News
·
26 Mei 2021 6:59

Kepemimpinan Perempuan di Era Birokrasi 4.0

Konten ini diproduksi oleh Lia Fitrianingrum
Kepemimpinan Perempuan di Era Birokrasi 4.0 (184441)
searchPerbesar
sumber: Humas Propinsi Jawa Barat
Penguatan Peran Perempuan di Era New Normal
Perempuan merupakan bagian dari penggerak pembangunan negara. Permasalahan kesetaraan gender selalu menjadi isu yang menarik diperbincangkan dari waktu ke waktu. Menurut global gender gap report ada empat indikator dalam isu kesetaraan gender. Indikator tersebut meliputi tingkat pendidikan, peluang ekonomi, partisipasi dan pemberdayaan politik, kesehatan dan kelangsungan hidup. Perempuan dalam masa pandemik covid ini juga mempunyai tingkat ketahananan tertinggi dalam menangkal stres dan beban kesulitan hidup. Kemampuan perempuan dalam mengatur pendapatan yang didapat dengan pengeluaran rutin bukanlah hal yang mudah di masa pandemik ini, mengingat sektor perekomonian yang terkena imbas paling besar. Perempuan memiliki kesempatan bekerja membantu keluarga lebih besar dibandingkan dengan laki-laki, perempuan terkenal lebih multi-tasking, bisa mengerjakan segala hal dalam waktu yang bersamaan.
ADVERTISEMENT
Dalam perkembangannya, perempuan banyak memilih berkarier di berbagai sektor baik formal maupun informal. Walaupun kesempatannya semakin sempit ditengah pandemik tapi diakui bahwa kompetensi dan tingkat pendidikan perempuan lebih tinggi di bandingkan laki-laki. Tidak terkecuali pilihan menjadi birokrat dan bahkan memimpin dalam satu organisasi publik baik di level Lembaga / Kementrian Pusat ataupun Pemerintah Daerah. Penguatan peran perempuan yang utama adalah dari faktor internal diri sendiri, dukungan keluarga setelah itu baru ekosistem lingkungan kerja.
Tantangan kepemimpinan Perempuan Birokrat
Perempuan yang meraih kesempatan menjadi pemimpin dalam birokrasi di era New Normal dan dalam birokrasi 4.0 yang sangat lincah dan sangat dinamis saat ini memang perlu kekuatan mental dan fisik yang lebih. Perempuan perlu energi yang luar biasa ditengah peran ganda yang harus dijalani sebagai ibu, istri dan sebagai pimpinan di birokrasi baik Pusat maupun Daerah. Apabila dilihat dari data Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), rata-rata jumlah birokrat perempuan yang menduduki Jabatan Pimpinan Tinggi Madya dan Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama di Kementrian Pusat/ Lembaga dan Pemerintah Daerah kurang lebih hanya sekitar 30%, jumlah ini masih sangat sedikit.
ADVERTISEMENT
Peran ganda pada perempuan yang tidak dikenali secara formal dalam regulasi promosi jabatan menyebabkan kebanyakan diselesaikan secara personal dan kultural. Permasalahan lainnya, peraturan promosi karier di birokrasi tidak mengakomodir kondisi perempuan yang memiliki peran ganda. Dalam keberhasilan promosi jabatan pimpinan tinggi birokrat perempuan diperlukan peningkatkan solidaritas diantara perempuan, suksesor nya dari perempuan, mengurangi kompetisi negatif diantara perempuan, membangun budaya sensitifit gender dalam birokrasi. Selain itu, kompetensi diri yang memadai dan mengusai kemampuan managerial, sosio budaya dan teknis menjadi unsur utama.
Birokrasi yang semakin ramping dan adanya penyederhanaan birokrasi saat ini, yang mana jenjang karier Pejabat Pimpinan Tinggi (JPT) dapat dikader dari pejabat administrator dan pejabat fungsional yang memenuhi syarat jabatan. Kepemimpinan birokrat perempuan sangat diuji pada masa transisi penyederhanaan birokrasi, mengingat pola dan tata kerja di masing-masing Kementrian /Lembaga dan Pemerintah Daerah sedang mencari pola kerja yang cocok dengan kompetensi yang dimiliki oleh pejabat fungsional. Kesiapan kebijakan yang merubah pola kerja, kesiapan mental para pejabat administrasi dalam penyetaraan jabatan menjadi pejabat fungsional, kesiapan model remote dan teknologi IT yang menunjang kinerja menjadi tantangan yang harus dihadapi pemimpin perempuan di birokrasi 4.0.
ADVERTISEMENT
Tantangan kepemimpinan perempuan dalam memimpin tim berdasarkan keahlian yang diorganisir dalam kelompok kerja lintas fungsi dan tidak lagi hierarkis vertikal menjadi nyata dan bersikap adaptif menjadi keharusan. Penguasaan terhadap teknologi, berani berpikir analitis dan inovatif, kreatif, inisiatif, memberikan rasa aman ditengah gelombang kebijakan yang sangat dinamis dan optimis menjadi kunci kepemimpinan Perempuan di masa Birokrasi 4.0.
Kepemimpinan birokrat Perempuan berbasis kolaborasi
Perempuan memiliki kemampuan berkomunikasi lebih baik dari pria, karena lebih humanis. Kelebihan perempuan yang luwes dan percaya pada ilmu pengetahuan menjadikan beberapa pimpinan negara seperti Selandia Baru berhasil menangani covid 19 lebih cepat dengan cara yang humanis. Dalam birokrasi 4.0, semua roda birokrasi berbasis digital dan mengandalkan kekuatan kolaborasi dalam melakukan tugas fungsi. Pemimpin perempuan harus mampu menggerakan kinerja tim dan mengkoordinasikan jabatan fungsional di bawahnya dan menjadikan motor penggerak dalam birokrasi 4.0. Kemampuan berkolaborasi dengan pihak lain baik secara vertikal maupun horisontal menjadi kekuatan kepemimpinan perempuan saat ini. Birokrat perempuan saat ini harus berani membawa perubahan dan dapat mengakselerasi kemajuan.
ADVERTISEMENT