kumparan
News30 April 2020 21:27

Rindu Ajo pada Kampung Halaman

Konten Redaksi kumparan
Ajo Darisman (2).jpeg
Ajo Darisman, jurnalis kumparanBisnis. Foto: Istimewa
Tak ada lagi buka bersama setelah liputan. Tak ada lagi keseruan berburu takjil bersama rekan wartawan. Juga tak ada sensasi menahan teriknya matahari saat menunggu narasumber datang. Hal itu yang dirasakan Muhammad Ajo Darisman atau akrab disapa Ajo pada Ramadhan tahun ini.
ADVERTISEMENT
Pria asal Pariaman, Sumatera Barat, ini harus menjalankan tugasnya sebagai jurnalis (mulai dari liputan hingga menulis berita) dari kos-kosannya di bilangan Jati Murni, Jakarta Selatan.
Ajo merasakan hari-hari selama Ramadhan menjadi sangat panjang. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, reporter kumparanBisnis ini harus siaga memantau ponsel pintarnya–dari kamar, tentu saja–berjaga-jaga bila ada konferensi pers atau berita dadakan.
“Pekerjaan terasa berbeda karena harus dilakukan sendirian di kosan,” kata Ajo.
WhatsApp Image 2020-04-29 at 14.10.39 (3).jpeg
Ajo bersama rekan-rekan wartawan. Foto: Istimewa
Pandemi corona membuat tradisi-tradisi Ramadhan yang penuh dengan kebersamaan harus ditunda. Tapi Ajo sadar, dia bukan satu-satunya orang yang menjalani masa sulit seperti ini.
Tak selesai sampai di situ, Ajo kembali menelan pil pahit ketika pemerintah mengumumkan larangan mudik Lebaran tahun ini. Namun kenyataan pahit itu dihadapi Ajo dengan lapang dada. Meski dia mengakui bahwa kerinduan terhadap kampung halaman yang berjarak hampir 1.000 kilometer sebenarnya tak bisa ditahan.
ADVERTISEMENT
Sejak pandemi datang, dia membulatkan hati untuk tidak pulang ke kampung halaman. Alasan Ajo sederhana, dia tak mau membawa risiko penularan wabah virus corona kepada keluarganya di rumah. Terlebih, amak (nenek) yang sangat dicintainya sudah berumur 90 tahun. Beliau termasuk kelompok usia yang sangat rentan terinfeksi parah oleh virus corona.
“Di kampung, saya tinggal serumah bersama amak. Usia-usia segitu tentu sangat rentan,” ujarnya.
Lebaran tahun ini Ajo memilih tinggal di Jakarta. Ini tentu pilihan sulit bagi pria Minang yang terbiasa hidup komunal. Bagaimana lagi, pil pahit berupa menahan rindu harus ditelan.
WhatsApp Image 2020-04-29 at 14.10.39.jpeg
Ajo bersama amak saat wisuda Universitas Andalas. Foto: Istimewa
Beruntung jarak bisa dilipat. Menggunakan teknologi komunikasi, Ajo tetap merasakan kehangatan keluarga tanpa kehadiran mereka secara fisik. Setiap pagi saat waktu sahur, handphone Ajo selalu berdering sebagai tanda masuknya video call dari keluarganya di Pariaman. Pertanyaan yang dilontarkan amak selalu sama: sudah sahur kah, Ajo?
ADVERTISEMENT
Bagi Ajo, amak merupakan figur penting. Setelah ibu Ajo meninggal, amak menjadi orang yang menjaga dan membesarkan Ajo. Saling memastikan kondisi kesehatan selama Ramadhan yang bersahaja ini menjadi penawar rindu akan rumah dan keluarga di pulau seberang.
Memori Ajo terlempar jauh ke momen Lebaran tahun lalu. Amak membangunkannya pukul 04.00 pagi di Hari Raya. Tahun ini, ritual itu tidak akan terjadi karena Ajo harus berlebaran di Jakarta sedangkan amak di Pariaman.
Sudah sahur kah, Ajo? –Amak
Sebagian besar orang mengidentikkan Lebaran dengan opor ayam. Di Pariaman, kata Ajo, kuliner khas selama puasa dan Lebaran adalah sala lauak. Ajo mengaku kangen dengan makanan wajib asal daerahnya itu.
Sala lauak terbuat dari tepung beras yang dibentuk seperti bola. Di tengahnya ada udang halus. Karena digoreng, sala lauak punya lapisan luar yang renyah dan bagian dalam yang lembut. Seperti Ajo.
ADVERTISEMENT
Oh, ya, Lebaran tahun ini adik sepupu Ajo di Pariaman berencana melangsungkan pernikahan. Jika rencana ini berjalan sesuai jadwal, Ajo terpaksa absen pada momen sakral adiknya itu.
“Sedih sudah pasti,” ujar Ajo.
Ajo punya harapan. Harapan itu adalah harapan kita semua. Berharap segala sesuatunya kembali normal dan pandemi ini bisa cepat teratasi. Meskipun Ramadhan dan Lebaran tahun ini terasa sangat berbeda, semoga kita masih bisa menyimpan rasa kekeluargaan tanpa kehadiran kerabat secara fisik.
Semoga pandemi ini bisa cepat berakhir. Semoga tidak ada lagi rindu yang harus ditahan.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan