Pencarian populer

Sportswear, Athleisure: Belum Tergarap Mode dan Garmen Indonesia

ilustrasi olahraga (Foto: dok.Thinstock)

Amerika Serikat, dekade 1990-an. Supermodel Christy Turlington yang juga yogini kelas berat bekerjasama dengan Puma untuk mendirikan Nuala, label busana yoga yang bisa dikenakan sehari-hari. Nuala diliput luas oleh media, namun karena gaya berpakaian saat itu masih belum terlalu rileks dan harganya dianggap tinggi untuk busana santai, Nuala tidak bertahan lama.

Betapa dunia mode dan industri ritel pakaian, baik di dunia maupun Indonesia, telah berubah sekarang.

Pertama, merajanya pakaian modis berharga murah dalam putaran siklus pendek (4-6 minggu) yang disebut fast fashion. Ditawarkan oleh H&M, Topshop, Zara, Primark, dan sejenisnya, fast fashion dikecam pedas karena selain meningkatkan konsumerisme, pola produksinya lebih cepat menggerus sumber daya dan meninggalkan limbah. Di lapangan, fast fashion mencaplok pangsa, dan sering mematikan, pakaian berharga menengah.

Kedua, pola kehidupan urban yang mendominasi. Statistika Indonesia sendiri menunjukkan bahwa pada 2017 sudah 55% penduduk Indonesia yang hidup di perkotaan. Mobilitas tinggi dan kesadaran berolahraga masyarakar urban mendorong kebutuhan atas pakaian olahraga dan melahirkan kategori athleisure, di mana pakaian olahraga didesain sedemikian modisnya sehingga bisa juga dipakai bersantai dan bepergian.

Lini Pakaian Olahraga Khloe Kardashian. (Foto: Instagram/@goodamerican)

Juicy Couture menguasai kategori ini di Amerika Serikat pada awal 2000-an, dan Lululemon, yang memulai bisnis sebagai penjual celana yoga premium termasuk label Nuala, akhirnya mulai mendesain sendiri dan menjadi market leader kategori sekarang.

Di pasar internasional, merek-merek dunia sudah menyadari potensi pasar wanita penggemar olahraga dan wanita urban pemakai athleisure, dan menggarap ceruk pasar ini dengan serius. Menurut data Euromonitor Internasional tahun 2016, total pasar produk kebugaran bernilai USD 732 miliar dengan harapan tumbuh 17% dalam waktu 5 tahun.

Kategori wanita hanya 23% dari total penjualan global Adidas 2016, namun Adidas menargetkannya naik ke 28% pada 2020. Nike, yang mencanangkan total penjualan global USD 50 miliar pada tahun 2020, yakin USD 11 miliar akan disumbangkan kategori wanita yang pertumbuhan pertahunnya telah melampaui kategori pria pada 2016.

Tren yang sama telah merambah Indonesia, sebagaimana diakui importir pakaian olahraga asing. Mengingat bisnis ritel pakaian di Indonesia secara umum cenderung lesu 2-3 tahun terakhir ini, ditandai dengan tutupnya berbagai toko dan butik, sudah pasti ceruk pakaian olahraga wanita ini akan disasar dengan serius demi mengejar pertumbuhan ritel domestik.

Sayangnya, peluang ini belum dimanfaatkan oleh label pakaian lokal, apalagi desainer mode Indonesia. Label pakaian lokal masih berkubang di kategori casual dan berlomba menurunkan harga demi melawan fast fashion asing, sedangkan desainer Indonesia enggan keluar dari kenyamanan mendesain busana glamor atau edgy untuk sebagian kecil masyarakat Indonesia.

Pada saat yoga mulai marak di Ubud dekade lalu, beberapa pengusaha setempat mulai membuka usaha garmen dengan mencontoh yogawear dari majalah atau katalog asing. Ada yang sempat sukses mengekspor, namun keterbatasan ilmu teknis membuat label-label kecil Bali ini sulit mengejar saat label asing seperti Lorna Jane dan Brasil Fit mengeluarkan celana yang bukan sekedar elastis, namun juga memiliki lapisan penyangga bokong dan control top untuk perut.

Adidas - All Me Wanderlust Bra (Foto: Adidas)

Apalagi kalau sudah bicara komponen terpenting dalam busana olahraga wanita, sportsbra. Wanita yang tak mementingkan penampilan di pusat kebugaran pun biasanya cukup peduli untuk membeli bra olahraga bagus demi menjaga payudaranya dalam jangka panjang. Di sini, nyaris tidak ada label lokal yang memproduksi sportsbra yang berkualitas, apalagi yang berdesain indah.

Padahal, ada potensi kemampuan produksi untuk skala komersialisasi besar. Walau desainnya masih utilitarian, pada akhir 1980-an garmen Bandung sudah menghasilkan Elvana, merk pakaian olahraga milik mantan jawara bulutangkis Ivana Lie. Bahkan, selama 1990-an dan awal 2000-an, garmen Indonesia berperan besar dalam memproduksi merek internasional seperti Wacoal dan Victoria's Secret.

Potensi kreativitas desain pun sebenarnya tidak miskin dengan begitu banyaknya talenta, baik yang telah sukses atau yang lulus tiap tahun dari sekolah-sekolah mode Indonesia.

Yang belum ada hanya kegesitan untuk memasuki ceruk yang sedang berkembang sehat ini. Seolah-olah pengusaha pakaian atau desainer mode Indonesia tidak mengambil pelajaran dari Eiger, merk lokal perlengkapan dan busana outdoor yang jeli mengamati tren tamasya petualangan dan cepat bergerak menguasai pasar domestik, menjegal Columbia, Timberland, dan merek-merek asing lainnya menguasai Indonesia.

Nuala dan Christy Turlington memang terlalu dini untuk masanya. Tapi saat ini talenta mode and industri pakaian Indonesia, bila tak segera bergerak, akan terlambat untuk sportswear, athleisure, dan bisnis besar yang dihasilkannya.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: