kumplus- Cover story fiksi Mahfud Ikhwan
2 Mei 2021 19:10

Laki-Laki Tertua di Rumah (12)

Aku sedikit tahu tentang seorang bocah yang mesti menerima tanggung jawab yang belum waktunya dan kesulitan-kesulitan yang mesti dihadapinya. Bocah itu adalah kakakku. Tak sulit untuk tahu dan merasakan betapa berat beban yang mesti ditanggungnya. Aku mengingat ledakan-ledakan amarah Emak kepada kakakku, yang sebagian tak sepenuhnya adil; kakakku berhati lembut, dan ia masih kedapatan menangis bahkan di usia yang tak sepatutnya menangis, tapi aku tahu sebagian besar tangisnya bukan karena ia cengeng, melainkan karena ia begitu putusasa menghadapi hal-hal yang belum seharusnya dihadapinya. Kini, urutan itu telah jatuh kepadaku, di usia yang jauh lebih muda, berjarak hanya beberapa bulan saja dari upacara khitananku.
Aku sebenarnya telah memikirkan soal menjadi laki-laki tertua di rumah sejak Bapak berangkat. Tapi, ketika hal itu benar-benar tiba, rasanya aku tetap tak siap. Lagipula, waktunya memang terlalu cepat dari yang kuperkirakan. Bagaimana kalau begini, bagaimana kalau begitu, dan setumpuk bagaimana kalau lainnya langsung menimbuniku.
Seminggu berlalu, kakakku tak terlihat kembali pulang—seperti yang kuduga. Lalu seminggu menjadi sebulan. Maka, doa buruk yang gagal itu mulai berubah menjadi kecemasan. Sebagai usaha terakhir, aku mencoba menghibur diri. Kakakku toh tidak di Malaysia sebagaimana Bapak, hanya berada di Pasisiran, satu setengah jam saja naik ojek motor dari Lerok. Tak seperti Bapak yang baru pulang paling cepat dua tahun sekali, dua minggu ke depan kakakku pasti pulang. Artinya, pada kenyataannya, aku tak akan sepenuhnya menjadi lelaki tertua di rumah; hanya hari-hari tertentu saja.

Hanya 20 ribu sebulan,
dapatkan ratusan konten premium kumparan+
Langganan Sekarang