kumparan

Menaklukkan Kitadake: Gunung Tertinggi Kedua di Jepang

Gunung Kitadake pada ketinggian 3.193 meter (Foto: Dok. Pribadi)
Berbicara mengenai Jepang, maka kita akan lebih akrab dengan nama Gunung Fuji sebagai gunung tertinggi di Jepang dengan tinggi 3.776 meter di atas permukaan laut. Sebagai negara yang sebagian besar wilayahnya adalah pegunungan, Jepang memiliki banyak lokasi hiking yang selalu ramai dikunjungi orang saat musim panas. Salah satu lokasi hiking yang menarik untuk dijajaki selain Gunung Fuji adalah Gunung Kitadake.
ADVERTISEMENT
Mengapa Gunung Kitadake?
Gunung Kitadake merupakan gunung tertinggi kedua di Jepang dengan tinggi 3.193 meter di atas permukaan laut. Gunung ini berada di wilayah Prefektur Yamanashi, tepatnya di Pegunungan Minami-Alps dan merupakan salah satu dari 100 gunung terkenal di Jepang. Laiknya juga Gunung Fuji, Gunung Kitadake memiliki pemandangan yang sangat indah dengan panorama Pegunungan Minami-Alps yang tidak dapat dijumpai di tempat lain.
Hal tersebutlah yang membuat saya tertarik mencoba untuk mendaki Gunung Kitadake sebagai bagian dari pengalaman saya selama berada di Jepang dalam kurun waktu 3 tahun. Oleh karena itu, saat ada ajakan dari dua orang teman untuk mendaki Gunung Kitadake, saya pun langsung mengiyakan. Saat itu saya berpikir bahwa mendaki Gunung Kitadake dapat jadi sebuah pemanasan sebelum saya nanti mendaki Gunung Fuji sampai puncaknya.
ADVERTISEMENT
Tetapi ternyata….
Mendaki gunung itu tidak sesederhana yang saya kira. Diperlukan berbagai persiapan baik dari segi ketersediaan perlengkapan hingga kesiapan fisik sebelum pendakian. Beruntung saya merencanakan pendakian bersama teman yang sudah memiliki pengalaman mendaki sebelumnya, sehingga saya sangat terbantu mempersiapkan diri sebaik mungkin. Bulan September dipilih sebagai jadwal yang ideal untuk mendaki karena puncak teriknya musim panas sudah berlalu dan udara mulai menjadi lebih sejuk.
Walaupun konon, mendaki gunung di Jepang seperti Gunung Kitadake tidak serumit mendaki gunung di Indonesia, yang rata-rata medannya lebih menantang, tetapi sebagai pendaki pemula, saya harus tetap melakukan serangkaian persiapan untuk mengantisipasi berbagai hal yang mungkin terjadi.
Persiapan sebelum mendaki
Berbelanja. Yup, berbelanja merupakan bagian dari persiapan mendaki yang menurut saya paling menyenangkan. Dimulai dari memilih tas punggung (backpack), sepatu mendaki (trail shoes), rain cover, baik untuk tas maupun sepatu, jaket windbreaker, jas hujan, celana panjang khusus hiking, sarung tangan, kupluk, masker, headlamp, oksigen portable, kantong air (water bladder), hingga tongkat (trekking pole).
ADVERTISEMENT
Awalnya, saya tidak berniat untuk berbelanja sebanyak itu. Akan tetapi saat memasuki salah satu toko olahraga yang ada di wilayah Shinjuku-Tokyo, semua perlengkapan mendaki jadi terasa penting, sehingga lumayan banyak juga yang akhirnya dibeli. Plus demi ketenangan jiwa daripada menyesal kalau ada apa-apa saat pendakian.
Dari semua perlengkapan yang dibeli, memilih tas punggung yang cocok ternyata memerlukan pertimbangan yang paling banyak. Mencari tas punggung yang nyaman dengan ukuran tidak terlalu besar tapi masih bisa memuat berbagai kebutuhan saat pendakian menjadi PR sendiri. Namun akhirnya, saya berhasil menjatuhkan pilihan kepada sebuah tas punggung khusus perempuan dengan model yang lumayan keren menurut saya dan dapat cukup menampung berbagai kebutuhan pendakian.
ADVERTISEMENT
Dengan alasan kepraktisan, saya dan kedua teman saya memutuskan untuk menginap di pondok penginapan yang berada di lereng Gunung Kitadake. Selain itu, makan malam dan sarapan juga telah disediakan oleh pihak penginapan, sehingga sangat memudahkan kami untuk tidak perlu membawa perlengkapan berkemah maupun makan.
Selain berbelanja, saya juga masih perlu melakukan olahraga rutin untuk membangun stamina selama pendakian. Sebagai orang yang tidak terlalu rajin berolahraga, saya akhirnya memaksakan diri untuk mulai jogging atau sekadar berjalan kaki minimal 1 jam/hari selama sekitar 3 minggu sebelum pendakian. Walau awalnya terasa berat, tetapi lama-lama asik juga karena terbiasa plus badan menjadi lebih bugar.
Saat packing
Memasukkan semua perlengkapan dan kebutuhan yang dirasa penting untuk mendaki ke dalam backpack baru ternyata menjadi dilema tersendiri. Selain berbagai perlengkapan yang telah dibeli, masih ada tambahan seperti baju ganti, kaos kaki, topi, vitamin dan obat-obatan pribadi, makanan ringan, air minum, plastik sampah, powerbank hingga kamera yang masih harus dibawa.
ADVERTISEMENT
Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya ada yang harus dikurangi dan bahkan ditinggal, seperti kamera. Ada rasa menyesal karena tidak bisa membawa kamera canggih saat pendakian, tetapi ukuran kamera yang lumayan besar dan berat membuat saya harus rela mengambil foto dengan dengan kamera ponsel saja.
Memulai perjalanan
Perjalanan dimulai pada Jumat malam, sesudah kami menyelesaikan tugas masing-masing di kantor. Dari Tokyo, kami naik kereta limited express selama dua jam menuju Kofu (Ibu Kota Prefektur Yamanashi) dan menginap semalam di salah satu hotel di sana. Keesokan harinya, setelah sarapan, kami melanjutkan perjalanan menuju daerah Hirogawara dengan menggunakan bus selama kurang lebih 2 jam perjalanan. Hirogawara merupakan starting point pendakian kami.
Bersiap memulai pendakian di Hirogawa (Foto: Dok. Pribadi)
ADVERTISEMENT
Pendakian
Pendakian menuju tempat pondok penginapan di lereng Gunung Kitadake memakan waktu sekitar 7-8 jam. Dari kedua teman seperjalanan yang pernah mendaki Gunung Fuji sebelumnya, saya mendapat informasi bahwa walaupun Gunung Kitadake tidak setinggi gunung Fuji, tetapi jalur pendakian Gunung Kitadake jauh lebih menantang dibanding Gunung Fuji yang memang lebih populer di kalangan turis mancanegara.
Selain itu, ketersediaan fasilitas penunjang, seperti pos istirahat, toilet hingga papan informasi berbahasa Inggris lebih lengkap di lokasi pendakian Gunung Fuji. Akibatnya, para pendaki Gunung Kitadake masih didominasi oleh masyarakat Jepang.
Beristirahat sejenak di salah satu jalur pendakian (Foto: Dok. Pribadi)
Udara yang panas ditambah jalan yang terjal membuat stamina cepat terkuras dan persediaan air segera menipis. Hal ini menjadi dilema karena semakin banyak minum, kemungkinan perlu ke toilet menjadi semakin besar. Untungnya selepas jam satu siang, kami tiba di area istirahat (rest area), sehingga dapat beristirahat sejenak untuk makan siang dan pergi ke toilet.
Suasana di rest area saat makan siang (Dok. Pribadi)
ADVERTISEMENT
Semakin siang, medan yang harus dilalui menjadi semakin berat. Beruntung saya didampingi teman yang siap membantu dan bersedia menyesuaikan kecepatan pendakian sesuai tempo saya. Menjelang sore, udara semakin dingin seiring dengan semakin tingginya kami mendaki. Segala usaha yang telah dilakukan terbayar dengan panorama pegunungan yang menakjubkan dan sejajar dengan awan putih yang biasanya hanya bisa kita lihat dari kejauhan.
Pemandangan di sekitar Pegunungan Minami Alps (Foto: Dok. Pribadi)
Akhirnya, sebelum matahari terbenam kami berhasil mencapai pondok penginapan dan beristirahat semalam di sana untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju puncak keesokan harinya. Udara yang dingin sekitar 3 derajat, membuat saya semakin bersyukur karena memutuskan untuk menginap di pondok yang hangat dan bukannya memasang tenda di luar sana bersama angin yang menderu.
Area Perkemahan di lereng Gunung Kitadake (Foto: Dok. Pribadi)
ADVERTISEMENT
Sunrise
Awalnya, kami berencana untuk melanjutkan pendakian menuju puncak pada jam 4 atau 5 pagi. Namun, karena suhu udara yang semakin dingin hingga menuju titik minus ditambah kondisi fisik yang masih lelah, akhirnya kami memutuskan untuk menyaksikan matahari terbit dari halaman pondok penginapan. Dan ternyata ada banyak orang yang memiliki ide yang sama dengan kami.
Matahari terbit dari lereng Gunung Kitadake (Foto: Dok. Pribadi)
Menyaksikan detik-detik matahari muncul dari balik cakrawala sambil menyeruput minuman hangat bersama banyak orang merupakan sebuah pengalaman baru buat saya pribadi. Ketika matahari akhirnya muncul dan mulai menerangi bumi, alam semesta terasa begitu damai dipagi hari.
Gunung Fuji yang tampak dari lereng Gunung Kitadake (Foto: Dok. Pribadi)
ADVERTISEMENT
Menuju puncak
Jalur pendakian menuju puncak (Foto: Dok. Pribadi)
Selepas matahari terbit, akhirnya kami bergerak kembali menuju puncak Kitadake. Udara yang mulai menghangat, turut membangkitkan semangat kami menuju puncak. Hingga akhirnya, setelah hampir satu jam berjalan, tibalah kami dititik puncak Gunung Kitadake.
Secercah perasaan haru menyeruak menyaksikan keagungan segala ciptaan Tuhan dari atas ketinggian dan mengingat kembali titik awal perjalanan kami kemarin. Semua lelah serasa sirna dan akhirnya terasa indah pada waktunya..
Bersama dua orang teman seperjuangan mencapai puncak Gunung Kitadake (Foto: Dok. pribadi)
Perjalanan kembali
Setelah puas berfoto di puncak Gunung Kitadake, kami kembali ke penginapan untuk merapihkan barang bawaan sebelum memulai kembali perjalanan menuruni Gunung Kitadake, dan kembali ke Tokyo. Awalnya, sulit membayangkan harus menempuh rute yang sama jauhnya untuk menuju kaki gunung karena kondisi fisik yang masih lelah. Namun ternyata, perjalanan menuruni gunung jauh lebih mudah dan menyenangkan sehingga waktu tempuhnya menjadi lebih singkat.
Pegunungan Minami Alps di kejauhan (Foto: Dok. Pribadi)
ADVERTISEMENT
Setelah berada di kaki Gunung Kitadake, kami kembali meneruskan perjalanan menuju Tokyo. Sore hari menjelang magrib, akhirnya kami tiba kembali di Tokyo bersama segala kenangan mengenai Kitadake.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan