bek kumplus mahfud ikhwan 25
1 Agustus 2021 16:25
·
waktu baca 10 menit

Sepak Bola yang Memulai, Sepak Bola Juga yang Mengakhiri (25)

Dalam enam tahun, Italia kalah untuk kedua kalinya di final turnamen besar. Lagi-lagi dengan cara menyesakkan. Kali ini dari Prancis, lewat gol emas Trezeguet di perpanjangan waktu.
Setelah membuat pilihan yang sulit dijelaskan dua tahun sebelumnya, aku menjadi pendukung Italia yang penuh perasaan, terutama karena banyaknya pemain Juventus di sana—betapa bangganya aku melihat Iuliano dan Pessotto tetap mendapat tempat di lini belakang Italia bersama Maldini dan Nesta dan Cannavaro yang sedang hebat-hebatnya dalam formasi lima bek ala Zoff, sebagaimana aku hampir menangis haru melihat Conte mencetak golnya yang langka, dengan tendangan salto pula, di pertandingan pertama. Bagaimanapun, di luar dua peluang bersih yang disia-siakan Alex Del Piero, Prancis memang lebih berhak juara, dan aku bisa dengan lega menerimanya.
Yang lebih menyesakkan adalah kekalahan Perserok di kompetisi sepak bola Agustusan kecamatan tahun itu. Kami lagi-lagi kalah di pertandingan pertama, kali ini dari tim yang tak terlalu bagus. Kami bertahan sangat baik hingga menjelang akhir pertandingan dan kemungkinan bisa memaksakan adu penalti, dan kami sangat mungkin bisa lolos ke babak berikutnya, sampai Kacung yang ikut turun bertahan melanggar pemain lawan dan kami dihukum penalti, dan gol, dan kami kebobolan lagi persis sebelum peluit panjang berbunyi.
Keuntungan berlangganan kumparan+
  • Ratusan konten premium dari pakar dan kreator terbaik Indonesia
  • Bahasan mendalam dengan kemasan memikat
  • Pengetahuan, hiburan, dan panduan yang solutif untuk hidupmu