kumparan
23 Sep 2019 11:43 WIB

'Palatul Parlamentului', Simbol Narsistik Rezim Ceausescu di Rumania

Gedung DPR terbesar di dunia

Wakil rakyat seharusnya merakyat! Jangan tidur waktu sidang soal rakyat!

ADVERTISEMENT
Penggalan lirik lagu milik Iwan Fals ini mungkin sedang merasuk ke dalam diri beberapa masyarakat Indonesia, yang dibuat galau dan jengkel dengan kelakuan para "wakil rakyat". Mereka seolah-olah bisa berbuat semena-mena dengan UU KPK dan RKUHP yang dianggap malah membuka jalan bagi para "wakil rakyat" untuk dengan bebas berbuat sewenang-wenang. Dan ternyata, tindakan seenaknya para "wakil rakyat" juga pernah terjadi nun-jauh di sana di Negara Rumania.
Di tengah-tengah Ibu Kota Bucharest, berdiri sebuah gedung raksasa. Megah tapi jauh dari indah yang digadang-gadang sebagai Gedung DPR atau parlemen terbesar di dunia. Palatul Parlametului atau dalam bahasa Indonesianya, Istana Parlemen--dari namanya saja sudah menunjukkan kepongahan anggota DPR Rumania--bisa di bilang sebagai magnum opus dari rezim diktator komunis yang dipimpin Nicolae Ceausescu.
ADVERTISEMENT
Ketika saya tiba dan melihat bangunan ini, jujur tidak ada kesan amazed atau kagum sekalipun. Bagaimana tidak, bangunan ini cuma menang gede saja dan desain. Lagi-lagi, yah! Kalau sudah penguasa komunis Eropa yang mendirikan bangunan ya bentuknya begitu-begitu saja: Berbentuk kotak, tanpa ada desain arsitektur khusus dan selalu berwarna pucat, lambang kolektivitas para kamerad pemuja Komunis.
Jadi Presiden Ceausescu bisa dibilang fans dari rezim Korea Utara yang kala itu dipimpin Kim Il Sung--kakek dari Kim Jong Un. Bahkan dari semua rezim komunis di Eropa Timur, Presiden Ceausescu terang-terangan mengadopsi pengkultusan ala kamerad Asia-nya tersebut.
Parade dan pertunjukan kebangsaan di stadium hingga propaganda akan kehebatannya dan istrinya, Elena, yang selalu ditayangkan di TV jadi sarapan sehari-hari rakyat Rumania. Hingga akhirnya, Ceausescu yang terpesona dengan sistem urbanisasi Pyongyang, terutama Istana Kumsusan yang dulu menjadi istana kepresidenan, mencanangkan proyek bernama Project Bucharest untuk urbanisasi Bucharest. Ini dilakukannya dengan mengganti bangunan gaya Eropa klasik menjadi gaya sosialis, dan salah satunya membangun gedung parlemen terbesar di dunia.
ADVERTISEMENT
Pembangunan gedung parlemen ini dimulai pada 25 Juli 1984 dengan rancangan yang dibuat seorang arsitek wanita muda berusia 28 tahun bernama Anca Petrescu. Gedung ini akhirnya rampung pada tahun 1997, lima tahun setelah rezim Ceausescu runtuh.
Gedung ini memiliki ketinggian 240 meter dan lebar 270 meter serta area keseluruhan 60.000 meter persegi. Ukuran ini membuat bangunan ini menjadi gedung parlemen terbesar di dunia hingga saat ini.
Tentunya pembangunan gedung parlemen ini jadi sangat kontroversial karena menghasilkan dampak yang malah sangat buruk. Pembangunan memakan biaya sebesar USD 1,75 miliar dirasa amat mencekik karena kondisi keuangan Rumania yang sedang morat-marit, sehingga banyak memangkas ransum makanan hingga pengaliran listrik gratis.
Pembangunan gedung ini juga mengakibatkan penggusuran 40.000 jiwa dari permukiman bersejarah Dealul Spirii dan penghancuran gereja dan biara bersejarah hanya untuk pembangunan gedung DPR ini.
ADVERTISEMENT
Hal ini membuat rakyat Rumania marah dan menjadi salah satu faktor yang membuat Ceausescu akhirnya tumbang akibat revolusi rakyat Rumania di tahun 1989. Ceausescu tidak sempat melihat hasil karyanya sendiri karena keburu dieksekusi mati oleh pemberontak pada Natal 1989.
Saat ini, selain berfungsi sebagai tempat "sidang" anggota DPR Rumania, gedung ini bisa dibilang sebagai landmark utama dari Kota Bucharest dan juga berfungsi sebagai museum dan galeri seni kontemporer nasional serta museum komunisme.
Jadi, jika anda berkunjung ke Bucharest, boleh lah untuk sekadar menengok bangunan berukuran ekstravagant yang tidak indah ini hanya sebagai penanda betapa konyolnya para "wakil rakyat" di mana pun dan apapun bangsa dan negara tempat mereka mengabdi.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan