Realitas Pandangan Sosial pada Cerpen Dilarang Mencintai Bunga-Bunga

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari luthfi Ibrahim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sinopsis
Cerpen dilarang mencintai bunga-bunga karya Kuntowijoyo, bercerita tentang seorang anak laki-laki yang baru saja pindah dari sebuah dusun sempit, yang kurang mengenal dunia luas, ke sebuah kota yang penuh dengan cara pikir baru. Mengangkat cerita kehidupan keluarga kecil sederhana, dengan ayah bekerja di sebuah bengkel.
Pekerjaannya membuat dirinya sibuk hingga jarang bersosialisasi dengan warga sekitar. Berbeda dengan sosok ibu dalam cerita menggambarkan seorang wanita yang ramah lagi luwes dalam bergaul, bahwa diceritakan di mana pun dia di tempatkan mudah baginya untuk berkawan.
Cerita berfokus pada seorang anak laki-laki, tidak dijelaskan betul berapa umur nya, yang pasti dia suka bermain layangan-layang dengan teman-temannya dan memiliki rasa penasaran yang tinggi. Rasa penasarannya pada seorang kakek yang merupakan tetangga barunya, yang belum dia kenal. Seorang kakek yang senang dan merasa damai ketika melihat bunga-bunga, yang nantinya memberikan pemahaman terhadap anak laki-laki tersebut mengenai bunga-bunga dan rasa ketenangan.
Berbeda dengan ayahnya yang melarang jika seorang laki-laki gemar pada bunga-bunga. Menurut ayah nya hakikat laki-laki adalah untuk bekerja, dan bekerja, bukan untuk memandangi dan menikmati bunga-bunga.
Teori Pendekatan Mimetik
Melalui cerpen tersebut banyak hal yang bisa diambil, namun tulisan ini akan berfokus pada nilai-nilai gender yang ada di dalamnya. Untuk diambil sebagai contoh dari realitas yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan unsur mimetik yang berpandangan bahwa sastra merupakan representasi dari realitas sosial budaya yang menjadi karya sastra.
Pendekatan mimetik merupakan teori Pendekatan karya sastra menurut Abrams, pandangan ini bermula pada pemikiran mengenai karya sastra yang diartikan representasi atau refleksi dari kehidupan nyata. Refleksi muncul sebab keterpaduan realitas dengan imajinasi seorang pengarang, yang nanti hasilnya adalah karya sastra.
Dalam tulisan ini melihat beberapa pandangan realitas sosial di sekitar kita yang direpresentasikan oleh tokoh kakek dan ayah dalam cerpen. Representasi dalam cerpen bisa tercermin dari tokoh dan karakter yang menggambarkan realitas pandangan sosial yang berkembang.
Realitas pandangan sosial melalui tokoh dalam cerpen
Representasi dalam KBBI berarti perbuatan mewakili atau keadaan yang bersifat mewakili, jadi realitas pandangan sosial bisa diartikan pandangan yang mewakili, dalam hal ini yang mewakili adalah tokoh kakek dan ayah pada cerpen yang mewakili realita pandangan sosial dan budaya. Pada beberapa tokoh dalam cerpen memiliki karakter yang yang bisa menjadi gambaran dari realitas yang ada di sekitar kita.
1) Pandangan tokoh Kakek
Tokoh kakek yang menggambarkan seorang laki-laki yang gemar mengamati, merawat bunga-bunga. Dia juga mencerminkan ketenangan hidup seperti bunga-bunga yang mampu menenangkan sekitar. Bahwa menurut tokoh kakek kehidupan ditemukan dalam ketenangan, bukan dalam hiruk-pikuk dunia, seperti dalam kutipan berikut:
“Datanglah ke sini bila kau senggang Terimalah kakekmu, ya. Kita bisa duduk di sini Melihat tanaman. Aku punya banyak bunga di sini Hidup harus penuh dengan bunga-bunga. Bunga tumbuh, tidak peduli hiruk-pikuk dunia. Ia mekar. Memberikan kesegaran, keremajaan, keindahan. Hidup adalah bunga-bunga. Aku dan kau salah satu bunga. Kita adalah dua tangkai anggrek. Bunga indah bagi diri sendiri dan yang memandangnya, la setia dengan memberikan keindahan la lahir untuk membuat dunia indah. Tataplah sekuntum bunga, dan dunia akan terkembang dalam keindahan di depan hidungmu, Tersenyumlah seperti bunga. Tersenyumlah, Cucuk" Dan, aku tersenyum. Pikiranku melambung jauh ke sebuah dunia yang asing. penuh rahasia, dan mengasyikkan”.
