kumparan
15 Sep 2019 16:34 WIB

Pelaku Industri Dental Hadapi Revolusi Industri 4.0 di IDEC 2019

Ketua IDEC 2019 drg. Diono Susilo, MPH dan Ketua PB PDGI (Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia) mampir ke pameran di IDEC 2019
Memasuki gelaran hari ketiga IDEC, antusiasme ratusan dokter gigi mengikuti serangkaian lokakarya ilmiah teknologi kedokteran gigi semakin besar. Pun dengan sejumlah 232 ekshibitor yang menempati area seluas 5000 m2 di Assembly Hall, memberikan optimisme kegairahan bagi kemajuan industri kedokteran gigi Indonesia. Ketua IDEC 2019, drg Diono Susilo, MPH, mengatakan, kehadiran IDEC merupakan salah satu upaya komprehensif untuk mendorong kesiapan indutri kedokteran gigi Indonesia menghadapi Revolusi Industri 4.0.
ADVERTISEMENT
Hal itu ditandai dengan terjadinya peningkatan peserta pameran sebesar 40% dari 232 ekshibitor brand yang meliputi 18 negara dan 3 paviliun nasional dari Cina, Korea Selatan dan Jerman. Sementara untuk partisipasi peserta lokal di IDEC 2019 naik sebesar 15% dari IDEC 2017. Kehadiran IDEC tentunya menjadi showcase para pelaku usaha lokal untuk tampil menangkap peluang kebutuhan pasar industri kedokteran gigi.
Dalam sambutan pembukaan IDEC (13/9), Sekjen Kemenkes RI Oscar Primadi menekankan bahwa industri di Indonesia harus sudah melakukan perubahan jika tidak ingin tertinggal. Era industri 4.0, menurut Oscar Primadi menekankan pada efisiensi pada setiap tahapan yang tidak hanya semata berpatokan pada nilai profit, tetapi juga nilai tambah produk dengan kualitas yang lebih baik.
ADVERTISEMENT
Lebih lanjut Oskar mengatakan, pembangunan kesehatan adalah salah satu investasi utama dalam SDM Indonesia yang telah diprogramkan Presiden Jokowi “SDM Unggul, Indonesia Maju”, diperlukan upaya-upaya yang lebih terarah. Ada 3 pilar melandasi yaitu 1) Paradigma Sehat, 2) Pembangunan dan 3) Jaminan Kesehatan. “Untuk mewujudkan pilar tersebut, tenaga kesehatan kita harus mampu menguasai teknologi di era 4.0,” tandas Oscar.
Jika dilihat dari daya saing global, posisi Indonesia sesuai dengan data yang diperoleh dari Global Competitiveness Report tahun 2016-2017, menempati urutan ke-41 dari total 138 negara di dunia. Untuk itu, pemerintah Indonesia terus berupaya menaikkan posisi daya saing Indonesia ke posisi ke-39 dengan cara mendorong para pelaku industri untuk melakukan inovasi di era industri 4.0.
ADVERTISEMENT
Menurut Oscar, industri kedokteran gigi memiliki potensi pasar yang tinggi. Merujuk pada pelaksanaan IDEM di Singapura yang mendapatkan sambutan besar industri kedokteran gigi dunia, kemudian berlanjut pada IDEC di Indonesia, yang juga tidak kalah responnya, memberikan indikasi kuat, industri kedokteran gigi begitu potensial dikembangkan di dalam negeri. Apalagi, kenyataannya harus diakui sampai saat ini, menurut Ketua PB PDGI DR. drg. Hananto Seno, Sp. BM., MM., FICD kemampuan industri dalam negeri kita baru memenuhi kebutuhan kedokteran gigi tidak sampai 10 persen. Selebihnya sebesar 90 persen kebutuhan dokter gigi Indonesia masih mengimpor.
“Kebutuhan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang prima tentunya harus didukung dengan teknologi dental mutakhir dan peningkatan kualitas dokter gigi. Inilah yang menjadi fokus utama PB PDGI untuk mendorong implementasi revolusi industri 4.0 di bidang kedokteran gigi salah satunya melalui IDEC 2019,” ungkap DR. drg Hananto di hadapan sejumlah media.
ADVERTISEMENT
Sesuai dengan roadmap Rencana Aksi Nasional Kesehatan Gigi dan Mulut tahun 2015 – 2030, IDEC diharapkan menjadi momentum berbagai pihak untuk saling bersinergi memberikan pelayanan maksimal kesehatan gigi dan mulut sehingga Indonesia bebas karies gigi pada 2030.
Merujuk pada empat faktor penggerak utama untuk kebutuhan investasi dalam industri 4.0 mencakup: (1) Peningkatan volume data, daya komputasi dan konektivitas; (2) Kemampuan analitis dan bisnis intelijen; (3) Bentuk baru dari interaksi human-machine, seperti touch interface dan sistem augmented-reality; serta (4) Pengembangan transfer instruksi digital ke dalam bentuk fisik, seperti robotik dan cetak 3D.
Dalam IDEC 2019, dihadirkan sederetan teknologi yang sedang berkembang, diantaranya bahan penyusun untuk pembuatan gigi palsu (prostodontik), jenis kursi perawatan dengan fitur otomatis yang membuat pasien menjadi lebih nyaman, teknologi implant gigi yang bersifat minim invasif (tidak menyakitkan) hingga teknologi fotografi dental untuk keperluan restorasi mulut.
ADVERTISEMENT
Presiden Direktur Traya Eksibisi Internasional, Bambang Setiawan berharap IDEC 2019 bisa memberikan dampak yang lebih besar dari pelaksanaan IDEC sebelumnya, bukan hanya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, tetapi juga aksi bersama mewujudkan Indonesia menjadi pemain utama industri kedokteran gigi.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan