Kumplus- Cover Fiksi Mahfud Ikhwan chapter 10
18 April 2021 14:56

Aku Ingin Menjadi Bek (10)

AKU INGIN MENJADI BEK

Oleh: Ahmad Isnani Anshori

Aku Isnan. Aku seorang bek. Jika Tuhan tidak berkehendak lain, aku akan tetap menjadi bek. Insyaallah.

Aku menyukai sepak bola. Hampir semua hal berkait sepak bola aku suka. Aku suka memainkannya. Aku juga suka menontonnya. Terlalu suka malah, kalau kata ibuku. Sebelum listrik masuk ke desaku dan televisi sebanyak sekarang, aku gemar mendengarkan siaran pandangan mata sepak bola dari RRI Surabaya. Aku juga suka membaca apa pun berkait sepak bola. Berita sepak bola, riwayat hidup pemain, profil klub, sejarah Piala Dunia, semua aku suka. Aku bahkan menyukai TTS sepak bola.

Aku beberapa kali membeli tabloid sepak bola bekas di Kios Koran Haji Yasin agar aku bisa membacanya berlama-lama, menggunting gambar pemainnya, dan menempelkannya di dinding lemari pakaian di kamar kosku. Jika ada yang membuka lemari pakaianku tanpa izin, gambar Gioseppe Bergomi, Paolo Montero, dan Tomas Repka akan menghadangnya. Hati-hati, jangan main-main, mereka bek yang garang.

Sayang sekali, aku justru tak punya poster Trifon Ivanov, bek favoritku. Tak ada tabloid yang pernah memuat posternya. Fotonya di koran juga jarang. Kalau ada, biasanya kecil. Padahal, poster kawan setimnya seperti Hristo Stoichkov dan Emil Kostadinov mudah didapat. Keduanya striker. Striker memang selalu lebih mudah jadi gambar poster. Mereka beruntung.

Karena tak punya gambarnya, aku tuliskan nama Ivanov di tas sekolahku. Awalnya dengan spidol Snowman. Tapi karena luntur kena hujan, aku tuliskan ulang namanya dengan tipe-x Kenko. Alhamdulillah, masih bertahan sampai sekarang. Begitulah seharusnya seorang bek hebat. Ia tangguh. Ia awet. Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan, demikian kata pepatah.

Aku ingin seperti bek-bek itu. Aku ingin menjadi salah satu dari mereka. Aku mungkin tak bisa segarang mereka, karena itu bukan sifat bawaanku. Tapi aku akan tangguh seperti mereka. Aku ingin setangguh nama Trifon Ivanov yang tertulis dengan tipe-x di tas sekolahku.

Ingin jadi bek mungkin terdengar aneh. Sebab kebanyakan anak yang menyukai sepak bola ingin menjadi striker. Sebuah tulisan di tabloid sepak bola yang aku baca baru-baru ini malah menyatakan, 4 dari 5 anak yang senang sepak bola ingin menjadi striker saat mulai bermain bola. Tak apa. Itu terserah mereka.

Kenapa aku ingin jadi bek? Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya. Apakah setiap keinginan memang harus dijelaskan? Aku bisa saja mengarangnya, tapi tentu saja itu bukan jawaban sesungguhnya. Sejujurnya aku memang tak tahu.

Alangkah mudahnya jika aku seperti teman-temanku yang ingin menjadi dokter atau tentara. Mereka tidak perlu berbelit-belit menjelaskan alasannya. Semua orang ingin jadi dokter dan tentara, dan menyatakan alasannya. Mereka tinggal mengulang. Aku hafal alasan untuk jadi dokter dan tentara, tapi aku ingin jadi bek.

Begitulah, tak ada seorang pun yang mengajarkan kepadaku apa alasan yang tepat mengapa aku ingin menjadi bek. Aku beberapa kali membaca wawancara bek-bek terkenal seperti Paolo Maldini atau Tony Adams, tapi aku tak pernah menemukan alasan kenapa mereka jadi seorang bek. Apakah karena mereka tegap dan tampan? Aku tidak tahu. Trifon Ivanov bahkan tak pernah bicara apa-apa soal itu. Ia jarang diwawancara. Apakah karena tidak ada wartawan yang mengerti bahasa Bulgaria? Kalau aku bisa bicara bahasa Bulgaria, aku ingin mewawancarainya.

