalah hukuman mati dengan Seppuku (menyayat perut sendiri dengan sebilah pisau).

Nilai-nilai 'Bushido' ini sampai sekarang masih dihormati oleh masyarakat Jepang meskipun sistem feodalisme sudah lama dihapuskan. Nilai 'Bushido' yang diturunkan oleh para Samurai ini masih bisa dilihat lewat prilaku orang Jepang yang menjalankan pekerjaannya sehari-hari dengan profesionalisme, disiplin, dan rasa hormat.

Makam Yoritomo Minamoto, Shogun (pemimpin militer) pertama dalam sejarah Jepang. (Foto: Dok. Koleksi Pribadi)

Kamakura, Kota Kecil yang Sarat dengan Sejarah

Banyak yang membandingkan Kamakura dengan Kyoto yang terkenal sebagai Ibu Kota budaya Jepang, dan menjadi Ibu Kota terakhir Jepang sebelum dipindahkan ke Tokyo. Baik Kyoto dan Kamakura sama-sama pernah menjadi pusat pemerintahan Jepang, di mana setiap sudut kotanya dipenuhi oleh kuil-kuil (baik Buddha maupun Shinto) dan peninggalan sejarah lainnya.

Kamakura memang tidak sepopuler Kyoto sebagai destinasi wisata. Namun, lokasinya yang relatif dekat dengan Tokyo menjadikannya sebagai salah satu alternatif destinasi wisata yang patut untuk dikunjungi karena kecantikan kotanya dan nilai sejarah yang dimiliki sebagai tempat lahirnya para samurai Jepang.

Bila berkesempatan untuk berkunjung ke Kamakura, maka tempat paling popular di Kamakura yang perlu untuk didatangai adalah Kuil Kotokuin. Di kuil Buddha ini terdapat patung Buddha besar (Daibutsu) yang terbuat dari perunggu setinggi 13,5 meter.

Meskipun patung Buddha ini seolah terletak begitu saja di tempat terbuka, sebetulnya dulu patung ini dinaungi oleh atap dan bangunan kayu yang menjadi bangunan utama Kuil Kotokuin. Bangunan itu hancur oleh badai besar pada tahun 1248, dan sejak saat itu patung Buddha tersebut dibiarkan di tempat terbuka.

Patung Buddha Besar (Daibutsu) dari perunggu setinggi 13.5 meter di Kuil Kotoku selama berabad-abad telah menjadi ikon utama Kamakura, dan juga salah satu ikon pariwisata Jepang (Foto: Dok. Koleksi Pribadi)

Tempat lain yang juga banyak dikunjungi adalah Kuil Hase Dera. Di kuil ini terdapat ratusan patung Buddha dari batu yang diletakkan oleh para orang tua yang kehilangan anaknya akibat keguguran atau aborsi.

Patung-patung tersebut akan diletakkan di kuil tersebut selama satu tahun untuk kemudian digantikan dengan patung-patung baru.

Patung-patung Buddha di Kuil Hase Dera yang diletakkan oleh para orang tua yang kehilangan anaknya akibat keguguran dan aborsi (Foto: Dok. Koleksi Pribadi)

Sementara di pusat Kota Kamakura terdapat Kuil Shinto, Tsurugaoka Hachimangu, yang menjadi pusat tempat perayaan tradisional tahunan setempat. Selain ketiga kuil tadi, Kamakura masih memiliki banyak kuil dan tempat bersejarah lainnya yang dibangun di zaman yang sama sekitar 9 abad yang lalu.

Kuil Shinto Tsurugaoka Hachimangu di tengah kota Kamakura (Foto: Dok. Koleksi Pribadi)

Dengan mengunjungi Kota Kamakura yang dijuluki Buke no Koto (Kampung halaman para Samurai) kita bisa bernostalgia sambil membayangkan bagaimana para Samurai dulu hidup.

Kita dapat melihat langsung kuil-kuil tempat para Samurai dulu berdoa dan napak tilas tempat pertarungan para Samurai di Jalan Kewaizaka saat terjadi pengepungan Kota Kamakura di tahun 1333 yang menyebabkan berakhirnya Zaman Kamakura. Namun di luar semua itu, kita masih bisa melihat semangat para Samurai Kamakura masih hidup dalam disiplin dan etos kerja Bangsa Jepang.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: