Perempuan dan Pendidikan

Mahasiswi ITB Ahmad Dahlan Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Lely Badriyatul Hasanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketidakadilan gender menjadi salah satu penyebab hingga saat ini, yang membuat kesempatan antara perempuan dan laki-laki dalam mengenyam pendidikan tidak sama. Perempuan menjadi ibu rumah tangga dan laki-laki menjadi kepala rumah tangga, perempuan didapur sementara laki-laki diladang.
Gender sendiri bukan sesuatu yang tidak bisa diubah karena merupakan hasil kontruksi masyarakat berdasarkan peran sosial laki-laki dan perempuan. Gender berbeda dengan orang-orang biologis yang tidak dapat diubah, dimana perempuan melahirkan sedangkan laki-laki tidak. Kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam mengenyam pendidikan menjadi suatu yang amat penting bukan saja untuk mengubah nasib perempuan tetapi juga sebagai alat untuk memperjuangkkan persamaan derajat antara laki laki dan perempuan.
Perempuan memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam keluarga dan masyarakat. Sayangnya, banyak yang tidak memainkan peran dan fungsinya dengan baik karena faktor kemiskinan dan salah satu penyebab kemiskinan adalah rendahnya tingkat pendidikan bagi perempuan. Diera emansipasi saat ini masih banyak yang mendeskriminasi tentang pendidikan bagi perempuan, itu disebabkan karena minimnya pengetahuan sehingga menganggap bahwa pendidikan bagi perempuan sangat amat tidak penting. Padahal jika perempuan memiliki pendidikan yang tinggi maka juga akan memiliki pengetahuan yang cukup luas dan memiliki peran secara mikro dalam keluarga akan tinggi sehingga peran sosial perempuan dalam masyarakat juga cukup tinggi. Melalui pendidikan perempuan bisa meningkatkan kemampuannya sehingga memiliki derajat yang sama dengan laki-laki.
Pendidikan dalam hal ini berperan bukan hanya sebatas alat untuk meningkatkan kemampuan perempuan, tetapi sekaligus alat mentransformasi pemikiran masyarakat. Pendidikan adalah hak setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, dengan demikian seharusnya tidak ada alasan untuk mendeskriminasi atau menelantarkan pendidikan kaum perempuan. Ini berarti perempuan bisa belajar dibidang apa saja.
Jika ditelusuri ada beberapa faktor penyebab ketimpangan pendidikan diindonesia diantaranya masyarakat masih berpandangan male oriented atau lebih mengutamakan pendidikan terhadap laki-laki daripada perempuan. Male oriented juga berkaitan dengan budaya yang sangat melekat kuat dengan anggapan bahwa perempuan tidak sepantasnya berpendidikan tinggi karena nantinya akan kedapur, persepsi seperti ini tidak diluruskan dan tidak disadari bahwa sesungguhnya peran didapurpun perlu ilmu dan pengetahuan.
Perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam hal pendidikan, bahkan pendidikan pertama yang diberikan kepada seorang anak adalah dari seorang ibu. Ibu memiliki andil yang cukup besar dalam pengembangan potensi anak, bukan berarti tugas mendidik hanya diberikan kepada ibu saja tapi ayah juga berpengaruh dalam proses pendidikan anak, namun tidak seontetik seorang ibu, karena ibu memiliki keterikatan batin yang cukup kuat dengan anak. Sistem pendidikan jika tak menyertakan perempuan maka itu bukan esensi pendidikan, karena pendidikan adalah bagaimana menciptakan yang humanis, karena dengan mengaliensi perempuan dari pendidikan, maka sama halnya dengan menggelengkan kebodohan untuk dominasi kekuasaan pada segelintir makhluk.
Ada sebuah pepatah mengatakan jika perempuan cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas pula. Hal tersebut dapat dimaknai bahwa pendidikan akan sangat berpengaruh dalam pola pikir berkeluarga, cara mendidik anak dan menerapkan prinsip-prinsip keadilan dikeluarga. Kartini dapat dikatakan sebagai tokoh pembaharu dibidang pendidikaan perempuan, yanng memiliki terobosan dalam mengajarkan pentingnya arti pendidikan bagi perempuan. Perjuangannya tersebut berhasil memberikan perubahan bagi perempuan menuju pemikiran yang lebih maju. Bahwa semestinya perempuan juga harus memiliki peranan penting dalam lingkungan sosial mereka. Soekarno kemudian menafsirkan perempuan dalam sepenggal kalimat “perempuan itu tiang negri”, dalam konteks kalimat dari soekarno tersebut, maka seharusnya perempuan sadar akan posisinya untuk mencetak peradaban bangsa yang berkemajuan. Sedangkan alat untuk menjalankanya ialah pendidikan, jika perempuan mendapatkan pendidikan yang baik, maka jangan heran jika sebuah negara atau institusi dimana perempuan itu berpijak akan mengangkat martabat bangsa.
