kumparan
27 Agu 2019 18:54 WIB

Bekerja Lebih Produktif ala Project Manager kumparan

Yennie Rossia, Project Manager kumparan.
Kesibukan bekerja selalu membuat kita merasa 24 jam saja tidak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan. Tak jarang, hampir setiap hari kita harus bekerja lembur karena selalu ada pekerjaan yang belum selesai.
ADVERTISEMENT
Meski kita sangat sibuk bekerja, namun ajaibnya jarang ada pekerjaan yang benar-benar selesai. Kalau sudah seperti itu, bisa jadi kita sedang terjebak dalam pola kerja yang sibuk namun tidak produktif.
Ada perbedaan besar antara orang sibuk dan orang produktif. Orang sibuk biasanya melakukan banyak pekerjaan dalam waktu bersamaan (multitasking) yang berdampak molornya pekerjaan atau tidak selesai sama sekali. Sedangkan orang produktif mengerti apa yang harus mereka kerjakan terlebih dahulu dengan menentukan skala prioritas pada pekerjaannya.
Project Manager kumparan, Yennie Rossia, punya cara tersendiri dalam bekerja produktif. Menjalani profesi sebagai project manager membuatnya harus berhadapan dengan banyak project dan bekerja dengan berbagai macam karakter orang.
Sebagai seorang project manager yang berada di divisi engineering kumparan, salah satu tugas utama Yennie adalah memastikan semua tim yang terkait dalam sebuah project dapat bekerja sama dengan baik. Ia juga perlu memastikan project-nya dapat berjalan sesuai dalam tenggat waktu yang ditentukan.
ADVERTISEMENT
Sederhananya, Yennie adalah pagar yang memastikan seluruh project yang berhubungan dengan engineering di kumparan dapat berjalan dengan baik.
Ini langkah-langkah sederhana yang Yennie lakukan setiap hari agar tetap produktif dalam bekerja. Pertama, buat to do list pekerjaan yang akan dikerjakan esok hari. Siapkan satu hari sebelumnya, jangan saat hari H.
“Jika menyiapkan to do list pada hari H, maka setengah dari harimu habis untuk membuat to do list,” jelas Yennie.
Setelah ada to do list, klasifikasikan pekerjaan menjadi empat bagian berdasarkan skala prioritasnya, yaitu:
  • Important and urgent: Pekerjaan yang masuk klasifikasi ini harus diselesaikan terlebih dulu.
  • Important but not urgent: Dikerjakan setelah important-urgent tapi batasi dengan deadline agar pekerjaan ini tidak ditunda-tunda dan kita tahu kapan harus selesai.
  • Urgent but not important: Pekerjaan yang mendesak namun perannya tidak terlalu penting dalam project. Ini bisa dikerjakan setelah dua poin sebelumnya selesai.
  • Not important and not urgent: Tinggalkan jenis klasifikasi pekerjaan ini, agar bisa tetap fokus pada klasifikasi pekerjaan lainnya.
ADVERTISEMENT
Kemudian, monitor pekerjaan yang sedang berjalan.
“Karena tidak jarang skala prioritasnya bisa berubah-ubah tergantung kondisi pekerjaan,” jelas perempuan yang telah memiliki pengalaman menjadi project manager selama kurang lebih lima tahun di beberapa perusahaan start up ini.
Terakhir, evaluasi pekerjaan di akhir hari untuk menemukan hambatan apa saja yang dialami selama bekerja sehingga bisa dihindari di kemudian hari.
“Enggak semua yang urgent itu penting dilakukan, begitu pun sebaliknya. Jadi, ketika kita menerima sebuah pekerjaan atau project, kita analisa dulu skala prioritasnya,” ungkap lulusan Sistem Informasi Universitas Bina Nusantara itu.
Makanya, pekerja produktif biasanya akan menganalisa terlebih dulu skala prioritas dari sebuah pekerjaan sebelum mereka menerimanya.
“Penting bagi kita untuk mengetahui seberapa urgent dan penting pekerjaan yang diberikan, supaya kita juga dapat menentukan apakah pekerjaan ini harus diselesaikan paling dulu atau bisa menunggu,” tutup perempuan yang juga suka traveling itu.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·