bek 31 kumplus dian intan

Ujung Sebuah Cita-Cita (31)

Novelis yang mencintai sepak bola dan film India. Pemenang pertama Sayembara Novel DKJ 2014 dan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Ia menulis novel Ulid; Kambing dan Hujan; Dawuk. Novel terbarunya adalah Anwar Tohari Mencari Mati (Marjin Kiri, 2021).
12 September 2021 18:56
·
waktu baca 10 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Aku tidak ada di pertandingan final itu meskipun sangat berhak; tidak juga menyaksikannya dari tepi lapangan sebagai pemain cadangan yang gelisah; bahkan tidak menjadi penonton yang penuh rasa dengki ingin melihat tim sendiri kalah. Aku bahkan butuh waktu untuk tahu soal final itu lebih detail setelah mengumpulkan cerita sepotong demi sepotong, sebagaimana aku butuh waktu untuk terus mengatasi rasa marahku atas pertandingan final yang dirampas dari kami itu.
Ya, aku sangat marah malam itu—malam sebelum final, ketika kami diundang ke rumah Ilham untuk rapat tim, dan kemudian mengetahui, dan tak bisa berbuat-apa selain memaki “Tai!” dan ngeloyor pergi, ketika tim kami diambil pihak lain di depan mata-kepala kami sendiri. Dan aku masih tetap marah hingga waktu yang lama. Dan semakin marah ketika tahu apa akibat yang kusimpulkan timbul dari peristiwa malam itu. Dan kemarahanku tak padam bahkan ketika akhirnya tahu bahwa segala upaya yang dilakukan Khozin, dan semua uang yang dikeluarkannya, tak punya dampak apa-apa pada pencalonan anaknya satu setengah tahun kemudian: Ilham kalah telak dan ditertawakan orang sabagaimana dulu bapaknya ditertawakan orang setelah membawa Tambakrejo Putra ke Lerok dan kalah. Bahkan setelah belasan tahun berlalu, ketika aku tersambung lagi dengan Muslim, dan tertawa-tawa setiap membicarakan final itu di telepon, dan tertawa-tawa membicarakannya lagi ketika ia datang ke rumahku malam ini, aku masih bisa merasakan gemuruh amarah di dalam dadaku.
Aku tahu final itu melukai kami semua dengan cara yang berbeda-beda. Tapi, sebagaimana soal siapa anak Lerok paling menderita karena ditinggal merantau kedua orangtuanya, aku akan selalu bilang akulah orang yang paling terluka.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparan+
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparan+
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Konten Premium kumparan+
Isnan, tokoh utama novel Mahfud Ikhwan ini, pulang ke desanya dan mendapati semua telah berubah, termasuk sepak bola yang dicintainya. Ikuti babak demi babak yang terbit tiap akhir pekan. Klik ceritanya pada daftar konten.