Jika aku bertanya kepada Mas Jabal, bek senior kesebelasan desaku, boleh jadi aku malah akan dibentaknya. “Jadi bek tak usah banyak tanya!” pasti begitu ia akan bilang.

Tapi jika dipaksa menjelaskan kenapa aku ingin menjadi bek, aku akan bilang begini saja: aku hanya cocok untuk menjadi bek, bukan lainnya.

Aku tak cocok menjadi striker. Striker harus lebih mementingkan diri sendiri. Padahal aku tak suka diriku tampak lebih penting dari orang lain. Striker mesti pandai memanfaatkan kesalahan lawan, aku tak suka melihat orang lain berbuat salah. Striker berada di baris paling depan, aku lebih senang ada di belakang. Striker harus menyulitkan kiper, sementara aku ingin agar kiper bekerja semudah mungkin. Striker mencetak gol, padahal aku ingin mencegahnya. Tentu saja aku ikut senang jika striker yang setim denganku mencetak gol, tapi yang paling membuatku bahagia adalah saat kiperku tak kebobolan.

Tanpa mengurangi rasa hormatku, aku juga kurang cocok jadi playmaker. Kebanyakan playmaker adalah pemain dengan kemampuan terbaik di tim, itu harus diakui. Sebutlah Hagi, Valderama, Boban, Prosinecki, Zidane, Fachry Husaini, hingga Salim, temanku setim. Playmaker adalah pemain terpenting di tim, siapa pun tak akan membantah. Tapi karena semua orang menganggap playmaker penting, mereka akhirnya ikut-ikutan menganggap diri mereka paling penting. Kadang, jadi yang terpenting pun tak cukup. Mereka ingin menjadi satu-satunya yang penting.

Aku tak ingin menjadi playmaker. Mungkin karena aku memang tak punya kemampuan cukup. Tapi aku memang tak mau menjadi pusat sebuah tim. Menjadi pusat dari tim memang menarik, tapi biarlah itu diambil orang lain saja. Aku ingin menjadi penting tanpa membuat orang lain merasa kurang penting. Aku penting, pemain lain juga penting.

Tidak seperti playmaker yang biasanya cuma satu dalam sebuah tim, bek bisa lebih dari satu. Dalam setiap tim, paling tidak ada tiga bek. Bisa juga empat, bahkan lima, tergantung strategi. Aku suka dengan hal itu. Karena itulah aku suka bek.

Dari semua jenis bek, bek kiri adalah posisi kesukaanku. Itu karena kaki kiriku lebih kuat dari yang kanan. Kalau digeser menjadi bek tengah atau bek kanan juga bukan soal. Kaki kananku tak buruk-buruk amat. Tapi, dengan tegas aku akan katakan tidak untuk libero dan bek sayap.

Menurut tulisan yang kubaca, libero pertama kali disebut oleh wartawan Italia bernama Gianni Brera pada tahun ’60-an. Dalam bahasa Italia, libero berarti “bebas”. Disebutkan, libero adalah bek yang memainkan peran lebih dari sekadar bek. Jika tugas utama bek adalah bertahan, libero mesti bertahan dan menyusun serangan. Libero berada agak sedikit di depan bek. Franz Beckenbeuer, legenda Jerman Barat, disebut sebagai orang terbaik yang pernah bermain di posisi ini.

Menurutku ini posisi yang sedikit membingungkan. Coba pikir: “bek yang memainkan peran lebih dari bek”? Tapi begitulah yang pernah aku baca. Untungnya, posisi libero sudah lenyap dari taktik sepak bola masa kini. Kalau aku boleh berpendapat, libero memang sebaiknya tidak lagi ada dalam taktik sepak bola. Dalam pandanganku, kenapa posisi libero tidak bertahan lama dalam sepak bola, boleh jadi karena hanya Beckenbeuer saja yang bisa melakukannya. Orang lain tak bisa menirunya.

Kini bek sayap yang jadi perbincangan. Mungkin karena sekarang gaya bermain 4-4-2 menjadi taktik paling banyak dipakai tim-tim di seluruh dunia. Apalagi setelah munculnya nama Roberto Carlos dari Brazil. Orang menyukai cara bermain Carlos. Membawa bola ke depan dari tepi garis lapangan, masuk ke kotak penalti lawan, kemudian hantam.

