kumplus mahfud ikhwan bek 26

Buruk dan Sia-sia (26)

Novelis yang mencintai sepak bola dan film India. Pemenang pertama Sayembara Novel DKJ 2014 dan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Ia menulis novel Ulid; Kambing dan Hujan; Dawuk. Novel terbarunya adalah Anwar Tohari Mencari Mati (Marjin Kiri, 2021).
8 Agustus 2021 18:23
·
waktu baca 10 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
“Bayar sewa kamar dan biaya makanmu. Kamu tak numpang di rumah itu. Kamu sewa!” sergah kakakku di telepon, ketika kuceritakan apa yang terjadi di rumah Keluarga Soleh dan bertanya apa yang mesti kulakukan.
Tapi aku bahkan tak tahu berapa aku harus membayar. Aku tak pernah bertanya sebelumnya, dan setelah sebulan di sana aku merasa tak enak jika baru menanyakannya. Aku dikatai bodoh oleh kakakku karena itu. Ya, aku jelas bodoh.
Aku bertanya kepada Mas Sun’an, barangkali ia tahu. Ia menggeleng, sekaligus menyayangkan kenapa aku tak bertanya sebelum memutuskan tinggal. Aku lalu bertanya kepada seorang teman sekolah yang tinggal di pesantren berapa ia bayar SPP dan makan selama sebulan di pondok, dan dari situ kukira-kira uang yang sepadan dengan biaya kamar dan makanku selama sebulan di Keluarga Soleh. Ketika angka itu kumintakan pertimbangan Mas Sun’an, ia bilang aku harusnya bisa bayar lebih rendah, apalagi ia lihat aku banyak membantu pekerjaan mereka. Tapi karena khawatir kurang, aku berpikir untuk memberi lebih. Toh, kalau kebanyakan pasti dikembalikan, pikirku.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparan+
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparan+
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Konten Premium kumparan+
Isnan, tokoh utama novel Mahfud Ikhwan ini, pulang ke desanya dan mendapati semua telah berubah, termasuk sepak bola yang dicintainya. Ikuti babak demi babak yang terbit tiap akhir pekan. Klik ceritanya pada daftar konten.