kumparan
19 Okt 2017 13:13 WIB

Mumi Tak Hanya Ada di Mesir, Tapi Juga di Toraja

Ritual Suku Toraja (Foto: REUTERS/Darren Whiteside)
Tradisi mumi di Mesir ternyata menyimpan makna mendalam yang tak terduga. Namun tahukah kamu kalau mumi juga ada di Indonesia?
ADVERTISEMENT
Pada Rabu (18/10) seminar nasional bertajuk Scanning the Pharaoh yang diselenggarakan oleh Departemen Arkeologi Universitas Indonesia dengan menghadirkan Professor Sahar Saleem, Doktor Radiologi dari Cairo University, sebagai pembicara menguak tabir misteri di balik sosok mumi.
Dalam CT Scan yang dilakukannya menggunakan teknologi X-Ray, Saleem menemukan bahwa di tubuh mumi raja Mesir kuno hanya ada organ jantung, yang melekat dan ikut diawetkan.
“Mereka mengeluarkan seluruh organ kecuali bagian jantung. Jantung adalah tempat di mana ruh bersemayam,” tutur Saleem.
Mumi Mesir kuno (Foto: Wikimedia Commons)
Sedangkan organ tubuh lainnya diawetkan secara terpisah, hal ini berkaiatan erat dengan kepercayaan yang menganggap bahwa organ tubuh lain tidaklah penting bagi kehidupan setelah mati.
Menelisik kepercayaan dan teknik pengawetan ini, di Indonesia setidaknya ada tiga provinsi yang menerapkan ritual mengawetkan jenazah sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang dipercaya akan membawa keberuntungan sendiri bagi generasi selanjutnya.
ADVERTISEMENT
Provinisi Nusa Tenggara Timur, Papua dan Sulawesi Selatan tercatat memiliki sejarah panjang soal tradisi mengawetkan mayat. Satu yang paling tersohor berada di Sulawesi Selatan, yakni suku Toraja yang bermukim di daerah pegunungan Quarles, Latimojong, Kabupaten Tana Toraja.
Mengutip dari Toraja Paradise, jauh sebelum masyarakat Toraja mengenal agama Nasrani mereka berpegang erat dengan keyakinan peninggalan agama leluhur, Aluk Todolo.
Ritual Suku Toraja (Foto: REUTERS/Darren Whiteside)
Kini agama Aluk Tadolo telah diresmikan pemerintah dan masuk dalam sekte Hindu-Budha. Meski banyak masyarakat yang tak lagi memeluk kepercayaan Aluk Todolo, namun tradisi dan budayanya masih melekat di kehidupan mereka.
Toraja menyimpan banyak ritual unik dan berbeda, satu diantaranya adalah tradisi 'Rambu Solo'.
Tradisi 'Rambu Solo', mengagungkan kerabat yang telah meninggal dunia.
ADVERTISEMENT
Dikutip dari jurnal tim Pascasarjana Universitas Negeri Malang menjelaskan, upacara Rambu solo’ atau aluk rampe matampu adalah pesta kedukaan, upacara kematian atau pemakaman.
"Pesta ritual ini dilaksanakan di sebelah barat Tongkonan dengan mempersembahkan hewan ternak sebagai kurban untuk arwah leluhur atau orang yang meninggal," tulisnya.
Bahkan kemewahan dan kemeriahan upacara bagi orang yang meninggal lebih riuh ketimbang pesta pernikahan.
Bagi mereka, kematian adalah tonggak pencapaian kehidupan abadi yang paling agung sebelum menuju 'Puya' istilah suku Toraja yang berarti nirwana atau surga. Ada kesedihan bagi anak dan cucu suku Toraja bila tak memakamkan kerabat atau orang tuanya dengan 'bekal' terbaik dan biaya fantastis.
Ritual Suku Toraja (Foto: REUTERS/Darren Whiteside)
Seperti yang dijelaskan dalam buku milik L.T Tangdilintin berjudl 'Toraja: sebuah penggalian sejarah dan budaya', Aluk Rambu Solo terdiri dari tiga kata, yaitu aluk (keyakinan), rambu (asap atau sinar), dan turun. 'Aluk Rambu Solo’ berarti upacara yang dilaksanakan pada waktu matahari terbenam (turun).
ADVERTISEMENT
Sedangkan ritual mengawetkan jasad ini diyakini berasal dari kisah leluruh yang mereka, Pong Rumasek seorang pemburu binatang yang menemukan mayat dengan kondisi mengenaskan di hutan. Ia kemudian membawa mayat tersebut ke rumah untuk dibersihkan dan dipakaikan pakaian bagus.
Semenjak itu ia mendapatkan banyak keberuntungan dalam hidupanya. Sehingga masyarakat percaya dengan merawat dan berbuat baik kepada jenazah akan membawa keberkahan tersendiri.
Jasad orang yang meninggal dilumuri ramuan tradisional pengawet khas Toraja dan dikenakan pakaian lengkap seperti semasa ia hidupnya lalu dimasukkan ke dalam peti kayu. Selanjutnya keluarga menuju ke tempat pemakaman liang gunung batu untuk meletakan peti tersebut di atas gunungan batu.
Ritual Suku Toraja (Foto: REUTERS/Darren Whiteside)
Setelah mayat disemayamkan di liang gunung, tiga tahun sekali masyarakat mengadakan ritual Ma'nene, yakni tradisi membersihkan mayat. Ritual ini dilakukan sebelum masa panen dan menurut kepercayaan mereka arwah para leluhur masih hidup serta mengawasi kerabatnya dari 'tempat' lain.
ADVERTISEMENT
Mengutip dari Toraja Paradise, sebelum tradisi Ma'nene dilakukan para tetua (Tominaa) membacakan doa dengan bahasa Toraja Kuno. Selanjutnya mayat dipindahkan dari peti mati dan dibersihkan menggunakan kuas serta kain bersih.
Hingga kini tradisi tersebut masih berjalan dengan apik, mengundang para wisatawan untuk melihat lebih nyata hubungan tradisi dan kematian di Tana Toraja.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·