Carlos pesepakbola yang baik, tentu saja. Tapi, mudah bagiku untuk bilang, ia bukan bek yang baik. Maka, tak usah cari gambarnya di lemariku.

Orang yang tahunya hanya gol mungkin akan menyukainya. Orang memujanya karena membuat gol tendangan bebas melengkung ke gawang Barthez. Ah, itu gol kebetulan. Coba minta dia mengulangi bikin gol seperti itu lagi, mana bisa! Lagipula, bagaimana bisa seorang bek dibicarakan karena golnya? Aneh. Kalau mau bicara Carlos sebagai bek, mari bicarakan apa yang dilakukannya sehingga Brian Laudrup dari Denmark mencetak gol penyeimbang ke gawang Brazil pada Piala Dunia 1998 yang lalu.

Apa pelajaran yang bisa dipetik dari kesalahan Carlos? Jadilah diri sendiri. Bek sayap seperti Carlos adalah gambaran manusia yang ingin menjadi orang lain. Ia ingin menjadi playmaker yang bisa mengirim umpan yang jadi gol. Ia ingin jadi striker yang bisa mencetak gol. Khusus Carlos, ia bahkan ingin melakukan gerakan akrobat. Ia mau penonton bertepuk tangan untuknya karena bisa melakukan apa biasa dilakukan striker seperti Romario atau Widodo C. Putra. Jika aku rekan setim atau pelatihnya, ia akan kutampar.

(Karena melantur terlalu jauh, terutama kecaman yang berlebihan terhadap Carlos, termasuk di dalamnya ada petikan ayat Al-Qur’an tentang ancaman bagi orang yang mengingkari nikmat dan hadis tentang bahaya sifat iri dan dengki, pada bagian ini pemotongan paragraf terpaksa dilakukan.)

Sebab itulah, aku tak tertarik menjadi bek sayap. Melihat kesalahan yang dilakukan Carlos, aku bahkan membencinya. Satu-satunya bek sayap yang kusukai adalah Agung, temanku.

Kiper sebenarnya posisi yang paling dekat dengan bek. Beberapa sifat yang mesti dimiliki kiper rasanya kumiliki juga. Yang berbeda, apabila bek bertahan untuk kiper, kiper bertahan untuk dirinya sendiri. Tapi itu perbedaan yang sepele. Lagipula, bukankah gawang yang dijaga kiper bukanlah gawangnya sendiri, melainkan gawang tim? Artinya, kiper tak bekerja untuk dirinya sendiri. Itu persis sifat seorang bek.

Jika hanya mempertimbangkan perbedaan seperti itu, aku sebenarnya tak akan keberatan menjadi kiper. Sayang, kiper mesti melakukan tugasnya dengan cara yang sangat tidak ingin kulakukan dalam sepak bola, yaitu bermain dengan tangan. Menurutku itu konyol. Sepak bola adalah olahraga dengan kaki, sebab itulah ia dinamakan sepak bola, atau bola kaki, atau bahasa Inggrisnya football. Kalau mau main bola dengan tangan, bermainlah bola basket.

Ya, kurasa itu bentuk pengorbanan seorang kiper. Ia rela bermain dengan cara konyol demi kepentingan tim. Aku menghargai itu. Aku bahkan menyayangi mereka. Tak ada yang lebih kusayangi melebihi kiper. Tapi maaf, aku tak ingin bermain sepak bola dengan tangan.

Maka, aku ingin menjadi bek.

Demikianlah karangan itu.
Tak usah memberitahuku bahwa teori tentang “sifat” bek pada karangan di atas banyak celah, goyah, dan sangat mudah dibantah. Tak perlu disebut-sebut juga nada deterministiknya yang konyol dan kekanak-kanakan. Memang apa yang bisa diharapkan dari remaja enam belas tahun yang masih dirasuki bocah gila bola berusia enam tahun dalam dirinya? Lagipula, demikianlah tugas yang dibebankan: karangan bersifat argumentatif. Begitulah penangkapanku saat itu.

Hanya 20 ribu sebulan,
dapatkan ratusan konten premium kumparan+
Langganan Sekarang