“Segalanya mengendap Cobalah lihat, Bunga-bunga di atas air ini melambangkan ketentraman, ketenangan, dan keteguhan jiwa. Dari matahari membakar Kendaraan hilir-mudik Orang berjalan ke-sana kemari memburu waktu. Pabrik pabrik berdentang Mesin berputar. Di pasar orang bertengkar tentang harga. Tukang copet memainkan tangannya. Pemimpin meneriakkan semboyan kosong. Anak-anak bertengkar merebut layang-layang. Apakah artinya semua itu, Cucu? Mereka semua menipu diri sendiri. Hidup ditemukan dalam ketenangan, Bukan dalam hiruk-pikuk dunia. Tataplah bunga-bunga di atas air itu Haswa dingin menyejukkan hatimu. Engkau akan menemukan dirimu. Engkau akan tahu, siapakah dirimu Katakanlah, tak ada yang lebih baik dari ketenangan dan keteguhan batin, Cucu”.
Dari ketiga kutipan tersebut dapat dilihat bahwa tokoh kakek memiliki idealisme sendiri dalam menganggap bunga-bunga, yang berbeda dari kebanyakan orang. Dia tidak memandang bunga sebagai lambang perempuan atau juga lambang dari sifat feminis. Tokoh kakek melambangkan bunga sebagai bentuk ketenangan dan keteguhan batin.
Gambar karakter kakek tersebut jika kita melihat realitas sosial, biasanya sikap atau karakter seperti ini dimiliki oleh agamawan, budayawan, pemikir/filsuf dan orang yang memandang suatu realitas berdasarkan bagaimana hakikatnya atau maknanya. Pandangan ini sering dianggap sebagai pandangan orang-orang yang tidak realistis atas kenyataan yang terjadi, pandangan orang-orang yang kalah terhadap realitas sehingga memandang suatu kenyataan dari segi lain (hakikat dan makna).
2) Pandangan tokoh ayah
Pandangan tokoh ayah di sini mencerminkan pandangan orang yang menerapkan sifat maskulinitas, dibuktikan dalam kutipan cerpen berikut :
Untuk apa tangan ini, heh Dia mengangkat kedua tanganku dengan kedua tangannya. Aku tidak tahu, jadi diam saja.
"Untuk kerja! Engkau laki-laki. Engkau seorang laki-laki. Engkau mesti kerja. Engkau bukan iblis atau malaikat. Buyung Ayo, timba air banyak-banyak. Cuci tanganmu untuk kotor kembali oleh kerja. Tahu!".
“Engkau mesti bekerja. Sungai perlu jembatan. Tanur untuk melunakkan besi perlu didirikan Terowongan mesti digali. Dam dibangun. Gedung didirikan. Sungai dialirkan. Tanah tandus disuburkan. Mesti, mesti, Buyung. Lihat tanganmu! Ayah meraih tanganku."Untuk apa tangan ini, heh?"
"Dari mana!" Dia bertanya
"Di rumah, di kamar.”
"Untuk apa di kamar, heh, laki-laki mesti di luar kamar!
Dari 3 kutipan cerpen di atas menggambarkan tokoh ayah merupakan tokoh yang maskulin, dia melihat keharusan laki-laki untuk bermain di luar, tidak boleh menggemari bunga, laki-laki harus berani kotor, dan bekerja keras.
Pandang ini mencerminkan sifat maskulinitas yang ada pada laki-laki, menurutnya sifat-sifat tersebut harus ada pada laki-laki, dan menjadi pertanda kebanggaan dan kebahagiaan laki-laki yang sebenarnya. Tokoh ayah juga mencerminkan realita pada seseorang yang memiliki idealisme kuat, memandang kehidupan berdasarkan realita yang terjadi serta realistis dalam berpikir.
