kumparan
7 Oktober 2019 8:32

Usai Gempa Ambon, Warga: Belum Berani Kembali ke Rumah

Lokasi Pengungsian di Kebun Jum'at, Desa Tial. Dok : Lentera Maluku
Lentera Maluku. Gempa bumi yang melanda Ambon dan sekitarnya pada Kamis, (26/9), meninggalkan banyak kisah. Sebagian besar warga yang berdomisili di wilayah pesisir pantai, hingga hari ini belum berani untuk kembali ke rumah masing-masing.
ADVERTISEMENT
Baik yang rumahnya mengalami kerusakan maupun tidak mengalami kerusakan, mereka sama-sama merasakan trauma, kondisi ini juga diperparah dengan adanya isu hoaks bahwa akan terjadinya gempa besar yang disusul dengan tsunami.
Salah satu ibu rumah tangga, Hajijah (35 tahun), saat ditemui wartawan (4/10) di tenda pengungsian Desa Tial, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, mengaku belum berani untuk kembali ke rumah. Pada saat gempa, dia ikut mengamankan diri ke dataran yang lebih tinggi bersama suami dan tiga anaknya.
Hajija, pengungsi Desa Tial. Dok : Lentera Maluku
Hajijah sekeluarga mengungsi ke wilayah Kebun Jum’at. Area ini berada di bagian belakang kampungnya. Untuk sampai di sana, harus melewati jalan menanjak dan berbatu, dengan jarak satu kilometer. Jika hujan, jalan setapak yang dibuat seadanya itu akan sangat licin dan berlumpur.
ADVERTISEMENT
Karena kekurangan tenda, para pengungsi di Desa Tial tinggal berdesak-desakan. Iya, mereka tinggal bersama belasan orang lainnya. Satu tenda biasanya ditempati oleh 5-10 Kepala Keluarga (KK).
Hajijah bersama suami dan anak-anaknya menempati tenda bersama 5 KK lainnya yang terdiri dari 13 jiwa, mereka menghabiskan waktu bersama dalam tenda darurat. Bila hujan, maka tempiasan air akan membasahi bagian dalam tenda.
Tenda darurat di Kebun Jum'at. Dok : Lentera Maluku
Di tenda darurat tidak ada listrik. Untuk itu, sebagian warga yang memiliki lampu charger akan pulang ke rumahnya sebentar, untuk menampung daya lampunya dari pagi hingga siang, kemudian dibawa kembali ke tenda.
Ketersediaan air bersih menjadi masalah utama pengungsi di Desa Tial, karena di lokasi tersebut tidak ada sumber mata air. Kondisi jalan yang sulit membuat warga harus berjuang ekstra keras untuk mendapatkan air bersih. Sebagai persediaan, warga akan mengisi air pada jeriken kemudian dibawa ke Kebun Juma’at.
ADVERTISEMENT
Hajijah sekeluarga tidak bisa berbuat apa-apa, meski kerap dilanda kejenuhan. Kembali ke rumah bukan pilihan utama saat ini, mereka pasrah dan berusaha menikmati keadaan yang ada di tenda pengungsian.
“Bosan lagi, tapi ya mau bagaimana”, ungkap Hajijah pasrah.
Kondisi seperti ini tidak dialami oleh orang dewasa saja, namun anak-anak juga merasakan hal yang sama. Mereka belum bisa pergi ke sekolah, tidak bisa belajar dengan baik, apalagi anak-anak yang terbiasa dengan gadget dan nonton TV kini harus memendam keinginan tersebut.
Suasana sore hari di lokasi pengungsian. Dok : Lentera Maluku
Selama gempa, mereka pernah mendapat kunjungan dari Puskesmas Suli satu kali. Anak-anak pengungsi diperiksa dan diberi vitamin. Para pengungsi ini juga dikunjungi oleh staf Pemerintah Desa Tial, untuk melihat dan menanyakan keadaan warga.
ADVERTISEMENT
Selain Kebun Jum’at, titik lainnya yang menjadi pilihan untuk tempat pengungsian ada di Gunung Hulunglare, yang jaraknya berkisar 2 kilometer dari perkampungan, lokasi ini termasuk ekstrim karena tanjakan dan terjal.
Lokasi Pengungsian di gunung Hulunglare. Dok : Nur
Salah satu warga Tial yang mengungsi di wilayah tersebut, Nur, saat dikonfirmasi Lentera Maluku, Senin (7/10), juga mengatakan hal yang sama, bahwa mereka kesulitan air bersih. Bahkan banyak yang sudah terserang diare.
“Orang banyak sudah mulai sakit”, ungkapnya.
Ada sekitar 300 jiwa yang tinggal di lokasi pengungsian Gunung Hulunglare, mereka juga mengalami kesulitan saat hujan deras, tenda-tenda pengungsian terendam oleh air. Kata Nur, sebagaian kecil masyarakat sudah mulai pulang ke rumah, namun sebagian besar masih berada di gunung.
ADVERTISEMENT
Warga masih belum yakin untuk kembali ke rumah masing-masing. Diperlukan kunjungan dari pihak-pihak terkait untuk memberikan edukasi khusus, tentang gempa bumi. Masyarakat perlu diberi pengetahuan tentang trik yang harus dilakukan ketika terjadinya gempa dan apa yang harus dilakukan pascagempa. (LM1/LM3)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan