kumparan
search-gray
Entertainment27 Mei 2020 18:20

Cerita Lebaran Anak Kosan

Konten Redaksi kumparan
Lebaran yang biasanya penuh dengan kehangatan dan kebersamaan di tengah keluarga, terasa sangat berbeda tahun ini bagi sebagian orang. Mereka yang merantau dan jauh dari keluarga. Tradisi-tradisi yang biasa dijalankan bersama keluarga pun terpaksa harus ditunda. Walaupun begitu cerita Lebaran tetap tidak boleh hilang. Seperti Jamal, Dicky, Agaton dan Ayu yang berbagi sedikit pengalamannya melewatkan Lebaran tahun ini tanpa keluarga.
ADVERTISEMENT
Mendapatkan ‘keluarga baru’ saat berlebaran di tengah pandemi.
Jamal Ramadhan dan Dicky Adam Sidiq tim Foto kumparan asal Bandung yang kebetulan tinggal satu lingkungan kos di Pejaten ini merasa sangat beruntung memiliki teman-teman kos layaknya keluarga sendiri.
Cerita Lebaran Anak Kosan (885609)
Penghuni kosan tempat tinggal Jamal dan Dicky siap menyantap makanan khas Lebaran yang mereka masak bersama. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
“Bersyukur, meskipun Lebaran jauh dari keluarga tapi masih ada temen-temen kosan yang care banget,” cerita Dicky dengan suara sedikit sumringah.
Merasa senasib di tanah rantau, membuat mereka berpikir kreatif bagaimana cara untuk menghadirkan suasana Lebaran rumahan ala anak kosan. Seperti masak menu khas Lebaran, ada ketupat, opor hingga rendang di kosan. Membuat photoshoot edisi Lebaran. Juga mengadakan salat Idul Fitri bersama.
Cerita Lebaran Anak Kosan (885610)
Jamal, Dicky dan beberapa teman kosan salat Idul Fitri 1441 H. Foto: Reuters/Ajeng Dinar Ulfiana
“Kita semua patungan rame-rame, dari beli lampu buat foto sampai background fotonya,” kata Jamal.
ADVERTISEMENT
Tapi kerinduan dengan rumah tetap belum bisa tergantikan sepenuhnya, apa lagi dengan masakan rumah “Kangen semua masakan rumah, sayur lodeh, ikan asin khas rumah, sayur kacang merah juga,” kata Dicky saat menceritakan salah satu hal yang ia rindukan dari rumah.
Cerita Lebaran Anak Kosan (885611)
Dicky memasak makanan Lebaran. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Memang masakan rumah selalu punya magnet tersendiri yang menjadi alasan untuk pulang. Sama halnya dengan Dicky, Jamal juga merasakan hal yang sama. Selain masakan rumah ada tradisi kemeriahan menyambut Lebaran yang terpaksa harus hilang sementara, yaitu sahur dan buka puasa bersama teman-teman sambil camping di hari-hari akhir Ramadhan. “Sama teman-teman sekolah, karena rumah nggak jauh dari hutan biasanya kita camping sambil buka puasa sampai sahur bareng,” cerita Jamal.
Cerita Lebaran Anak Kosan (885612)
Jamal melakukan silaturahmi virtual dengan video call. Foto: Reuters/Ajeng Dinar Ulfiana
Berusaha agar tetap hadir saat Lebaran di rumah meskipun tidak secara fisik, selain video call, Jamal juga membuat kejutan kecil untuk orang rumah, seperti mengirimkan baju Lebaran ke keluarga. Begitupun sebaliknya, seperti menyambut kejutan dari Jamal, keluarganya juga mengirimkan bahan makanan dengan cita rasa rumah.
ADVERTISEMENT
“Dari rumah juga dikirimi adonan buat bikin cenil, pisang molen. Walaupun bisa beli di Jakarta tapi kan rasanya tetap beda,” tambah Jamal.
“Tahun kemarin mengajukan piket Lebaran, tadinya biar tahun ini bisa Lebaran di rumah,” cerita Agaton Kenshanahan, Reporter Content Intelligence kumparan.
Agaton mengawali cerita Lebarannya di kosan. Niat mudiknya tahun ini ternyata masih belum bisa direalisasikan. Rindunya dengan masakan ibu pun juga akhirnya belum bisa terbalaskan.
“Biasanya kalau Lebaran tinggal nyebut, tinggal pilih aja mau dimasakin apa sama ibu,” kata Agaton.
Namun karena Lebaran tahun ini ia tidak pulang ke Kuningan, Jawa Barat ia cerita dengan sedikit canda bahwa adik-adiknya di rumah jadi protes karena Ibunya tidak membuat banyak macam makanan Lebaran seperti tahun sebelumnya. “Karena nggak ada saya yang request he-he-he,” tambahnya.
Cerita Lebaran Anak Kosan (885613)
Reporter Content Intelligence kumparan, Agaton (kiri), dan jurnalis kumparanBOLA, Angga Septiawan P, memasak ketupat bersama di kosan saat Lebaran di tengah pandemi corona. Foto: Istimewa
Demi mengobati rindunya dengan masakan khas Lebaran, ia akhirnya memutuskan untuk memasak beberapa menu khas Lebaran di kosan, seperti opor ayam dan ketupat. “Setidaknya untuk mengobati rasa kangen, makanya kita bikin momen yang mirip dengan Lebaran di rumah tapi di perantauan.”
ADVERTISEMENT
Walaupun tidak bisa merayakan Lebaran tahun ini dengan keluarga tapi Agaton merasa bersyukur, masih diberikan kesehatan hingga berbagai macam rezeki yang ia rasakan sampai hari ini, salah satunya teman-teman yang sudah seperti keluarga sendiri.
“Masih bisa mudik virtual, video call dan silaturahmi dengan keluarga juga tetangga di rumah,” ceritanya dengan nada suara yang merendah dan sedikit tawa.
“Adik udah nyolong start bisa pulang duluan,” Fitri Ayu Adriani, Planner kumparan Studio.
Sehari-hari perempuan asal Pekanbaru, Riau ini tinggal satu kos dengan adiknya di Mampang. Namun alih-alih bisa mudik bersama saat Lebaran, ia justru ditinggal mudik duluan oleh sang adik. Alhasil harus melewatkan Lebaran di kosan sendirian.
Walaupun keluarganya diakui Ayu bukan tipe keluarga yang banyak tradisi saat Lebaran tapi kerinduannya dengan rumah tetap tidak bisa hilangkan, terlebih di momen sebelum Lebaran. “Biasanya sebelum Lebaran bersih-bersih rumah sama-sama, voting untuk kue Lebaran apa yang mau dipilih, karena tiap tahun dirotasi, jadi kuenya akan berbeda,” cerita Ayu.
ADVERTISEMENT
Dan satu lagi momen yang membuat Ayu kangen saat nenek dari mamanya membawakan makanan ke rumah sebelum Lebaran. Ini menjadi salah satu momen istimewa “Keluarga mama beda keyakinan, tapi itu serunya bisa harmonis,” ungkapnya.
Cerita Lebaran Anak Kosan (885614)
Ayu, Planner kumparan Studio sedang melakukan video call dengan orang tua dan sajian Lebarannya di kosan. Foto: Istimewa
Untuk mengobati rindunya Ayu melakukan video call dengan keluarga sambil makan ketupat saat Lebaran kemarin, “Jadi kaya makan bareng, rame-rame cuma, ya, tetep hampa dan beda.”
Meskipun Lebaran tahun ini terasa berbeda tapi ia merasa bersyukur karena menyadari bahwa jarak bukan menjadi sebuah halangan untuk tetap memperlihatkan kepeduliannya terhadap sesama. Dan menyadari banyak teman-teman di rantau yang peduli dan sayang dengan caranya masing-masing.
“Lebaran tahun ini aneh tapi jadi bisa lebih menghargai apa arti dari orang disekitar dan memperlihatkan rasa sayang itu ternyata banyak bentuk dan spektrumnya,” tambah Ayu.
ADVERTISEMENT
Itu beberapa cerita seru awak kumparan yang tidak bisa mudik dan merayakan Lebaran di kosan. Kamu juga punya cerita seru saat merayakan Lebaran kemarin? Yuk, share ceritanya di kolom komentar, ya!
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white